Interprofessional Education Bukan Hanya Belajar Bersama, tetapi Tentang Bertahan Bersama
Eddy Fitriadi May 06, 2026 01:03 AM

 

Oleh:
Ns Narawidya Safputri, S.Kep, Mahasiswa Magister Keperawatan USK

SERAMBINEWS.COM - Retensi tenaga kesehatan tidak semata-mata ditentukan oleh gaji atau insentif, tetapi juga oleh sejauh mana mereka merasa dihargai, didukung, dan mampu bekerja dalam tim yang sehat dan kolaboratif. 

Saat ini, tenaga kesehatan menghadapi beban kerja yang semakin tinggi seiring dengan meningkatnya jumlah pasien, sementara ketersediaan tenaga kesehatan sering kali terbatas. 

Dalam praktik di lapangan, perawat harus menangani banyak pasien dalam satu shift, dokter dituntut mengambil keputusan secara cepat dan tepat, apoteker bertanggung jawab menjamin keamanan serta ketepatan terapi obat, dan tenaga kesehatan lainnya pun menghadapi tekanan kerja yang tidak ringan.

Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks misalnya di ruang perawatan intensif, di mana pasien membutuhkan pemantauan selama 24 jam, tindakan yang cepat dan akurat, penggunaan alat medis khusus, serta koordinasi tim yang sangat ketat. 

Dalam situasi kritis, perawat harus memantau tanda-tanda vital pasien secara kontinu, dokter melakukan evaluasi dan menentukan tindakan medis, apoteker memastikan ketepatan terapi obat, ahli gizi mengatur kebutuhan nutrisi, serta fisioterapis membantu proses mobilisasi pasien.

Bayangkan jika setiap profesi bekerja secara terpisah tanpa koordinasi dan komunikasi yang baik. Risiko miskomunikasi akan meningkat, potensi konflik antar tenaga kesehatan tidak terhindarkan, serta dapat menyebabkan keterlambatan tindakan. 

Dalam jangka panjang, kondisi ini berkontribusi terhadap meningkatnya burnout. Tenaga kesehatan menjadi mudah lelah, merasa kurang dihargai, dan pada akhirnya memilih untuk berpindah atau meninggalkan pekerjaannya. Akibatnya, kekurangan tenaga kesehatan akan terus berulang dan membentuk siklus yang sulit diputus apabila tidak didukung oleh kerja sama tim yang efektif.

Salah satu strategi yang mulai dikembangkan untuk menjawab permasalahan ini adalah pendekatan Interprofessional Education (IPE), yaitu proses pembelajaran dan praktik kolaboratif antarprofesi kesehatan, seperti perawat, dokter, apoteker, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya. 

Melalui pendekatan ini, setiap profesi dapat memahami peran dan tanggung jawab masing-masing, meningkatkan komunikasi dan koordinasi, membangun rasa saling menghargai, serta meminimalkan konflik antarprofesi.

Ketika kolaborasi tim berjalan dengan baik, beban kerja akan terasa lebih ringan karena tanggung jawab dapat dibagi secara proporsional. Tenaga kesehatan tidak lagi merasa bekerja sendiri. Hal ini berkontribusi pada penurunan tingkat burnout, peningkatan kepuasan kerja, serta memperkuat keinginan untuk bertahan di tempat kerja.

Dengan demikian, Interprofessional Education tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas pelayanan pasien, tetapi juga menjadi strategi penting dalam mendukung retensi tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. 

Membangun tim yang solid merupakan investasi jangka panjang, karena tenaga kesehatan yang merasa didukung akan lebih loyal, lebih produktif, dan memiliki komitmen yang lebih kuat untuk tetap bertahan.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.