Nasib Pilu IRT di Binjai, Suami Meninggal di Kamboja Usai Kesulitan Cari Nafkah di Negeri Sendiri
Eri Ariyanto May 06, 2026 06:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kisah pilu datang dari seorang ibu rumah tangga (IRT) di Binjai yang harus menelan kenyataan pahit kehilangan suami tercinta.

Sang suami diketahui meninggal dunia di Kamboja setelah berjuang mencari nafkah di negeri orang.

Keputusan merantau itu diambil karena sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak di tanah air.

Harapan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga justru berujung tragedi yang tak terduga.

Kabar duka tersebut datang tiba-tiba, menghancurkan harapan dan meninggalkan luka mendalam bagi keluarga.

Kini, sang istri harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tulang punggung keluarga seorang diri.

Selain berduka, ia juga dihantui berbagai kesulitan, mulai dari ekonomi hingga kepastian pemulangan jenazah.

Kisah ini menjadi potret getir perjuangan warga yang terpaksa mengadu nasib ke luar negeri demi bertahan hidup.

Di balik mimpi mencari kesejahteraan, tersimpan risiko besar yang kadang berujung kehilangan yang tak tergantikan.

Baca juga: Nasib Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Sebut Tak Mau Anaknya Jadi WNI, Suami Terancam Dapat Sanksi

Seperti diketahui, Kiki Tresia, ibu rumah tangga asal Kota Binjai, Sumatera Utara, harus menelan pil pahit setelah suaminya, Rasdy Fauzi (39), meninggal dunia saat bekerja di Kamboja.

Kabar duka itu diterima Kiki pada Minggu (3/5/2026) dini hari dari keluarga, yang dihubungi rekan kerja suaminya.

“Kata temannya, suami stress karena bonusnya itu dilarikan orang. Tiga hari dia gak makan. Cuma minum kopi dan merokok. Jadi dia mungkin asam lambung, jatuh pingsan langsung meninggal,” ungkap Kiki saat ditemui di rumahnya, Selasa (5/5/2026).

Terdesak ekonomi, nekat kerja ke luar negeri

Rasdy sebelumnya mengalami kesulitan ekonomi setelah kontraknya sebagai sales di PT Mayora berakhir pada akhir 2024.

“Setelah putus kontrak, dia cari kerja. Tapi selama tiga bulanan enggak dapat-dapat,” kata Kiki.

Kondisi tersebut membuat Rasdy menerima tawaran bekerja di perusahaan scam di Kamboja dengan gaji sekitar 300 dollar AS per bulan atau sekitar Rp 5 jutaan.

Meski sempat ditolak keluarga karena berisiko, Rasdy tetap berangkat pada 28 Februari 2025 melalui Bandara Kualanamu demi memenuhi kebutuhan hidup.

WNI TEWAS DI KAMBOJA - Kiki Tresi (30) saat ditemui di kediamannya, di Jalan Nenas, Kecamatan Binjai Barat, pada Selasa (5/5/2026).(KOMPAS.com/GOKLAS WISELY ) (KOMPAS.com)

Pilih bertahan demi bonus

Di Kamboja, Rasdy tinggal di mess perusahaan di Poipet, wilayah perbatasan dengan Thailand, dan rutin mengirimkan sebagian gajinya untuk Kiki yang menderita diabetes.

Pada pertengahan April 2026, perusahaan tempatnya bekerja dirazia dan kontraknya dihentikan. Ia diminta segera kembali ke Indonesia.

Namun Rasdy memilih bertahan karena menunggu bonus sekitar Rp 20 juta hingga Rp 30 juta yang dijanjikan cair pada Mei.

“Jadi dia harusnya pulang bulan lalu. Saya sudah bilang pulang aja. Tapi dia karena menunggu bonus itu cukup besar ditahankannya, sayang pikirnya,” ujar Kiki.

Jenazah masih di Kamboja

Hingga kini, Kiki menyebut jenazah suaminya masih berada di mess tempat tinggalnya di Kamboja.

“Kabarnya sampai sekarang jenazah suami masih di mess itu, kata teman-temannya. Padahal ini sudah jalan tiga hari,” ungkapnya.

Kiki bersama keluarga telah menghubungi KBRI untuk meminta bantuan pemulangan jenazah. Namun, prosesnya masih menunggu koordinasi dengan kepolisian setempat.

Kini, Kiki hanya berharap jenazah suaminya bisa segera dipulangkan ke Binjai agar dimakamkan. Ia ingin melihat suaminya untuk terakhir kalinya, sosok yang selama ini berjuang menghidupi keluarga di tengah kesulitan ekonomi.

(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.