TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki babak krusial setelah Iran menyampaikan sinyal yang mengejutkan terkait arah kebijakan luar negerinya.
Di tengah konflik yang belum sepenuhnya mereda, Teheran menyatakan membuka peluang untuk kembali ke meja perundingan dengan Amerika Serikat.
Langkah ini muncul setelah serangkaian komunikasi diplomatik intensif yang melibatkan berbagai negara mediator di kawasan dan Eropa.
Mengutip dari Al Jazeera, Selasa, Iran menegaskan siap menghadapi eskalasi tetapi juga terbuka untuk upaya diplomasi.
Situasi ini tidak lepas dari eskalasi konflik sebelumnya yang melibatkan serangan militer dan balasan rudal yang memperkeruh stabilitas kawasan.
Meski gencatan senjata sempat tercapai, proses negosiasi yang berjalan masih jauh dari kata final dan kerap mengalami kebuntuan.
Kini, dunia menyoroti langkah Iran yang membuka pintu dialog, tetapi tetap memasang kuda-kuda jika eskalasi kembali meledak sewaktu-waktu.
Baca juga: Pernyataan Terbaru Donald Trump, Sebut Iran Sedang Runtuh, AS Didesak Segera Buka Selat Hormuz
Seiring meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, Iran mengeklaim memiliki cara untuk mempersulit keadaan bagi Amerika Serikat (AS) jika mengancam kendali atas jalur air tersebut.
Bahkan ketika Washington menyatakan tekad untuk memecahkan kebuntuan, Teheran memberi sinyal bahwa mereka siap untuk memperjuangkannya.
Dalam pernyataan terbarunya, kepala negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa negaranya bertekad untuk mempertahankan “status quo” baru di selat tersebut.
Teheran akan tetap memperkuat kendali, meskipun Washington menganggapnya tidak dapat ditoleransi.
“Kami bahkan belum memulai,” katanya memperingatkan, dilansir CNN, Selasa (5/5/2026).
Para pejabat Iran telah menegaskan akan mempertahankan kendali atas jalur vital tersebut, dalam upaya meraih kemenangan setelah mengalami kerugian besar selama perang.
Pesan Ghalibaf menggarisbawahi seberapa jauh Iran bersedia bertindak untuk mendapatkan keuntungan.
Dikutip dari Al Jazeera, Selasa, Iran menegaskan siap menghadapi eskalasi tetapi juga terbuka untuk upaya diplomasi.
Para pejabat Iran menegaskan bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis politik. Dan menyebut AS harus waspada agar tidak terseret kembali ke dalam ketegangan di tengah upaya negosiasi.
Terlepas dari semua peningkatan ketegangan di Selat Hormuz, ada harapan bahwa gencatan senjata yang rapuh ini akan tetap bertahan.
Pakistan masih berupaya untuk mempersempit kesenjangan antara kedua pihak, dan Iran menyatakan bahwa mereka siap menghadapi segala bentuk eskalasi tetapi juga terbuka untuk diplomasi.
Iran baru-baru ini melancarkan serangan rudal dan drone di kawasan Teluk dan menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz, sambil memperingatkan AS dan Eropa tentang tindakan militer.
Serangan yang diluncurkan Teheran menghantam Fujairah dan target-target di Uni Emirat Arab (UEA).
UEA mengatakan telah mencegat 12 rudal balistik, tiga rudal jelajah, dan empat drone yang diluncurkan dari Iran pada Senin.
Di hari yang sama, militer AS mengatakan telah menghancurkan enam kapal kecil Iran, serta rudal jelajah dan drone, menurut laporan Reuters, Selasa.
Itu terjadi setelah Trump mengirim angkatan laut untuk mengawal kapal tanker yang terdampar melalui selat tersebut dalam kampanye yang ia sebut "Proyek Kebebasan".
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pasokan minyak, pupuk, dan komoditas lainnya dari seluruh dunia.
Jalur ini praktis tertutup sejak AS dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari, menyebabkan guncangan energi dan ekonomi global.
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)