Renungan Harian Katolik
Rabu, 6 Mei 2026
Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
PUTUS RELASI DENGAN TUHAN: KEHILANGAN HIDUP
(Kis. 15:1-6; Mzm. 122:1-2.3-4a.4b-5; Yoh. 15:1-8)
"Jika kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." (Yoh. 15:7)
Sumber hidup, pokok keselamatan kita adalah Tuhan. Yesus membandingkan hubungan kita dengan Dia seperti pohon dan ranting yang terlepas dari pohon tidak akan berguna lagi. Yesus pokok anggur dan kita ranting-rantingnya.
Sebagai pengikut Yesus, kita tetap menempel pada Dia sebagai pokok kita. Relasi yang intim dengan Tuhan membawa berkat besar dalam relasi harmonis dengan sesama.
Dalam kenyataan, kita amati bahwa relasi dengan sesama cukup parah. Mulai dari lingkup kecil dalam keluarga, dalam keluarga besar, dalam instansi atau tempat kerja hingga relasi dalam masyarakat luas.
Pertanyaan mendasar, mengapa relasi antar manusia semakin parah dari waktu ke waktu? Dalam kondisi relasi horizontal tak harmonis ini, apakah relasi vertikal, hububungan dengan Tuhan masih aman?
Rusaknya relasi dalam hidup manusia disebabkan oleh dosa. Dosa merusak hubungan dengan Tuhan yaitu menghancurkan prinsip utama kehidupan kita yaitu kasih. Ketika kasih kehilangan makna dalam hidup bersama, relasi antar sesama jadi hambar dan hampa.
Krisis relasi yang semakin parah ini dipicu juga oleh uang sebagai sembahan menawan dalam hidup di masa kini dan nanti.
Uang raja dunia milik setan yang menguasai manusia dalam semua lini hidupnya. Money oriented menjadi trend yang tak bisa disepelekan dalam gaya hidup sekarang dan ke depan.
Dosa dan hidup berorientasi pada uang harus dipandang serius sebagai perusak relasi baik dengan Tuhan maupun dengan sesama.
Iman akan Kristus mutlak perlu untuk keselamatan. Mengikuti Yesus sebagai pokok anggur berarti sebagai ranting kita harus bersatu dengan Dia sebagai pokok kehidupan kita. Terlepas dari Dia dengan sendirinya kehilangan kehidupan.
Sabda dan Roh berperan penting untuk kita tetap bersatu dengan pokok dan bisa berbuah berlimpah dalam cinta kasih, kesetiaan, kedamaian dan kejujuran.
Sabda Tuhan itu pedoman handal menuju hidup penuh berkat dan embun Roh mericiki pokon anggur dan rantingnya agar terus berbuah berlimpah.
Buah kejujuran merupakan puncak kemurnian hati manusia. Kejujuran menghadirkan kebahagiaan sejati.
Orang yang hidup dalam kasih yang murni, hidup bahagia, damai dan jujur dengan diri sendiri, sesama dan Tuhan.
Pusat kualitas hidup manusia ada di dalam hatinya. Hati baik, perilaku baik dan hidup pasti bermutu.
Sunat bagi bangsa Yahudi merupakan warisan tradisi yang penting. Karya pewartaan para rasul tentang Yesus Kristus yang bangkit dari antara orang mati semakin menyebar luar dan orang yang percaya datang dari pelbagai kalangan yang beraneka tradisi dan budaya.
Orang-orang Yahudi yang percaya Yesus ngontot supaya semua orang yang percaya itu disunat mengikuti tradisinya.
Perbedaan pandangan pun terjadi. Para rasul mengadakan rapat besar/ konsili di Yerusalem untuk menjaring pendapat yang tepat lalu memutuskan hal penting demi keselamatan.
Sunat sebagai tradisi hanya berguna untuk kesehatan tetapi tidak membawa keselamatan. Mengikuti Yesus tidak ada hubungannya dengan tradisi Yahudi yaitu bersunat atau tidak.
Sunat hati jauh lebih unggul sebab memurnikan hati memperbaiki relasi yang benar dengan Tuhan dan sesama.
Sunat rohani membawa kesejahteraan bagi jiwa di mana relasi utuh dengan Tuhan tak terdampak oleh kepentingan manipulatif duniawi.
Pemazmur menanggapi dalam madahnya, "Aku bersukacita, ketika orang berkata kepadaku, "Mari kita pergi ke rumah Tuhan." Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem." (Mzm. 122:1-2).
Hati yang bersih dan jiwa yang murni selalu dekat rumah Tuhan. Sebagai pengikut Tuhan, kita adalah hasil kebur anggur Tuhan di tengah dunia. Ekaristi adalah tanda nyata bahwa Tuhan selalu menyayangi dan merawat jiwa kita.
Bersatu dengan Tuhan sebagai pokok anggur, mengingatkan kita bahwa daya hidup ilahi berasal dari Tuhan.
Maka kita mesti berelasi, akrab dan lengket dengan Tuhan. Hidup yang bermakna tidak hanya bersentuhan dengan hal-hal lahiriah belaka tetapi mesti dutunjang oleh persatuan mesra dengan Tuhan.
Melepaskan diri dari Tuhan hidup jadi kering, hidup hampa, ketiadaan keselamatan. Tetaplah lengket dengan Tuhan Yesus pokok hidup dan sumber keselamatan kita.
Selamat beraktivitas hati ini. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Rabu/Pekan V Paskah/A/II, 060526)