Trump Hentikan Sementara 'Project Freedom' AS di Selat Hormuz
Facundo Chrysnha Pradipha May 06, 2026 08:23 AM

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Selasa mengumumkan militer AS akan menangguhkan sementara "Project of Freedom" atau “Proyek Kebebasan” yang sebelumnya diluncurkan untuk memastikan kembali kebebasan navigasi bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Trump menyebut keputusan tersebut diambil atas permintaan Pakistan dan sejumlah negara lain, sekaligus menyoroti apa yang ia klaim sebagai “kesuksesan militer yang luar biasa” dalam serangan AS terhadap Iran.

“Berdasarkan permintaan Pakistan dan negara-negara lain, keberhasilan militer luar biasa yang telah kita raih selama kampanye melawan negara Iran dan, selain itu, fakta bahwa kemajuan besar telah dicapai menuju kesepakatan lengkap dan final dengan perwakilan Iran, kita telah sepakat bersama bahwa, sementara blokade akan tetap berlaku sepenuhnya," tulisnya di platform Truth Social miliknya, Selasa (5/5/2026).

"Proyek Kebebasan (Pergerakan Kapal melalui Selat Hormuz) akan dihentikan sementara untuk jangka waktu singkat untuk melihat apakah kesepakatan tersebut dapat diselesaikan dan ditandatangani,” lanjutnya.

Proyek Kebebasan

Di sisi lain, Iran pada hari Selasa juga mengumumkan mekanisme baru untuk mengatur transit kapal di Selat Hormuz di tengah kebuntuan yang masih berlangsung dengan Washington.

Kapal kemudian diwajibkan mematuhi kerangka tersebut sebelum memperoleh izin pelayaran, sebagaimana dilaporkan Press TV yang dikelola pemerintah Iran.

Trump mengatakan AS telah meyakinkan negara-negara yang kapalnya terjebak karena perang bahwa AS akan membimbing kapal-kapal mereka dengan aman keluar dari Selat Hormuz.

Baca juga: Siaga Tinggi, Israel Siap Kerahkan Seluruh Armada Jet Tempur untuk Lawan Iran jika Diperlukan

Pemerintahan Trump mengatakan hampir 23.000 pelaut di kapal-kapal yang mewakili 87 negara telah terdampar di Teluk Persia karena penutupan Selat Hormuz secara de facto oleh Iran.

Komando Pusat AS mengatakan pada Minggu malam bahwa militer akan mengerahkan “kapal perusak rudal berpemandu, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, platform tak berawak multi-domain, dan 15.000 anggota layanan” untuk mendukung Proyek Kebebasan.

Uni Emirat Arab mengatakan pada hari Senin bahwa mereka diserang dengan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone yang berasal dari Iran, mengakibatkan tiga orang terluka.

Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, mengatakan kepada wartawan pada hari yang sama bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran “meluncurkan sejumlah rudal jelajah, drone, dan perahu kecil ke arah kapal-kapal yang kami lindungi.”

Sebuah kapal yang dioperasikan Korea Selatan di Selat Hormuz juga terbakar pada hari Senin. Trump kemudian mengatakan bahwa  Iran telah menyerangnya.

Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran

Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bermula dari eskalasi ketegangan yang meledak pada 28 Februari, ketika AS bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah wilayah Iran.

Dalam serangan tersebut, pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dan kemudian digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, setelah mendapat persetujuan Majelis Ahli.

Serangan itu terjadi hanya dua hari setelah perundingan nuklir AS–Iran di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan. Sejak lama, Washington dan Tel Aviv menuduh Teheran tengah mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran bersikeras bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan damai.

Ketegangan tersebut dengan cepat berubah menjadi konflik terbuka. Iran merespons dengan melancarkan serangan ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di berbagai negara Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Di saat yang sama, Teheran juga menghentikan proses perundingan nuklir dan memberlakukan blokade di Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi global—yang memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran akan krisis energi dunia.

Memasuki hari ke-40 konflik, Amerika Serikat dan Iran akhirnya menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan yang mulai berlaku pada 8 April.

Gencatan senjata itu kemudian diperpanjang oleh Trump tanpa batas waktu yang jelas. Sejak 13 April, Amerika Serikat juga disebut telah menerapkan blokade laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di wilayah tersebut.

Pada 25 April, rencana AS untuk mengirim delegasi ke Islamabad guna membuka kembali negosiasi dibatalkan setelah Iran menolak dialog langsung.

Di tengah kebuntuan diplomasi, Iran terus menjalin komunikasi dengan Pakistan sebagai mediator untuk menyampaikan posisi dan tuntutannya sebagai syarat penghentian perang.

Pada 1 Mei, Teheran bahkan mengajukan proposal baru kepada Washington melalui perantara tersebut. Namun, prospek kelanjutan perundingan kembali terhambat setelah AS meluncurkan “Proyek Kebebasan” di Selat Hormuz, yang kembali memanaskan situasi di kawasan strategis itu.

Di tengah upaya perundingan, Trump mengumumkan pada hari Selasa bahwa Proyek Kebebasan dihentikan untuk sementara hingga Iran dan AS menyelesaikan perundingan.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.