Siaga Tinggi, Israel Siap Kerahkan Seluruh Armada Jet Tempur untuk Lawan Iran jika Diperlukan
Arif Tio Buqi Abdulah May 06, 2026 08:23 AM

TRIBUNNEWS.COM - Kepala Angkatan Udara Israel yang baru, Mayor Jenderal Omer Tischler, mengatakan negara itu siap mengerahkan seluruh armada jet tempurnya melawan Iran jika diperlukan.

Pernyataan Mayor Jenderal Omer Tischler disampaikan beberapa minggu setelah gencatan senjata yang rapuh dalam perang Timur Tengah, yang meletus ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari 2026.

Lahir pada tahun 1975 di Israel utara, Mayor Jenderal Omer Tischler adalah seorang penerbang karier yang naik pangkat sebagai pilot tempur dan komandan.

“Kami memantau dengan cermat perkembangan di Iran dan siap mengerahkan seluruh angkatan udara ke arah timur jika diperlukan,” kata Tischler pada upacara di mana ia mengambil alih komando dari pendahulunya, Mayor Jenderal Tomer Bar, Selasa (5/5/2026), dilansir Al Arabiya.

“Angkatan udara akan terus bertindak dengan tekad, kekuatan, dan tanggung jawab terhadap ancaman di setiap arena, di setiap tahap, dan terhadap setiap musuh," jelasnya.

Berbicara pada upacara yang sama, Kepala Militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengatakan negara itu tetap “siaga tinggi di semua lini.”

Ia mengatakan militer “siap untuk menanggapi dengan kekuatan terhadap setiap upaya untuk membahayakan Israel.”

Sejak serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, angkatan udara Israel telah melakukan kampanye udara yang ekstensif dan berkelanjutan di berbagai front, khususnya di Gaza, Lebanon, dan Iran.

Kemungkinan Perang dengan Iran Dimulai Lagi

Tentara Israel mengatakan mereka berada dalam keadaan siaga tinggi untuk kemungkinan dimulainya kembali perang dengan Iran di tengah meningkatnya eskalasi antara Teheran dan Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz.

Stasiun televisi publik, KAN, mengatakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengadakan "serangkaian konsultasi keamanan" sepanjang hari Senin (4/5/2026) untuk membahas situasi di Teluk.

Baca juga: AS Sebut Serangan ke Kapal Iran Tak Langgar Gencatan Senjata, Freedom di Selat Hormuz Jalan

Ketegangan regional meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang memicu pembalasan dari Teheran terhadap Israel, serta sekutu AS di Teluk, bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz.

“Kami memantau situasi dan berada dalam keadaan siaga tinggi di tengah eskalasi di Teluk,” kata militer Israel dalam sebuah pernyataan, Senin, dikutip dari Anadolu Agency.

"Kami menegaskan bahwa tidak ada perubahan dalam instruksi Komando Pertahanan Dalam Negeri," jelasnya.

Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan, tetapi pembicaraan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng.

Gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump tanpa batas waktu yang ditentukan.

Sejak 13 April, Amerika Serikat telah memberlakukan blokade angkatan laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di Selat Hormuz.

UEA Diserang Iran

Uni Emirat Arab (UEA), sekutu utama AS, menuduh Iran menyerang negara itu dengan rentetan rudal dan drone, membakar kilang minyak di emirat Fujairah bagian timur dan melukai tiga warga negara India.

Serangan pada Senin (4/5/2026) menandai serangan pertama terhadap UEA sejak Iran dan Amerika Serikat menyepakati gencatan senjata pada 8 April 2026.

Hal itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump meluncurkan upaya baru untuk mengawal kapal tanker yang terdampar melalui Selat Hormuz, jalur pasokan energi vital yang sebagian besar telah ditutup sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026.

Dilansir Al Jazeera, komando militer terpadu Iran telah memperingatkan kapal-kapal dagang agar tidak menerima tawaran AS dan mengatakan bahwa pasukan Amerika "akan diserang jika mereka berniat mendekati dan memasuki Selat Hormuz".

Baca juga: Trump dan Xi Jinping akan Bertemu Bahas Konflik AS–Iran, Akhiri Perang?

IRAN SERANG UEA - Eskalasi militer dilakukan Iran menyerang sejumlah titik di UEA.
IRAN SERANG UEA - Eskalasi militer dilakukan Iran menyerang sejumlah titik di UEA. (tangkapan layar/X @sozunozutv)

Kementerian Pertahanan UEA mengatakan bahwa sistem pertahanan udaranya "berhasil menghadang" 12 rudal balistik, tiga rudal jelajah, dan empat drone yang diluncurkan dari Iran sepanjang hari.

Kementerian Luar Negeri negara tersebut mengutuk keras "serangan Iran yang kembali terjadi dan tidak beralasan, yang menargetkan lokasi dan fasilitas sipil di negara tersebut".

Pihaknya menyatakan tidak akan mentolerir ancaman apa pun terhadap keamanan dan kedaulatan UEA dan memperingatkan bahwa mereka memiliki “hak penuh dan sah untuk menanggapi” serangan tersebut.

Sementara itu, Iran telah membantah tuduhan Uni Emirat Arab.

Stasiun televisi pemerintah IRIB mengutip sumber militer yang berpengetahuan luas yang mengatakan bahwa Iran "tidak memiliki program yang direncanakan sebelumnya untuk menyerang fasilitas minyak yang disebutkan".

Sumber tersebut menghubungkan insiden itu dengan "petualangan militer AS yang bertujuan untuk menciptakan jalur bagi transit ilegal kapal melalui jalur air terlarang di Selat Hormuz".

Baca juga: Analisis The Hill: Mengapa AS Perangi Iran Tapi Membiarkan Korea Utara dan Nuklirnya?

Sumber tersebut menambahkan bahwa “militer AS harus dimintai pertanggungjawaban atas hal ini”.

Negosiasi antara Iran dan AS mengalami kebuntuan sejak gencatan senjata dimulai pada 8 April, dengan program nuklir Teheran dan cengkeramannya di Selat Hormuz tetap menjadi poin perselisihan utama.

Gencatan senjata, yang dicapai melalui mediasi Pakistan, diikuti oleh pembicaraan langsung di Islamabad pada 11 April, tetapi tidak ada kesepakatan yang tercapai mengenai perdamaian yang langgeng.

Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tanpa menetapkan tenggat waktu baru, menyusul permintaan dari Pakistan.

(Tribunnews.com/Nuryanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.