Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Eddy Junarsin, menyebut pelemahan nilai tukar rupiah masih bersifat jangka pendek.
Kendati demikian, kondisi ini perlu diantisipasi serius agar tidak berkembang menjadi gejolak yang lebih besar di pasar keuangan.
Menurut Eddy, tekanan nilai tukar yang tidak dikelola dengan baik dapat memicu destabilizing speculation, yaitu kondisi ketika pelaku pasar bertindak berlebihan karena kepanikan, sehingga justru memperparah pelemahan rupiah itu sendiri.
“Tekanan rupiah saat ini bersifat jangka pendek. Namun jika tidak dikelola dengan baik, akan menyebabkan destabilizing speculation,” katanya, Selasa (5/5/2026).
Ia melanjutkan, Bank Indonesia (BI) menghadapi dilema kebijakan yang tidak mudah.
Di satu sisi, penurunan suku bunga acuan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka peluang tercapainya lapangan kerja penuh.
Namun, kebijakan tersebut juga berisiko meningkatkan inflasi karena jumlah uang yang beredar semakin besar.
Sebaliknya, jika suku bunga dinaikkan, inflasi dapat lebih terkendali, tetapi pertumbuhan ekonomi berpotensi melambat dan tingkat pengangguran meningkat.
Baca juga: Tim Dosen UGM Kembangkan Denteksi, Platform Skrining Gigi Berbasis AI
Dengan demikian, kebijakan moneter perlu dijalankan secara bertahap dan hati-hati, sambil menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.
Intervensi di pasar valuta asing juga dinilai perlu dilakukan secara terbatas.
“Jika dilakukan terlalu agresif untuk menahan pelemahan rupiah, justru dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang merugikan, seperti tergerusnya cadangan devisa dan menurunnya kepercayaan pasar,” terangnya.
Dalam menjaga stabilitas ekonomi, Bank Indonesia membutuhkan dukungan kebijakan fiskal dari pemerintah menjadi faktor penting.
Pemerintah perlu menjaga keseimbangan anggaran, memberikan insentif yang tepat bagi dunia usaha, serta mengelola utang negara secara efisien.
Pemerintah juga diharapkan mampu mengkomunikasikan kebijakan secara jelas dan konsisten untuk menjaga kepercayaan publik dan investor.
Selain itu, kepastian hukum, keadilan, serta stabilitas politik dan keamanan juga menjadi faktor penting dalam menciptakan iklim ekonomi yang kondusif.
“Pemerintah perlu mengkomunikasikan berbagai kebijakan dengan baik. Kepastian dan keadilan hukum perlu dijaga dan ditunjukkan. Kebebasan berinovasi dan insentif berusaha perlu ditingkatkan,” imbuhnya. (*)