Krisis Selat Hormuz: 20 Ribu Pelaut Terjebak, WNI Ungkap Ancaman Drone dan Ledakan
Eko Sutriyanto May 06, 2026 04:38 PM

 

 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Kondisi di Selat Hormuz saat ini menunjukkan krisis serius yang tidak hanya berdampak pada geopolitik global tetapi juga keselamatan dan kesejahteraan ribuan pelaut dari berbagai negara termasuk Indonesia.
 
Perwira pertama (mualim satu) berkewarganegaraan Indonesia, Reza Muhammad Saleh, yang bekerja di kapal kargo milik Yunani  telah tertahan lebih dari satu bulan di lepas pantai Oman.

Menurut Saleh, setelah itu terjadi setidaknya dua ledakan drone lagi, sehingga awak kapal harus dievakuasi ke fasilitas pengisian bahan bakar.

Krisis Kemanusiaan Meningkat di Selat Hormuz

Di tengah berkepanjangannya penutupan Selat Hormuz akibat perang antara Amerika Serikat–Israel dan Iran, krisis kemanusiaan terhadap awak kapal yang terjebak di dalam dan sekitar selat tersebut semakin memburuk.

Pada 5 Mei, menurut Organisasi Maritim Internasional PBB (IMO), sejak pecahnya perang Iran, sekitar 2.000 kapal dan lebih dari 20.000 awak kapal terisolasi di dalam dan sekitar selat tersebut.

IMO bahkan menggelar rapat khusus pada 18–19 Maret dan memperingatkan serius soal keselamatan para pelaut.

Baca juga: 20.000 Pelaut Terdampar di Selat Hormuz, Hidup Berhari-hari di Atas Kapal

Dalam konferensi video pada 23 April yang dihadiri menteri luar negeri dari 40 negara, Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez mengungkapkan bahwa sejak 28 Februari telah terjadi sekitar 29 serangan terhadap kapal, yang menewaskan 10 awak kapal dan membuat 20.000 lainnya terjebak.

Para awak kapal kini menghadapi risiko terkena rudal maupun serpihan ledakan, serta mengalami kelelahan ekstrem. 

Pelabuhan-pelabuhan terdekat pun tidak aman, sehingga kapal sulit untuk berlabuh dengan aman. 

Persediaan logistik juga menipis, dan mereka harus mengandalkan distribusi makanan dan air. 

Sejumlah organisasi amal seperti misi pelaut bahkan mempertaruhkan keselamatan untuk menyalurkan bantuan.

Seiring berlarutnya krisis, risiko awak kapal ditelantarkan setelah kontrak kerja mereka berakhir juga semakin meningkat. 

Banyak yang tidak menerima gaji dan tidak dapat kembali ke negara asal. 

Situasi ini mengingatkan pada masa pandemi COVID-19, ketika sekitar 400.000 awak kapal terjebak di laut dalam kondisi serupa tanpa gaji dan tanpa kepastian pulang.

Contohnya, Kapten asal India, Rahul Dahl, bersama awak kapalnya telah terjebak selama delapan minggu di Teluk Persia sejak perang Iran pecah. 

Ia mengatakan kepada Associated Press, “Tidak seorang pun dari kami membayangkan situasi perang seperti ini. Melihat drone dan rudal melintas di atas kapal adalah pengalaman yang menegangkan dan menyakitkan.”

Diskusi  beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.