Tabrakan Bus ALS vs Truk BBM di Muratara, Pasutri Lompat dari Jendela saat Api Membesar
Fitriadi May 07, 2026 09:43 AM

 

BANGKAPOS.COM, LUBUK LINGGAU - Ruas Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) di Kelurahan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, mendadak berubah menjadi lautan api pada Rabu (6/5/2026) siang sekitar pukul 12.00 WIB.

Di tengah aktivitas lalu lintas yang biasanya ramai, sebuah bus Antar Lintas Sumatera (ALS) terbakar hebat setelah bertabrakan dengan truk tangki bermuatan bahan bakar minyak (BBM).

Peristiwa itu berlangsung begitu cepat, namun dampaknya begitu besar.

Baca juga: Firasat Buruk Sejak Awal, Tiga Penumpang Nekat Lompat Keluar Jendela saat Bus ALS Mulai Terbakar

Dalam hitungan menit, kobaran api melahap hampir seluruh badan bus. Asap hitam pekat membumbung tinggi ke udara, terlihat dari kejauhan.

KONDISI BUS ALS – Kondisi bus ALS yang hangus setelah menabrak mobil truk tangk muata minyak di Jalur Lintas Sumatera (Jalinsum), wilayah Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan hingga menyebabkan 16 orang tewas, Rabu (6/5/2026).
KONDISI BUS ALS – Kondisi bus ALS yang hangus setelah menabrak mobil truk tangk muata minyak di Jalur Lintas Sumatera (Jalinsum), wilayah Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan hingga menyebabkan 16 orang tewas, Rabu (6/5/2026). (Dokumentasi Polisi)

Suasana di lokasi berubah mencekam. Jeritan, kepanikan, dan ketakutan bercampur menjadi satu.

Baca juga: Detik-detik Kecelakaan Maut Bus ALS vs Mobil Tangki BBM di Muratara, 16 Orang Dikabarkan Tewas

Sebanyak 16 orang meninggal dunia dilaporkan dalam tragedi tersebut. Rinciannya, 14 korban merupakan penumpang bus ALS, sementara dua lainnya berasal dari truk tangki BBM.

Selain itu, empat orang dilaporkan selamat dan kini menjalani perawatan intensif, dengan sebagian besar mengalami luka bakar serius.

Melompat dari Jendela

Salah satu penumpang yang selamat, Ngadiono (44), mengaku dirinya bersama sang istri, Jumiatun (34), harus mengambil keputusan cepat untuk bertahan hidup.

Ia mengatakan, firasat buruk sebenarnya sudah muncul sejak awal perjalanan. Kondisi bus yang ditumpangi dinilainya tidak dalam keadaan prima.

“Dari awal kami sudah punya firasat tidak enak karena melihat kondisi bus seperti tidak layak,” ujarnya.

Meski demikian, ia tetap melanjutkan perjalanan dari Pati menuju Medan karena keterbatasan biaya dan tiket yang tidak dapat dikembalikan. 

“Karena tiket tidak bisa dikembalikan dan kami tidak punya uang lagi, akhirnya kami tetap berangkat,” katanya.

Selama perjalanan, bus disebut beberapa kali mengalami kendala teknis, mulai dari radiator yang sempat kering hingga kebocoran oli. Namun perjalanan tetap dilanjutkan hingga akhirnya tragedi tak terhindarkan. 

Puncak kejadian terjadi ketika terdengar benturan keras yang disusul kobaran api.

Bus yang ditumpangi bertabrakan dengan truk tangki BBM, lalu api dengan cepat membesar.

“Saya dengar benturan keras, lalu api sudah membesar. Saya dan istri langsung lompat keluar lewat jendela,” tutur Ngadiono.

Keputusan itu menjadi penyelamat nyawa. Tak lama kemudian, seorang penumpang lain juga berhasil keluar dengan cara yang sama. Namun bagi sebagian besar penumpang lain, kesempatan itu tidak datang. 

Setelah berhasil keluar, Ngadiono hanya bisa menyaksikan kobaran api yang semakin membesar disertai suara ledakan yang terus terdengar.

“Kami hanya bisa melihat penumpang lain terjebak di dalam bus. Kami tidak bisa berbuat apaapa,” ujarnya dengan nada getir.

Akibat insiden tersebut, Ngadiono mengalami luka bakar di bagian wajah dan tangan.

Sementara istrinya, Jumiatun, serta satu korban selamat lainnya mengalami luka bakar serius dan kini dirawat intensif di ruang ICU RSUD Rupit.

Rekaman video amatir yang beredar luas di media sosial memperlihatkan betapa cepat api membesar.

Dalam video tersebut, kobaran api tampak menjulang disertai asap tebal yang menyelimuti jalan

Sesekali terdengar suara ledakan kecil yang diduga berasal dari tangki bahan bakar atau ban kendaraan.

“Di Karang Jaya, kejadian mobil bertumburan langsung kebakaran,” ujar perekam video dengan suara panik.

Di tengah situasi genting, warga yang berada di sekitar lokasi hanya bisa berteriak meminta pertolongan.

“Coba telepon PLN, telepon Damkar!” teriak seorang pria, menggambarkan kepanikan yang sulit dikendalikan.

Sejumlah warga mengaku tidak sempat memberikan pertolongan karena api terlalu cepat membesar.

Barang-barang milik penumpang terlihat berserakan di badan jalan, mulai dari tas hingga karung berisi buah-buahan yang pecah akibat benturan keras.

Masuk Lubang

Berdasarkan keterangan kepolisian, kecelakaan diduga bermula saat bus ALS kehilangan kendali.

Kendaraan itu disebut oleng ketika melintas di lokasi, diduga menghindari sesuatu di jalan hingga masuk ke lubang dan berpindah ke jalur berlawanan.

“Bus masuk lubang lalu berpindah jalur dan terjadi tabrakan depan dengan truk tangki,” ujar Kasat Lantas Polres Muratara, AKP M. Karim.

Benturan keras tersebut diduga menyebabkan tumpahan BBM dari truk tangki.

Percikan api kemudian dengan cepat menyambar bahan bakar, memicu kebakaran besar yang sulit dikendalikan.

Pesan Terakhir

Di balik peristiwa memilukan itu, tersimpan kisah duka yang menyayat hati.

Salah satu korban meninggal dunia adalah Ariyanto, sopir truk tangki BBM milik PT Seleraya.

Warga Desa Ketapat Bening, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas Utara, Provinsi Sumatera Selatan, itu meninggal dalam kondisi mengenaskan bersama penumpangnya, Martini.

Kepergian Ariyanto meninggalkan luka mendalam bagi keluarga. Sang istri, Usbapermi, tak kuasa menahan kesedihan saat ditemui di RS Siti Aisyah, Lubuklinggau.

“Tak bisa berkata-kata saya,” ucapnya lirih.

Ariyanto meninggalkan tiga orang anak, dua di antaranya sudah beranjak dewasa, sementara satu lainnya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Hari itu, seperti hari-hari biasa, Ariyanto berpamitan untuk bekerja. Ia hendak menuju lokasi pembongkaran BBM di Simpang Jene, Kabupaten Musi Rawas. Bahkan sebelum berangkat, ia sempat singgah ke rumah.

“Tidak ada firasat. Dia sempat tanya mau titip beli nanas atau tidak,” kenangnya.

Komunikasi terakhir juga berlangsung seperti biasa. Anak sulungnya, Rangga, mengaku sempat berbincang dengan ayahnya melalui telepon pada malam sebelum kejadian.

“Seperti biasa, hanya menanyakan kabar,” ujarnya.

Namun siang itu, kabar buruk datang. Sekitar pukul 15.00 WIB, Rangga yang sedang bekerja menerima informasi bahwa ayahnya mengalami kecelakaan.

“Saya langsung disuruh ke rumah sakit,” katanya.

Dipindahkan

Sementara itu, proses evakuasi korban dilakukan secara bertahap.

Jenazah sempat ditempatkan di RS Siti Aisyah sebelum akhirnya dipindahkan ke RS Bhayangkara Palembang untuk proses identifikasi lebih lanjut.

Kapolres Lubuklinggau, AKBP Adithia Bagus Arjunadi, menjelaskan pemindahan dilakukan karena fasilitas di Palembang lebih lengkap, terutama dengan dukungan tim Disaster Victim Identification (DVI).

“Tim DVI sudah siap melakukan identifikasi agar korban dapat segera dikenali dan diserahkan kepada keluarga,” ujarnya.

Sebanyak 16 ambulans dikerahkan untuk membawa jenazah ke Palembang dengan pengawalan ketat aparat kepolisian.

Langkah ini diambil guna mempercepat proses identifikasi, mengingat kondisi korban yang sulit dikenali akibat luka bakar.

Di sisi lain, manajemen PT Antar Lintas Sumatera (ALS) mengaku belum dapat memastikan identitas korban secara rinci.

Pihak perusahaan masih menunggu data manifes penumpang dari pool keberangkatan di Semarang, Jawa Tengah.

“Kami belum bisa memastikan identitas para korban. Masih kami minta ke pool Semarang,” ujar Humas PT ALS, Alwi Matondang.

Bus tersebut diketahui berangkat dari Semarang menuju Medan, membawa penumpang dari berbagai daerah, termasuk Pati dan Tegal.

Perjalanan panjang yang seharusnya menjadi rutinitas, berubah menjadi tragedi di Jalinsum Muratara.

Hingga kini, penyelidikan masih terus dilakukan untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan.

Dugaan sementara mengarah pada faktor kondisi jalan serta upaya penghindaran yang berujung hilangnya kendali kendaraan.

Sementara itu, keluarga korban terus berdatangan dari berbagai daerah. 
Mereka membawa harapan sekaligus kecemasan, menanti kepastian kabar orang-orang tercinta yang menjadi bagian dari tragedi ini. 

(Tribunsumsel.com/ Tribunjateng.com/ Tribunmedan.com/ kompas.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.