TRIBUN-PAPUA.COM, WAMENA - Warga Wamena di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan mengeluhkan dugaan kecurangan pangkalan minyak tanah subsidi yang menaikkan harga serta mengurangi jatah literan, Jayawijaya, April 2026.
Keluhan warga muncul di sejumlah wilayah seperti Jalan Irian, Jalan Thamrin, hingga kawasan Jalur SD Negeri Jalan Sanger Wamena.
Warga menilai praktik kenaikan harga sepihak dan pengurangan kuota minyak tanah subsidi sudah berlangsung lama tanpa penindakan tegas pemerintah.
Baca juga: Gelombang Dukungan Mengalir untuk Persipura Jayapura Jelang Laga Play-Off
Aldi, warga Jalan Irian, mengaku kuota minyak tanah subsidi yang diterimanya selama ini tidak pernah diberikan secara utuh.
“Seharusnya kami menerima sepuluh liter, tetapi jatah dikurangi menjadi tujuh liter dengan harga Rp7.500 perliter,” ungkap Aldi kepada media, Kamis, (7/5/2026).
Ia menyebut kondisi tersebut sudah berlangsung selama tiga tahun terakhir meski harga eceran tertinggi resmi hanya Rp4.000 per liter.
Keluhan serupa disampaikan warga di pangkalan Jalan Thamrin dekat perempatan Jalan Pattimura yang hanya menerima lima liter setiap bulan.
Baca juga: Persipura Jayapura Jalani Latihan Resmi Jelang Duel Hidup Mati di Lukas Enembe
Warga mengaku tetap harus membayar Rp7.500 perliter meski minyak tanah tersebut merupakan komoditas subsidi untuk kebutuhan masyarakat kecil.
Pengurangan kuota minyak tanah ini memunculkan pertanyaan warga mengenai ke mana sisa jatah subsidi tersebut dialihkan oleh pengelola pangkalan.
Sementara warga di Jalan Sanger mengaku sudah satu tahun tidak lagi mendapatkan jatah minyak tanah subsidi dari pangkalan resmi.
Mereka mempertanyakan keberadaan kuota subsidi yang seharusnya diterima masyarakat namun diduga tidak disalurkan sesuai ketentuan pemerintah selama ini.
Baca juga: Hanya 11.600 Per Kilo Bulog Papua Jual Beras SPHP Dalam Rangka HUT ke 59
Warga bernama Arni mendesak pemerintah, Pertamina, dan aparat hukum segera turun tangan menindak pangkalan nakal di wilayah Wamena tersebut.
“Kami minta pengawasan diperketat dan pangkalan curang dicabut izinnya agar subsidi tidak dijadikan ladang bisnis oknum,” tegas Arni.
Untuk diketahui bahwa minyak tanah banyak dijual oleh pengecer di pinggiran jalan di pusat kota Jayawijaya. Mereka menjual dengan harga Rp25 ribu per liter hingga 30 ribu per liter.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pihak maskapai, minyak tanah yang disuplai ke Wilayah Papua Pegunungan dari Bandara Sentani di Jayapura ke Bandara Wamena adalah bahan bakar subsidi, yang artinya harus dijual juga dengan harga HET subsidi.(*)