Pramono Anung Kecewa Persija vs Persib Terusir dari GBK, Begini Kronologi Pindah ke Samarinda
Hironimus Rama May 07, 2026 02:35 PM

Laporan Yolanda Dewanti Putri

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA – Laga bertajuk El Clasico Indonesia antara Persija Jakarta melawan Persib Bandung dipastikan gagal digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta.

Pertandingan pekan ke-32 Super League 2025/2026 yang dijadwalkan pada Minggu (10/5/2026) itu akhirnya resmi dipindahkan ke Stadion Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur.

Batalnya laga tensi tinggi ini dihelat di ibu kota menuai reaksi dari Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Ia tak menutupi rasa kekecewaannya terkait keputusan pemindahan venue pertandingan akibat tidak turunnya izin keamanan.

Baca juga: Jelang Duel Klasik Lawan Persib, Persija Jakarta Gelar Latihan di Training Ground Bojongsari Depok 

Kekecewaan Pramono Anung

Ditemui di Balai Kota Jakarta, Rabu (6/5/2026), Pramono Anung secara terbuka menyatakan bahwa dirinya turut merasakan kesedihan yang sama dengan para suporter.

“Kalau kecewa, saya kecewa banget. Kalau alasan yang buat alasan saja yang ngomong buat,” ujar Pramono.

Ia menegaskan bahwa sebagai kepala daerah, dirinya termasuk pihak yang sangat menantikan laga bergengsi tersebut bisa dinikmati warga di Jakarta.

“Saya jawab dulu ya. Saya termasuk yang kecewa. Jadi bukan hanya The Jakmania atau siapa, saya termasuk yang kecewa. Dan kemarin teman-teman juga tahu saya menerima Kapolda. Jadi intinya saya juga kecewa,” lanjutnya.

Meski demikian, Pramono tetap menghormati keputusan bersama antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan aparat kepolisian. Ia menilai ada faktor krusial di balik pelarangan tersebut, yakni stabilitas keamanan.

“Apapun yang menjadi keputusan bersama, tidak dipertandingkan di Jakarta, saya sebagai Gubernur, karena ada reasoning atau alasan yang menurut saya sangat-sangat masuk akal,” jelasnya.

Bagi Pramono, kondusivitas wilayah DKI Jakarta tetap menjadi prioritas utama di atas segalanya. “Bagaimanapun saya lebih baik menjaga Jakarta tetap adem, ayem, tentram, itu yang lebih utama,” pungkasnya.

Kronologi Laga Dipindah ke Samarinda

Sebelumnya, Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Persija Jakarta, Tauhid Indrasjarief atau yang akrab disapa Bung Ferry, membeberkan dinamika dan kronologi di balik penentuan kandang alternatif bagi skuad Macan Kemayoran.

Keputusan final ini diambil setelah rapat koordinasi bersama jajaran kepolisian di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (6/5/2026). Pertemuan aparat keamanan dengan pihak Pemprov DKI menjadi titik awal larangan tersebut.

“Pak Kapolda, Wakapolda dengan seluruh timnya beberapa hari lalu sempat datang ke Balai Kota untuk berdiskusi dengan Gubernur. Dari situ akhirnya keluar keputusan bahwa kita tidak boleh menyelenggarakan pertandingan di Jakarta,” ujar Bung Ferry menceritakan awal mula penolakan izin.

Merespons hal tersebut, operator kompetisi langsung bergerak mencari stadion kosong. Opsi awal sempat mengerucut pada dua kota di Jawa, yakni Jepara dan Surabaya.

“Saya melaporkan ini ke liga. Liga kemudian mencari stadion yang kosong dan mereka bilang ada dua pilihan, Jepara atau Surabaya. Dengan pertimbangan untuk kepentingan tim, karena Surabaya dekat dengan bandara, saya pikir lebih baik pilih Surabaya,” cerita Bung Ferry.

Sayangnya, meski mendapat sambutan baik dari Panpel Persebaya dan Bonek, laga di Jawa dipastikan tidak akan mendapat izin keramaian.

“Ketika kami sudah koordinasi di sana, semuanya siap. Panpel bahkan pihak Persebaya dan Bonek juga siap membantu. Tapi ternyata kami hanya boleh menggelar pertandingan tanpa penonton,” jelasnya.

Panpel pun memutar otak dan mencoba melirik Stadion Kapten I Wayan Dipta di Bali. Namun, niat itu urung terlaksana karena terbentur jadwal Borneo FC yang bermain di stadion yang sama keesokan harinya. Dari sinilah ide menggunakan markas Borneo FC muncul.

"Nah, saya tanya sama pihak Bali mereka tanding lawan siapa, ternyata lawan Borneo. Berarti stadion Borneo tidak dipakai dong. Dari situ saya coba izin untuk kontak Borneo,” tuturnya.

Gayung pun bersambut. Pihak kepolisian Samarinda memberikan lampu hijau agar pertandingan tersebut bisa disaksikan langsung oleh penonton.

“Saya coba tanya ke pihak kepolisian, kalau memang bisa menyelenggarakan di Samarinda dipersilakan saja. Pihak kepolisian juga akan bantu perizinannya dengan penonton. Jadi itu sejarahnya kenapa akhirnya kami menetapkan di Samarinda,” ucap Bung Ferry.

Batalnya laga Persija vs Persib di GBK tahun ini tentu memperpanjang kerinduan Jakmania. Pasalnya, duel klasik kedua tim ini terakhir kali bisa dilangsungkan di hadapan publik SUGBK pada tahun 2019 silam.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.