Nasib Anak-anak Korban Kekerasan di Daycare Little Aresha Jogja, Kondisinya Memprihatinkan
Putra Dewangga Candra Seta May 07, 2026 04:32 PM

 

SURYA.co.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mengungkap kondisi terbaru anak-anak korban dugaan penelantaran dan kekerasan di Little Aresha Daycare.

Hasil asesmen awal menunjukkan adanya indikasi gangguan kesehatan pada sejumlah anak.

Dari total 131 anak yang diperiksa, belasan di antaranya terdeteksi mengalami masalah tumbuh kembang, mulai dari gangguan gizi hingga keterlambatan bicara (speech delay).

Kepala Dinkes Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani, mengatakan pihaknya telah menerjunkan tim gabungan dari enam Puskesmas untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh.

Hasilnya cukup memprihatinkan. Sejumlah anak menunjukkan gangguan baik secara fisik maupun psikis.

"Kemarin yang masalah gizi itu ada 17 anak. Lalu yang terkait gangguan perkembangan ada 13 anak," ujar Kadinkes, saat dikonfirmasi, Senin (4/5/2026), dikutip SURYA.co.id dari Tribunnews.

Emma menjelaskan, gangguan perkembangan tersebut mencakup berbagai gejala, mulai dari hiperaktif, kecenderungan ADHD dan autism, hingga keterlambatan bicara.

"Itu baru diagnosis sementara, harus diverifikasi lagi. Ada yang speech delay atau keterlambatan bicara itu tiga anak. Kemudian, ada yang kecenderungan ADHD dan autism. Nanti akan diperiksa lagi secara detail," jelasnya.

Ia menegaskan, seluruh temuan tersebut masih bersifat awal dan membutuhkan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis medis yang akurat.

Pendampingan Intensif dari Puskesmas

BERBAHAYA - Tampak depan daycare Little Aresha, Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Kasus kekerasan terhadap anak yang dilakukan daycare tersebut jadi pelajaran bagi semua orangtua.
BERBAHAYA - Tampak depan daycare Little Aresha, Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Kasus kekerasan terhadap anak yang dilakukan daycare tersebut jadi pelajaran bagi semua orangtua. (tribun jakarta)

Sebagai langkah penanganan, Dinkes Kota Yogyakarta telah menginstruksikan Puskesmas di wilayah tempat tinggal masing-masing anak untuk melakukan pendampingan intensif.

Setiap Puskesmas menurunkan tim lengkap yang terdiri dari dokter, bidan, nutrisionis atau ahli gizi, serta psikolog klinis.

Untuk anak dengan masalah gizi, seperti berat badan kurang atau anemia, intervensi dilakukan melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT).

"Kalau yang masalah gizi, nanti dikembalikan ke Puskesmas wilayah masing-masing untuk didampingi nutrisionis. Jika berat badannya kurang, nanti diberikan PMT," urai Emma.

Baca juga: Sosok Diyah Kusumastuti Ketua Yayasan Daycare Little Aresha Yogyakarta, Ternyata Eks Koruptor

Proses Pemulihan Tidak Instan

Dinkes menekankan bahwa pemulihan kondisi anak-anak korban tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, terutama untuk gangguan perkembangan dan psikologis.

"Ini prosesnya panjang, tidak seperti sakit diare yang diberi obat langsung sembuh. Psikolog nanti akan merencanakan terapinya. Paling tidak butuh waktu 6 bulan untuk kemudian kita evaluasi lagi perkembangannya," tambahnya.

Durasi pemulihan setiap anak diperkirakan berbeda, tergantung pada respons terhadap terapi serta tingkat keparahan gangguan yang dialami.

Sementara itu, Dinkes terus melakukan pemetaan agar seluruh anak yang melapor ke UPT PPA mendapatkan akses layanan kesehatan yang layak.

"Tergantung terapinya masing-masing anak seperti apa, terus tingkat keparahan dari dari anak itu gangguan perkembangannya sampai di mana," ujarnya.

Alarm Keras Pengawasan Daycare

Kasus Little Aresha Daycare menjadi peringatan serius bagi sistem pengawasan lembaga penitipan anak.

Temuan gangguan gizi dan perkembangan menunjukkan bahwa dampak dugaan penelantaran tidak hanya bersifat sementara, tetapi bisa memengaruhi masa depan anak dalam jangka panjang.

Langkah cepat Dinkes dengan pendampingan lintas tenaga kesehatan patut diapresiasi.

Namun, ke depan diperlukan pengawasan lebih ketat, standar operasional yang jelas, serta transparansi pengelolaan daycare untuk mencegah kasus serupa terulang.

Selain itu, peran orang tua dalam memantau kondisi anak secara berkala juga menjadi kunci penting dalam deteksi dini masalah tumbuh kembang.

7 Ciri Daycare Berbahaya yang Wajib Diwaspadai Orangtua

Kasus memilukan terjadi di sebuah daycare di Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

Sebanyak 103 anak dilaporkan menjadi korban dugaan kekerasan, dengan puluhan di antaranya mengalami kekerasan fisik.

Peristiwa ini terungkap setelah video yang memperlihatkan anak-anak dalam kondisi tangan dan kaki diikat viral di media sosial.

Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Rizky Adrian, mengungkapkan bahwa korban berasal dari kelompok usia paling rentan, yakni bayi hingga balita.

“Kalau jumlah semua kita lihat itu 103 anak. Tapi kalau untuk yang kita lihat ada tindakan kekerasannya, itu sekitar 53 orang. By data, ya,” ujar Adrian saat ditemui di Mapolresta Yogyakarta, Sabtu (25/4/2026), dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.

Daycare tersebut diketahui telah beroperasi lebih dari satu tahun, dan sebagian besar pengasuh sudah cukup lama bekerja di sana.

“Nanti akan dilakukan rilis secara lengkap pada Senin pagi,” ucap Adrian singkat.

Kejadian ini menjadi pengingat pahit: tempat yang seharusnya menjadi “rumah kedua” justru berubah menjadi mimpi buruk.

Pertanyaannya, bagaimana memastikan anak benar-benar aman saat kita tinggal bekerja?

Faktanya, fasilitas mewah dan biaya mahal bukan jaminan. Orang tua perlu lebih peka terhadap tanda-tanda bahaya.

Salah satu faktor utama adalah manipulasi visual.

Banyak daycare hanya menampilkan sisi terbaik saat orang tua berkunjung, ruangan bersih, pengasuh ramah, dan anak-anak terlihat bahagia.

Namun, realitas di balik layar bisa berbeda. Kekerasan kerap terjadi di area yang tidak terpantau atau di waktu-waktu tertentu saat pengawasan minim.

Kasus ini juga menunjukkan pentingnya transparansi penuh dari pihak pengelola.

Tanpa sistem kontrol yang jelas, praktik buruk bisa berlangsung lama tanpa terdeteksi.

Berikut tanda-tanda yang wajib diperhatikan sebelum memilih tempat penitipan anak:

1. Tidak Ada Akses CCTV Real-Time
Daycare profesional seharusnya menyediakan akses CCTV yang bisa dipantau orang tua kapan saja, bukan hanya rekaman pilihan.

2. Pengasuh Sering Berganti
Tingginya turnover bisa menjadi tanda lingkungan kerja tidak sehat atau manajemen bermasalah.

3. Area Tertutup Tanpa Pengawasan
Ruang tanpa kamera atau akses terbatas berpotensi menjadi lokasi terjadinya kekerasan.

4. Anak Sering Pulang dengan Luka Tanpa Penjelasan Jelas
Jangan anggap sepele luka kecil yang berulang. Ini bisa menjadi tanda awal kekerasan.

5. Komunikasi Tertutup dari Pihak Daycare
Pengelola yang defensif atau menghindari pertanyaan adalah red flag besar.

6. Rasio Pengasuh dan Anak Tidak Seimbang
Terlalu banyak anak dengan sedikit pengasuh meningkatkan risiko penelantaran.

7. Tidak Ada Standar Operasional yang Jelas
Daycare yang baik memiliki SOP tertulis terkait keamanan, kesehatan, dan penanganan darurat.

Selain faktor eksternal, orang tua juga harus peka terhadap kondisi anak.

Beberapa tanda trauma pada anak kecil antara lain:

  • Tiba-tiba menjadi sangat pendiam atau penakut
  • Mengalami regresi (misalnya kembali mengompol)
  • Sering menangis tanpa sebab jelas
  • Mengalami mimpi buruk atau sulit tidur

Kesaksian orang tua seperti Aldewa menjadi contoh nyata bagaimana tanda-tanda ini sering terlewat.

“Terakhir kemarin dijemput mbahnya itu ada luka lebam di kaki. Istri saya bilang kayaknya jatuh deh. Ya sudah, saya juga enggak tanya pihak sekolah,” kata Aldewa.

Insting orang tua adalah alat deteksi paling kuat. Jika merasa ada yang tidak beres, jangan abaikan.

Kasus 103 anak di Yogyakarta harus menjadi momentum untuk memperketat standar keamanan daycare di Indonesia.

Orang tua perlu lebih kritis, sementara pengelola wajib mengedepankan transparansi dan keselamatan anak di atas segalanya.

Jangan pernah ragu untuk memindahkan anak jika Anda merasa ada yang tidak beres.

Keselamatan dan kesehatan mental anak jauh lebih berharga daripada biaya pendaftaran yang sudah dibayarkan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.