Ramai Beredar di Medsos Harga Asli Pertalite Lebih Mahal dari Pertamax, Penjelasan Pertamina
Amalia Husnul A May 08, 2026 06:09 AM

 

TRIBUNKALTIM.CO - Di media sosial (medsos) ramai beredar video yang memperlihatkan struk pembelian BBM Pertamina jenis Pertalite yang kemudian memicu pertanyaan terkait perbandingan harga dengan Pertamax.

Dalam video yang ramai beredar tersebut, konsumen mempertanyakan soal harga asli Pertalite. 

Harga asli Pertalite yang merupakan BBM subsidi lebih mahal daripada harga Pertamax yang termasuk BBM nonsubsidi.

Dalam video yang diunggah ulang oleh akun Instagram @cobisnis, terlihat struk pembelian berasal dari SPBU Tol Jakarta-Merak. 

Baca juga: Antrean BBM Masih Terjadi, Pertamina Sebut Penyaluran Solar dan Pertalite di Balikpapan Lebihi Kuota

Pada lembar struk tertulis harga Pertalite non-subsidi sebesar Rp 16.088.

Harga tersebut kemudian disubsidi oleh pemerintah sebesar Rp 6.088. 

Sehingga, masyarakat hanya perlu membayar Rp 10.000 per liter.

Perekam video tersebut mempertanyakan mengapa harga Pertalite non-subsidi lebih tinggi dari Pertamax.

Saat ini, Pertamax yang disebut-sebut sebagai BBM non-subsidi dibanderol Rp 12.300 per liter (per 4 Mei 2026 untuk wilayah DKI Jakarta). 

Penjelasan Pertamina

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan, harga Pertamax saat ini Rp 12.300 per liter adalah bukan harga keekonomian yang riil atau mengacu harga pasar. 

"Melainkan adalah harga terakhir yang berdasarkan kebijakan dan kordinasi pemerintah dengan Pertamina.

Maka per 1 April, harga Pertamax tersebut tidak dilakukan penyesuaian harga dan masih tetap menggunakan harga Rp 12.300 per liter," ujar Roberth, saat dihubungi Kompas.com, Kamis (7/5/2026).

Roberth menambahkan, istilah gampang yang bisa disubsidi pakainya.

Sebab, Pertamax adalah BBM non-subsidi.

"Tepatnya adalah selisih antara harga keekonomian atau harga pasar versus harga jual di SPBU ditanggung sementara oleh pemerintah," kata Roberth.

"Hal ini untuk tetap menjaga daya beli dan tetap berputarnya roda ekonomi masyarakat," ujarnya.  

Namun, Roberth tidak menjawab ketika ditanya berapa harga asli dari Pertamax.

Dia hanya menyebutkan bahwa jenis BBM Pertamina lainnya memiliki selisih harga yang tidak jauh berbeda.

"Yang pasti (harga Pertamax) di atas itu. Logikanya begini, Pertamax, Pertamax Green, Pertamax Turbo, itu kan RON 92, 95, 98, yaa tipis-tipis lah beda harganya," katanya.

Sementara itu, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus pakar bahan bakar dan pelumas, Tri Yuswidjajanto Zaenuri, menjelaskan harga Pertalite (RON 90), Pertamax (RON 92), Pertamax Green (RON 95), secara keekonomian sebenarnya tidak terlalu beda jauh. 

Jika membandingkan dengan pasar luar negeri, seperti di Singapura, maka selisih harga untuk RON 92, RON 95, dan RON 98 memang tipis.

Namun, di Indonesia muncul anomali di mana harga asli atau nilai keekonomian Pertalite disebut mencapai Rp 16.088, sementara Pertamax justru bisa dibanderol Rp 12.300.

Strategi Bisnis dan Migrasi Pengguna

Lantas, mengapa harga Pertamax yang secara kualitas lebih tinggi justru bisa lebih murah dari nilai asli Pertalite yang notabene adalah BBM subsidi?

Menurut Yuswidjajanto, hal ini merupakan bagian dari taktik pemasaran.

"Itu adalah strategi bisnis, supaya pengguna Pertalite mau berpindah ke Pertamax. Apalagi, setelah adanya penertiban barcode untuk bisa membeli BBM bersubsidi bagi kendaraan yang tidak sesuai dengan aturan," ujar Yuswidjajanto, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini.

Harapannya, selisih harga yang kompetitif tersebut dapat memicu kesadaran pemilik kendaraan untuk beralih ke BBM yang lebih berkualitas dan ramah lingkungan.

"Kalau migrasi itu terjadi, mestinya anggaran subsidi BBM bisa berkurang dan bisa dimanfaatkan untuk sektor lain yang lebih bermanfaat," kata Yuswidjajanto.

Subsidi Salah Sasaran

Lebih lanjut, Yuswidjajanto menyoroti masalah klasik mengenai penyaluran subsidi di Indonesia yang hingga kini dinilai masih belum tepat sasaran karena melekat pada komoditas, bukan subjek.

"Subsidi seharusnya melekat pada orang, bukan pada barang. Sehingga, BBM subsidi tidak bisa/boleh dibeli oleh orang yang mampu. Sayangnya, kesadaran itu belum tumbuh di masyarakat kita, sehingga kebocoran subsidi masih sangat besar," ujarnya.

Terkait harga Pertamax yang saat ini berada di angka Rp 12.000-an, ia memberikan catatan penting mengenai status subsidi di balik angka tersebut.

Yuswidjajanto menambahkan, Pertamax bisa dijual di angka Rp 12.300 karena disubsidi oleh Pertamina, bukan oleh negara.

Berbeda statusnya dengan Pertalite yang disubsidi pemerintah.

Dengan skema ini, beban subsidi negara diharapkan bisa ditekan sembari mendorong masyarakat kelas menengah ke atas untuk menggunakan BBM nonsubsidi yang sesuai dengan spesifikasi mesin kendaraan modern.

Baca juga: Naik Lagi, Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Senin 4 Mei 2026, Cek Pertamax Turbo dan Pertamina Dex

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.