Hantavirus Terdeteksi di Indonesia, Penelitian Ungkap Virus Ada sejak 1980-an, Ancaman Tak Terlihat
Whiesa Daniswara May 08, 2026 12:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Hantavirus telah terdeteksi di Indonesia yakni tepatnya di Jakarta dan Yogyakarta.

Awalnya, kasus hantavirus muncul dari perjalanan kapal pesiar milik Belanda, MV Hondius.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI, Aji Muhawarman, mengungkapkan di Indonesia sepanjang tahun 2024 hingga 2026 ada 23 kasus terkonfirmasi positif hantavirus dengan jumlah korban yang meninggal ada tiga orang.

"Saat ini ada 2 kasus suspek di  DKI Jakarta dan DIY dalam proses pemeriksaan konfirmasi kasus," ungkapnya kepada Tribunnews.com, Jumat (8/5/2026).

Namun, ternyata hantavirus sudah terdeteksi di Indonesia sejak puluhan tahun silam.

Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, penelitian menunjukkan bahwa virus ini telah ada di Indonesia sejak tahun 1980-an.

Studi komprehensif yang dilakukan di berbagai kota besar menemukan bahwa seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6 persen.

Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus ini, meskipun mungkin tidak pernah terdiagnosis.

Lebih jauh lagi, pada populasi tikus sebagai reservoir utama, angka infeksi bahkan bisa mencapai 0-34 persen.

Ini menunjukkan bahwa virus tersebut beredar aktif di lingkungan, terutama di wilayah dengan kepadatan rodensia tinggi.

Dalam dokumen resmi Kementerian Kesehatan, hantavirus disebut sebagai zoonosis emerging, penyakit baru yang muncul dan berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat.

Baca juga: Hantavirus yang Menewaskan 11 Orang Sebuah Desa di Argentina Bermula dari Pesta Ulang Tahun

Masalahnya bukan sekadar ada atau tidaknya virus ini.

Masalah utamanya adalah kita sering tidak menyadari keberadaannya.

Di Indonesia, penyakit dengan gejala demam lebih sering langsung diasosiasikan dengan dengue, tifoid, atau leptospirosis.

Padahal, hantavirus memiliki gejala awal yang hampir identik yakni demam, nyeri otot, mual, dan kelelahan.

Akibatnya, banyak kasus kemungkinan besar salah diagnosis atau tidak terdeteksi sama sekali.

Fenomena ini dikenal sebagai “iceberg phenomenon”, yang terlihat hanya sebagian kecil, sementara kasus sebenarnya jauh lebih besar di bawah permukaan.

Cara Penularan Hantavirus

Hantavirus menyebar melalui sesuatu yang sering kita anggap sepele yakni melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus.

Dalam pedoman nasional disebutkan bahwa penularan terutama terjadi melalui aerosolized excreta dari rodensia.

Dengan kata lain, seseorang tidak perlu digigit tikus untuk tertular.

Cukup berada di lingkungan dengan manifestasi tikus dan menghirup udara yang terkontaminasi.

Baca juga: Singapura Rilis Kronologis Pasien Suspek Hantavirus Bisa Sampai ke Negaranya

Berbeda dengan banyak penyakit infeksi lain, hantavirus tidak bisa dikendalikan hanya dengan obat atau vaksin (yang hingga kini belum ada yang disetujui secara luas).

Pengendalian hantavirus sangat bergantung pada pengendalian populasi tikus, perbaikan sanitasi lingkungan, edukasi masyarakat, dan surveilans berbasis risiko.

Dalam pedoman Kemenkes, pendekatan yang dianjurkan mencakup pengendalian reservoir secara terpadu, perbaikan sanitasi lingkungan, dan komunikasi risiko kepada masyarakat.

Ini menunjukkan bahwa hantavirus adalah contoh nyata pendekatan One Health, yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Respons WHO terhadap Kasus Hantavirus

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, memberi penjelasan tentang sekelompok kasus hantavirus yang terkait dengan kapal pesiar MV Hondius.

Sejauh ini telah dilaporkan delapan kasus, termasuk tiga kematian.

Lima dari delapan kasus tersebut telah dikonfirmasi sebagai hantavirus.

Virus hanta yang terlibat adalah virus Andes, satu-satunya spesies yang diketahui mampu menular secara terbatas antar manusia, terkait dengan kontak dekat dan berkepanjangan.

“Meskipun ini adalah insiden serius, WHO menilai risiko kesehatan masyarakatnya rendah," kata Tedros, Kamis (7/5/2026), dilansir laman resmi WHO.

PASIEN HANTAVIRUS DIEVAKUASI - Tiga pasien suspek dari kapal MV Hondius dievakuasi pada Rabu pagi waktu setempat (6/5/2026) menuju Belanda.
PASIEN HANTAVIRUS DIEVAKUASI - Tiga pasien suspek dari kapal MV Hondius dievakuasi pada Rabu pagi waktu setempat (6/5/2026) menuju Belanda. (Akun X resmi Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesu)

Ia mencatat bahwa mengingat masa inkubasi, “ada kemungkinan lebih banyak kasus yang akan dilaporkan.”

WHO berkoordinasi erat dengan berbagai negara di bawah Peraturan Kesehatan Internasional atau IHR, peraturan yang mendefinisikan hak dan kewajiban negara dan WHO dalam menanggapi peristiwa kesehatan masyarakat.

Peristiwa ini menunjukkan mengapa IHR ada, menunjukkan pentingnya kerja sama dan solidaritas global dalam menanggapi ancaman kesehatan yang tidak mengenal batas negara.

“Prioritas kami adalah memastikan pasien yang terdampak menerima perawatan, penumpang yang tersisa di kapal tetap aman dan diperlakukan dengan bermartabat, serta mencegah penyebaran virus lebih lanjut,” kata Tedros.

Gejala Penyakit Hantavirus

Pada manusia, gejala biasanya mulai muncul antara satu hingga delapan minggu setelah terpapar, tergantung pada jenis virusnya, dan biasanya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, dan gejala gastrointestinal seperti sakit perut, mual, atau muntah.

Dikutip dari laman WHO, pada HCPS, penyakit ini dapat berkembang dengan cepat menjadi batuk, sesak napas, penumpukan cairan di paru-paru, dan syok.

Pada HFRS, stadium lanjut dapat mencakup tekanan darah rendah, gangguan pembekuan darah, dan gagal ginjal.

Baca juga: Argentina Selidiki Lokasi Awal Penyebaran Hantavirus, Wabah Mematikan di Kapal Pesiar MV Hondius

Tidak ada pengobatan antivirus spesifik atau vaksin berlisensi untuk infeksi hantavirus.

Perawatan bersifat suportif dan berfokus pada pemantauan klinis yang ketat serta penanganan komplikasi pernapasan, jantung, dan ginjal.

Akses dini ke perawatan intensif, bila diindikasikan secara klinis, meningkatkan hasil, terutama untuk pasien dengan sindrom kardiopulmoner hantavirus.

Pencegahan dan pengendalian

Pencegahan infeksi hantavirus terutama bergantung pada pengurangan kontak antara manusia dan hewan pengerat.

Langkah-langkah efektif meliputi:

  1. Menjaga kebersihan rumah dan tempat kerja;
  2. Menutup celah yang memungkinkan hewan pengerat masuk ke dalam bangunan;
  3. Menyimpan makanan dengan aman;
  4. Menggunakan praktik pembersihan yang aman di area yang terkontaminasi oleh hewan pengerat;
  5. Menghindari menyapu kering atau menyedot kotoran tikus dengan penyedot debu;
  6. Membasahi area yang terkontaminasi sebelum dibersihkan;
  7. Memperkuat praktik kebersihan tangan.

Selama wabah atau ketika kasus dicurigai, identifikasi dan isolasi dini kasus, pemantauan kontak dekat, dan penerapan langkah-langkah pencegahan infeksi standar sangat penting untuk membatasi penyebaran lebih lanjut.

(Tribunnews.com/Nuryanti/Willy Widianto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.