Akademisi UIN Ar-Raniry Soroti Pentingnya Etika dan Kompetensi dalam Komunikasi Islam
Amirullah May 08, 2026 01:03 PM

Oleh: Salma Zayyan (mahasiswa komunikasi dan penyiaran Islam)

SERAMBINEWS.COM - Akademisi fakultas dakwah dan komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Drs Syukri Syama'un, M.Ag., menilai bahwa perkembangan komunikasi Islam di Aceh saat ini memiliki berbagai tantangan, terutama dalam penyampaian informasi di era modern.

Syukri menjelaskan bahwa komunikasi Islam berkaitan dengan penyampaian pesan agama oleh komunikator atau di sebut sebagai dai. Namun, menurutnya tidak semua orang harus menjadi dai, melainkan seseorang itu  harus memahami dan memiliki ilmu terhadap apa yang dia disampaikan kepada masyarakat.

Syukri menyoroti masih banyaknya masyarakat yang menyampaikan informasi tanpa pemahaman yang cukup sehingga dapat menimbulkan kesalahpahaman. Karena itu, seorang komunikator dinilai harus memiliki kompetensi dan memahami materi yang disampaikan.

“Komunikator harus paham dengan apa yang dia sampaikan dan memiliki ilmu tentang hal tersebut,” ujarnya.

Selain membahas komunikasi Islam, Syukri juga menyoroti pentingnya budaya Aceh dalam membentuk pola komunikasi masyarakat. Ia menjelaskan bahwa salah satu fungsi komunikasi adalah sebagai sarana pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Budaya Aceh, menurutnya, memiliki banyak nilai positif yang dapat membentuk komunikasi yang baik dalam kehidupan sosial masyarakat. Salah satu contohnya adalah budaya gotong royong yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat Aceh.

Namun, Syukri sebagai dosen yang ahli di bidang komunikasi dan dakwah menilai budaya tersebut mulai jarang diterapkan dan kurang dikomunikasikan kepada generasi muda saat ini. Karena itu, diperlukan upaya untuk terus menjaga dan memperkenalkan nilai budaya Aceh agar tidak hilang seiring perkembangan zaman.

Terkait tantangan komunikasi Islam di era modern, Syukri mengatakan bahwa persoalan terbesar saat ini terletak pada kualitas informasi yang diterima masyarakat. Menurutnya, masyarakat sering kesulitan memperoleh informasi yang benar-benar netral dan dapat dipercaya.

Ia menambahkan bahwa informasi yang tidak jelas sumbernya dapat menimbulkan bias serta memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam menerima maupun menyebarkan informasi.

Pada akhirnya, ia menyampaikan pesan kepada generasi muda agar selalu menjaga etika dalam berkomunikasi, baik sebagai penyampai pesan maupun sebagai penerima informasi. Menurutnya, masyarakat harus mampu memilah informasi yang diterima dan tidak mudah menghakimi pendapat orang lain.

Syukri juga mengingatkan pentingnya sikap bijak dalam menanggapi perbedaan pendapat. Jika tidak setuju terhadap suatu informasi atau pendapat, masyarakat diharapkan tetap menghargai orang yang menyampaikan pesan dan menyampaikan tanggapan dengan bahasa yang baik dan santun.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.