Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengerahkan 200 petugas kebersihan di sepanjang Jalan HR Rasuna Said, yang menjadi lokasi deklarasi “Jaga Jakarta Bersih, Pilah Sampah” dalam rangkaian Pencanangan HUT ke-499 Kota Jakarta pada Minggu, 10 Mei 2026.
"Untuk memastikan kawasan kegiatan tetap bersih, nyaman, dan tertata, DLH (Dinas Lingkungan Hidup) DKI Jakarta mengerahkan 200 petugas kebersihan beserta sarana dan prasarana pendukung di sepanjang Jalan HR Rasuna Said," kata Kepala DLH DKI Jakarta Dudi Gardesi di Jakarta, Sabtu.
Dia mengatakan jajarannya juga menyiagakan fasilitas berupa tiga unit road sweeper, dua truk anorganik, dua truk compactor listrik, 100 dust bin, tiga tong sulo, 1.000 kantong plastik, lima bus toilet, dua tangki air kotor, dan dua tangki air bersih.
Dalam kegiatan deklarasi “Jaga Jakarta Bersih, Pilah Sampah” di Koridor Jalan HR Rasuna Said, pedestrian Pasar Festival itu, Pemprov DKI mengajak warga untuk bergerak bersama memilah sampah dari rumah.
Dudi mengatakan pemilahan sampah dari sumber merupakan langkah penting untuk memperkuat pengelolaan sampah di Jakarta. Mayoritas timbulan sampah berasal dari rumah tangga, sementara hampir separuhnya merupakan sampah organik dan sebagian lainnya masih berpotensi didaur ulang.
“Melalui Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber, kami ingin mengajak masyarakat memahami bahwa memilah sampah bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bersama untuk menyelamatkan Jakarta dari darurat sampah,” ujar Dudi.
Dia menjelaskan apabila pemilahan dilakukan sejak dari rumah, maka sebagian besar sampah dapat diselesaikan di tingkat hulu. Sampah organik dapat diolah, sementara sampah anorganik dapat didaur ulang atau ditabung, sehingga hanya sampah residu yang perlu dikirim ke fasilitas pengolahan akhir.
Menurut Dudi, langkah tersebut semakin penting karena mulai 1 Agustus 2026, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang hanya menerima sampah residu.
Bahkan, pada 2027, TPST Bantargebang ditargetkan tidak lagi menerima sampah. Oleh karena itu, perubahan perilaku warga menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Sejumlah wilayah, salah satunya Kelurahan Rorotan, sudah mulai menerapkan sistem pemilahan sampah dan akan dijadikan sebagai model yang direplikasi ke berbagai wilayah lain di Jakarta.
Dudi menilai praktik baik di tingkat kelurahan menunjukkan pengurangan sampah dari sumber dapat dilakukan apabila pemerintah, warga, dan kolaborator bergerak bersama.
Warga dapat mengikuti aktivitas menabung sampah anorganik untuk memahami sampah yang dipilah dengan baik dapat memiliki nilai ekonomi.
“Gerakan memilah sampah organik, anorganik, limbah B3 rumah tangga, dan residu dari sumber merupakan langkah sederhana, tetapi berdampak besar bagi masa depan Jakarta yang lebih bersih dan berkelanjutan,” pungkas Dudi.





