TRIBUNSUMSEL.COM - Temuan dua jenazah yang menempel dalam satu kantong jenazah korban kecelakaan bus ALS dan truk tangki BBM di Kabupaten Muratara, Sumatra Selatan, pada Rabu (6/5/2026) siang, menjadi salah satu fakta memilukan.
Karumkit RS Bhayangkara Moh. Hasan Palembang, Kombes Pol. Budi Susanto, menjelaskan bahwa temuan ini terungkap saat petugas melakukan pemeriksaan mendalam terhadap 16 kantong jenazah yang tiba dari lokasi kejadian.
Berdasarkan pemeriksaan Tim Disaster Victim Identification (DVI) RS Bhayangkara Moh. Hasan Palembang, kondisi dua jenazah tersebut sedang berpelukan.
Baca juga: Satu Kantong Berisi Dua Jasad, Korban Meninggal Insiden Bus Terbakar di Muratara Capai 18 Jiwa
Awalnya, pihak kepolisian mengasumsikan satu kantong berisi satu jenazah.
Kondisi saling menempel di bagian ketiak sehingga sempat diduga berasal dari satu korban.
Namun, saat memeriksa kantong dengan nomor label PM008, tim medis menemukan dua sampel biologis yang berbeda.
"Pada label penomoran PM008, itu kita menemukan ada dua sampel yang berbeda dalam satu kantong jenazah tadi. Lengket dia," ungkap Kombes Pol. Budi di RS Bhayangkara kepada Tribunsumsel.com.
Setelah dilakukan pendalaman secara ilmiah, tim berhasil mengidentifikasi bahwa salah satu dari jenazah yang menempel tersebut diduga kuat merupakan seorang balita.
"Didapatkan memang dia tidak identik dengan jenazah yang satu lagi. Kemungkinan adalah jenazah balita atau kurang dari lima tahun," tambahnya.
Temuan ini membuat kantong PM008 kini memiliki dua penomoran baru, yakni 08B dan 08C.
Ketika ditanya jenis kelamin kedua body part itu, dr. Budi menambahkan bahwa dirinya belum bisa memastikan.
Ia meminta keluarga korban untuk membantu memberikan data tambahan, seperti baju atau benda milik korban yang mengandung epitel kulit atau sikat gigi, guna mencocokkan profil DNA dengan jenazah yang ditemukan.
Tingkat kerusakan tubuh korban akibat luka bakar menjadi tantangan terberat bagi tim ahli.
Menurut Kombes Pol. Budi, hampir seluruh jenazah yang diterima sudah tidak berbentuk lagi, sehingga identifikasi visual melalui wajah, sidik jari, maupun gigi sangat sulit dilakukan.
Kondisi panas yang ekstrem saat kebakaran terjadi menyebabkan pakaian hingga material bus seperti jok melekat erat pada tubuh para korban.
Bahkan, struktur tulang para korban rata-rata dilaporkan sudah dalam kondisi hancur lebur.
"Kalau secara visual, secara fisik, jaringannya itu lengket hancur, jadi organ reproduksi pun kita tidak bisa mengidentifikasi."
Tim mengambil sampel dari bagian tubuh atau jaringan yang dianggap mengandung "bibit" DNA terbaik untuk dikirim ke Pusdokkes Polri.
"Untuk tulang sudah hancur lebur, karena badan dia lengket termasuk mungkin joknya juga lengket di situ, jadi tidak semua sampel yang kita berikan, tapi kita pilih yang mengandung bibit unsur DNA-nya," ujarnya.
Proses identifikasi ini diperkirakan memakan waktu paling cepat 5 hari dan paling lama sekitar 12 hingga 14 hari, tergantung pada kondisi spesimen yang diterima oleh laboratorium.
Di sisi lain, Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Selatan (Sumsel) tengah melakukan pendalaman intensif terkait ketidaksesuaian data manifes penumpang bus Antar Lintas Sumatera (ALS) yang mengalami kecelakaan maut di Musi Rawas Utara (Muratara), Rabu (6/5/2026).
Hingga saat ini, jumlah pasti korban dalam insiden tragis tersebut masih simpang siur akibat adanya dugaan penumpang tidak resmi atau penumpang gelap yang tidak terdaftar dalam manifes keberangkatan.
Berdasarkan manifes resmi, bus tersebut tercatat hanya membawa lima orang penumpang.
Namun, saat kecelakaan terjadi, ditemukan total 18 orang di dalam bus yang terdiri dari 14 penumpang dan 4 kru bus.
Berdasarkan hasil olah TKP oleh Ditlantas Polda Sumsel dan Satlantas Polres Musirawas Utara, penyebab utama kecelakaan maut di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Kecamatan Karang Jaya ini adalah upaya bus menghindari lubang.
Kapolres Muratara, AKBP Rendy Surya Aditama, menjelaskan bahwa bus ALS dengan nomor polisi BK-7778-DL yang dikemudikan Alif hilang kendali saat mencoba menghindari lubang jalan.
"Bus berbelok ke kanan dari arah Lubuk Linggau menuju Jambi, kemudian menabrak mobil tangki Seleraya dari arah berlawanan. Akibat kejadian tersebut, pengemudi dan penumpang mobil Seleraya meninggal dunia terbakar di dalam mobil," ungkap AKBP Rendy.
Petugas juga menemukan sejumlah barang bawaan yang diduga memicu besarnya api, di antaranya:
Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut, termasuk kemungkinan pemanggilan pihak manajemen bus ALS untuk dimintai keterangan terkait standar operasional dan prosedur pengangkutan penumpang.
Berikut adalah identitas nama 17 korban tewas :
3 Korban Selamat
Hingga saat ini, tercatat ada 3 orang yang selamat dan mendapat perawatan medis.
Tiga di antaranya mengalami luka bakar serius akibat ledakan minyak mentah dan saat ini tengah berjuang dalam perawatan intensif di RSUD Rupit.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com