TRIBUNJAKARTA.COM - Jelang laga melawan Persib Bandung, pelatih dan pemain Persija Jakarta, serta Jakmania kompak. Mereka mewanti-wanti satu hal, kartu merah.
Laga bertajuk El Clasico itu akan berlangsung di Stadion Segiri, Samarinda (10/5/2026) pukul 15.30 WIB, dengan Persija sebagai tuan rumah.
Peringatan akan kartu merah ini datang dari El Clasico putaran pertama. Di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Bandung, 11 Januari 2025, Persija kalah dari Persib 1-0.
Kekalahan itu dituding lantaran, pemain Persija, Bruno Tubarao mendapat kartu merah pada babak kedua.
Persija dianggap bisa menyamakan kedudukan ataupun membalikan keadaan, namun karena bermain dengan 10 pemain, hal itu menjadi berat.
Terlebih, laga pekan ke-32 Super League 2025-2026 ini cukup menentukan peluang juara.
H-2 jelang laga penting melawan Persib (10/5/2026). Ratusan suporter hadir langsung di Persija Training Ground, Bojongsari, Jumat (8/5/2026) pagi, untuk memberikan dukungan penuh kepada Rizky Ridho dkk.
Sejak sesi latihan berakhir, nyanyian, chant, dan sorakan dukungan terus menggema di sekitar lapangan. Kehadiran Jakmania di tengah persiapan tim menjadi energi ekstra yang begitu berarti bagi skuad Macan Kemayoran.
Para pemain menerima dengan tangan terbuka. Mereka pun tampak larut dalam suasana haru dan penuh motivasi. Pemain menyapa dan menerima dukungan itu dengan penuh rasa hormat, hingga berakhir dengan menyanyikan bersama lagu “Satu Jiwa”.
Jakmania menegaskan loyalitas mereka kepada Persija tidak akan luntur meski laga tak digelar di Jakarta. Mereka berharap Macan Kemayoran mampu membawa pulang kemenangan.
Jakmania pun meminta para pemain tampil disiplin dan tidak mudah terpancing emosi. Evaluasi dari pertemuan pertama, termasuk kartu merah Bruno Tubarao, menjadi pengingat agar tim bermain lebih dewasa dan all out demi menjaga harga diri klub.
Meski pertandingan digelar di Stadion Segiri, Samarinda, Jakmania memastikan dukungan untuk Persija tidak akan berhenti, baik dengan hadir langsung maupun lewat doa dari Jakarta.
"Setiap pertandingan lawan Persib Bandung, kita selalu ada banyak kekurangan, satu perihal kartu merah kita. Kami harap pemain semua bermain hati-hati."
“Untuk semua pemain, besok kami akan berangkat ke Samarinda, dan di Jakarta yang tidak berangkat mendoakan kalian semua. Kita semua harus bermain all out. Amin, amin, besok kita meraih kemenangan," kata Ronaldo Marcofan Basten, Korwil Kebagusan yang mewakili The Jakmania.
Paulo Ricardo, bek Persija memahami laga antara Persija dan Persib selalu menghadirkan atmosfer berbeda. Situasi itu dinilai dapat memengaruhi emosi pemain apabila tidak disikapi dengan baik.
Maka, pemain asal Brasil tersebut meminta seluruh kawan-kawannya tetap menjaga konsentrasi dan tidak mudah terpancing suasana pertandingan. Ia menilai ketenangan menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga performa tim di lapangan.
Paulo mengakui bahwa tekanan dan tensi tinggi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pertandingan besar. Namun ia menegaskan bahwa pemain harus mampu menempatkan emosi secara tepat agar tidak merugikan tim sendiri.
“Setiap pertandingan kami perlu mengontrol emosi. Terkadang hal-hal masuk ke hati dan membuat kepala menjadi panas, itu bisa saja terjadi. Kami adalah manusia dan itu sangat mungkin terjadi. Itulah sepak bola, kami harus bermain dengan hati, tapi saya selalu katakan kepada rekan-rekan, ‘Tolong mari kita kontrol emosi,” kata Paulo, dikutip dari laman Persija, Jumat (8/5/2026).
Menurut Paulo, kehilangan kontrol emosi dapat memengaruhi pengambilan keputusan pemain dan berdampak langsung terhadap jalannya laga.
Karena itu, Paulo terus mengingatkan rekan-rekannya untuk lebih fokus pada permainan dibanding hal-hal di luar aspek teknis pertandingan. Baginya, Persija harus tetap menunjukkan karakter kuat dan mentalitas positif demi meraih hasil terbaik.
“Jadi, tolong tetap fokus pada permainan dan mari coba berikan yang terbaik. Ini adalah pertandingan yang penting, tentu kami ingin menang, jadi kami harus memiliki kontrol emosi tersebut. Tapi jika terkadang hal-hal lain terjadi, kami manusia biasa. Itu bisa terjadi,” tuturnya.
Senada dengan Paulo, Pelatih Persija, Mauricio Souza pun menginstruksikan para pemain agar menjaga emosi di laga bertajuk El Clasico itu.
“Hal yang paling utama adalah kami harus mengakhiri pertandingan dengan 11 pemain. Pertandingan pertama itu sebenarnya sangat seimbang. Pada satu-satunya peluang yang didapatkan Bandung, mereka berhasil mencetak gol karena kesalahan kami."
"Kemudian di babak kedua kami mendapati satu pemain kartu merah, sehingga menjadi sangat sulit bermain melawan tim besar seperti Bandung,” ujar Mauricio, dikutip dari laman Persija, Kamis (7/5/2026).