'Tank Swedia' Volvo 244DL Ini Padukan Visual Hot Rod Amerika dan Reli Eropa
Joko Widiyarso May 09, 2026 06:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah dominasi mobil modern dengan desain serba digital dan minim karakter mekanis, kehadiran Volvo 244 DL milik Ramadhan Arif Fatkhur justru mencuri perhatian dengan pendekatan berbeda.

Sedan klasik asal Swedia itu tampil dengan nuansa reli era 1980an lengkap dengan efek bodi usang khas hot rod Amerika, namun tetap mempertahankan sebagian besar komponen orisinalnya.

Bagi Rama, sapaan akrabnya, mobil lawas bukan sekadar kendaraan koleksi, melainkan media ekspresi.

Karena itu, ketika mendapatkan Volvo 244DL tahun 1976 tersebut, ia memilih tidak melakukan restorasi penuh ala showroom.

Sebaliknya, ia justru mempertahankan karakter tua mobil dan menggabungkannya dengan sentuhan visual rally look yang jarang ditemui di Indonesia.

“Waktu saya dapat sebenarnya mobil ini sudah dirawat pemilik sebelumnya. Saya cuma kasih nuansa yang lebih muda, dicoret-coret dan dibuat ala rally tahun 80-an,” ujarnya.

Konsep tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Di dunia otomotif, Volvo dikenal punya sejarah panjang di ajang reli, terutama karena konstruksi bodi dan ketahanan mesinnya yang terkenal kuat. Karakter itulah yang ingin diangkat Rama melalui proyek modifikasinya.

Namun perubahan yang dilakukan sebenarnya tidak terlalu ekstrem. Sektor mesin misalnya, masih mempertahankan spesifikasi bawaan pabrik.

Hanya bagian karburator yang diganti menggunakan komponen Jepang demi memudahkan penyetelan sekaligus membuat konsumsi bahan bakar lebih efisien.

Sebagian besar kaki-kaki, suspensi, hingga interior juga tetap dipertahankan dalam kondisi asli. Bahkan bumper depan dan belakang masih menggunakan shock bawaan yang tetap berfungsi normal hingga sekarang.

“Interior enggak ada yang berubah sama sekali. Semuanya masih orisinal dan memang kualitas Volvo bagus banget. Semua indikator juga masih hidup,” kata Rama.

Nuansa hot rod Amerika 

Di sektor visual, ia memadukan dua pendekatan berbeda. Nuansa hot rod Amerika dihadirkan lewat efek rusty look pada bodi, sementara karakter reli Eropa diperkuat dengan grafis serta pinstripe lettering khas mobil balap lawas. Semuanya itu ia garap sendiri. 

Efek cat usang itu tidak dibuat sembarangan. Rama yang juga perupa ini sengaja menempatkan detail pelunturan warna di area-area yang secara logis memang rentan terkena cuaca atau gesekan, seperti tepian pintu, tekukan bodi, hingga bagian atap kabin.

“Kalau rusty-nya pakai cat mobil biasa terus dibuat luntur dengan teknik digosok. Jadi tetap terlihat natural,” ujarnya.

Meski usianya sudah hampir 50 tahun, Rama mengaku mobil tersebut masih sangat nyaman digunakan di jalanan perkotaan seperti Yogyakarta. Bahkan menurutnya, kenyamanan dan durability mobil klasik Eropa seperti Volvo lawas masih sulit disaingi mobil murah modern.

“Menurut saya mobil usia hampir 50 tahun ini masih worth it dibanding beli mobil LCGC sekarang. Kenyamanannya beda, ketangguhannya beda,” katanya.

Pandangan itu juga berkaitan dengan kualitas material dan daya tahan komponen khas mobil Eropa lama. Ia menilai harga spare part Volvo memang kadang lebih tinggi dibanding mobil Jepang, tetapi umur pakainya jauh lebih panjang.

“Kalau mobil Jepang mungkin harga spare part lebih murah, tapi Volvo ini bisa tahan beberapa kali lebih lama. Jadi sebenarnya tetap masuk akal,” ujarnya.

Ketertarikan Rama terhadap Volvo sendiri berawal dari reputasi merek tersebut sebagai pelopor berbagai teknologi keselamatan otomotif modern. Salah satu yang paling terkenal adalah seatbelt tiga titik yang hingga kini digunakan hampir seluruh produsen mobil dunia.

Pastikan standar keamanan  

Menurutnya, Volvo menjadi salah satu pabrikan yang berani membagikan teknologi keselamatan mereka demi standar keamanan berkendara yang lebih baik secara global.

“Banyak penemuan keselamatan pertama kali diadopsi Volvo. Seatbelt, sistem keamanan tabrakan, itu banyak yang akhirnya dipakai semua merek mobil,” kata dia.

Karena konstruksinya yang kokoh dan sederhana, Volvo lawas juga mendapat julukan “tank Swedia”. Julukan itu, menurut Rama, bukan sekadar gimmick.

Ia menilai banyak orang di Indonesia masih ragu meminang Volvo karena khawatir soal spare part dan biaya perawatan. Padahal, menurutnya, mobil tersebut justru cukup sederhana secara mekanis dan masih mudah dirawat.

“Orang sering takut karena mikir Volvo itu ribet dan mahal. Padahal sebenarnya simpel banget dan bandel,” ujarnya.

Rama juga melihat Volvo punya potensi besar untuk masuk ke kultur modifikasi anak muda. Selama ini mobil tersebut lebih identik dengan kendaraan keluarga atau mobil para diplomat era lama. Karena itu, ia mencoba menghadirkan pendekatan berbeda agar Volvo terlihat lebih liar dan ekspresif.

“Volvo sering dianggap mobil bapak-bapak. Saya pengin nunjukin kalau mobil ini juga bisa jadi mainan yang menarik buat anak muda,” katanya.

Menariknya lagi, harga Volvo lawas di pasar mobil bekas masih relatif terjangkau. Rama mengaku mendapatkan unit miliknya dengan harga di bawah Rp20 juta. Menurutnya, stigma bahwa mobil Eropa tua selalu mahal dan sulit dirawat tidak sepenuhnya benar untuk Volvo generasi lawas.

“Orang kadang mengira beli Volvo itu seperti beli Jaguar atau Mercy tua yang semuanya mahal. Padahal banyak part yang bisa diadaptasi juga, jadi sebenarnya cukup ramah,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.