Terungkap Mengapa Perusahaan Ramai-ramai Pecat Gen Z, Profesor Singgung Karakter yang Sulit Diterima
Murhan May 09, 2026 07:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID -  Generasi Z atau Gen Z disebut banyak yang dipecat dari perusahaan. Praktis, banyak dari mereka yang menganggur.

Lantas apa yang terjadi pada Gen Z? Survei Intelligent yang melibatkan lebih dari 200.000 responden dalam setahun terakhir mengungkap fakta mengejutkan. 

Ya, sebanyak enam dari sepuluh perusahaan memilih memecat karyawan Gen Z hanya beberapa bulan setelah mereka bekerja.

Hal ini seperti dilansir dari USA Today, Sabtu (9/5/2026), Profesor Suzy Welch dari New York University menilai temuan ini sebagai cerminan nyata dari benturan nilai antara generasi muda dan dunia kerja modern.

Melalui alat analisis The Values Bridge, Welch menemukan bahwa hanya 2 persen Gen Z yang memiliki nilai sesuai dengan standar manajer perekrutan.

Artinya, mayoritas Gen Z tidak menempatkan prestasi dan fokus kerja sebagai prioritas utama.

Baca juga: Sikap Teman-temannya Terungkap, Nasib Anak Andre Taulany Terimbas Kasus Erin Dilaporkan Aniaya ART

Sebaliknya, mereka lebih menjunjung tinggi perawatan diri, autentisitas, dan kepedulian sosial.

Ada perbedaan paradigma. Generasi Z menekankan keseimbangan hidup, kesehatan mental, dan ekspresi diri.

Sementara, perusahaan mengutamakan prestasi, produktivitas, dan semangat belajar dalam konteks profesional.

Welch menegaskan, nilai-nilai Gen Z tidak salah. Namun, konsekuensinya jelas. "Mereka mungkin tidak mendapatkan pekerjaan sesuai jurusan kuliah atau ekspektasi karier tradisional,"jelasnya.

Dampak Ekonomi dan Teknologi

Data Federal Reserve New York pada akhir 2025 menunjukkan tingkat pengangguran lulusan baru mencapai 5,7 persen, lebih tinggi dibanding kelompok usia lain.

Adapun faktor penyebabnya antara lain; perubahan struktural perusahaan, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang menggeser kebutuhan tenaga kerja, serta banyaknya lulusan berbakat kesulitan mendapatkan pekerjaan meski memiliki kemampuan akademik yang baik.

Hal ini memperlihatkan bahwa nilai dan sikap kerja kini sama pentingnya dengan ijazah.

Perspektif Sosial Gen Z

Generasi Z menolak pola kerja generasi sebelumnya yang dianggap tidak menjamin stabilitas hidup.

Mereka melihat orang tua yang kehilangan pekerjaan di usia produktif sebagai bukti bahwa loyalitas dan kerja keras tradisional tidak selalu berbuah manis.

Karena itu, Gen Z lebih memilih jalan hidup yang menekankan keseimbangan, kesehatan mental, dan kebebasan.

Namun, sikap ini membuat mereka sering berbenturan dengan ekspektasi perusahaan yang masih berorientasi pada target dan kemenangan.

Welch menyarankan agar Gen Z tidak perlu mengubah prinsip hidup mereka. Namun, mereka harus siap menerima konsekuensi dari pilihan tersebut.

Di sisi lain, perusahaan juga ditantang untuk beradaptasi dengan nilai-nilai baru generasi muda.

Solusi yang mungkin dilakukan ialah adaptasi perusahaan dengan menciptakan lingkungan kerja yang lebih fleksibel.

Fleksibilitas Gen Z dalam membuka diri terhadap berbagai jenis pekerjaan, tidak hanya terpaku pada jalur sesuai jurusan kuliah.

Oleh karena itu, Profesor New York University (NYU), Suzy Welch menilai, dari temuan tersebut memperlihatkan apa yang sedang terjadi di dunia kerja saat ini. Nilai-nilai yang dianut Gen Z melalui alat bernama The Values Bridge guna memetakan prioritas hidup seseorang berdasarkan nilai, bakat, dan minat.

"Dari data menunjukkan hanya 2 persen dari Generasi Z yang memiliki nilai-nilai yang diinginkan dan dicari oleh manajer perekrutan. 

Dari 98 persen yang tidak memiliki nilai-nilai yang dicari oleh manajer perekrutan, hanya 2 persen yang memilikinya itu angka yang sangat besar," kata Welch.

Tiga hal utama yang paling dijunjung Gen Z ialah perawatan diri, kebebasan mengekspresikan diri secara autentik, serta keinginan membantu orang lain.

"Bagi para manajer perekrutan, nilai nomor satu yang mereka cari adalah prestasi, keinginan untuk menang. Nilai nomor dua yang mereka cari adalah fokus pada pekerjaan, keinginan untuk bekerja," jelas Welch.

"Ketiga adalah ruang lingkup, yaitu keinginan untuk belajar, beraktivitas, dan berpetualang yang umumnya, saya akan menerjemahkannya di tempat kerja sebagai perjalanan," imbuh dia.

Welch menyebut, pekerja muda beranggapan bahwa pola kerja generasi sebelumnya tidak selalu menghasilkan kehidupan yang stabil.

Karenanya, mereka lebih mengutamakan keseimbangan hidup dan kesehatan mental dibandingkan mengejar karier secara agresif.

"Gen Z pada dasarnya mengatakan 'Saya tidak suka aturan-aturan itu. Itu adalah nilai-nilai Anda dan itu tidak berjalan dengan baik untuk generasi Anda. Saya tidak akan menerimanya. Orangtua saya memiliki nilai-nilai itu dan mereka menganggur pada usia 54 tahun'," tutur dia. 

"Jika mereka mempertahankan prinsip yang seharusnya mereka pertahankan tidak seorang pun boleh mengubahnya. Mereka harus memahami bahwa ada konsekuensinya dan tidak akan mendapatkan jenis pekerjaan yang mungkin telah dipersiapkan sesuai gelar sarjana mereka,"jelas  dia kemudian.

Mengenal Generasi Z dan Karakteristiknya

Generasi Z menjadi istilah yang seringkali diperbincangkan orang-orang selama beberapa tahun ke belakang.

Akan tetapi, belum banyak orang yang memahami apa itu generasi Z dan perbedaannya dengan generasi baby boomer, X, milenial atau Y, dan alpha.

Kelima istilah tersebut belakangan juga kerap disalahartikan padahal setiap generasi memiliki keunikan jika dilihat dari berbagai aspek.

Nah, supaya tidak keliru dan bisa lebih paham, simak penjelasan apa itu generasi Z yang berikut ini.

Dilansir dari Investopedia, generasi Z adalah orang-orang yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Batas usia tertua dari generasi ini adalah 25 tahun.

Jika dilihat dari tahun kelahirannya, sebagian besar generasi Z sudah menamatkan studi mereka di bangku kuliah per tahun 2022.

Tidak sedikit pula orang-orang yang lahir sebagai generasi Z sudah menikah dan mulai membangun keluarga.

Sayangnya, generasi Z diprediksi menghadapi masa depan yang lebih tidak pasti daripada generasi-generasi sebelumnya akibat pandemi Covid-19.

Perbedaan dengan generasi baby boomer, X, milenial, dan alpha

Nah, supaya lebih paham siapa itu generasi Z, ketahui perbedaannya dengan baby boomer, X, milenial, dan alpha di bawah ini.

1. Generasi baby boomer

Generasi baby boomer lahir setelah Perang Dunia II dengan rentang tahun kelahiran 1956 hingga 1964.

Istilah baby boomer lahir lantaran tingginya jumlah kelahiran selama waktu itu ketika Perang Dunia II usai.

Jika dilihat lebih detail, ada dua jenis generasi baby boomer, yakni baby boomer I yang lahir tepat setelah Perang Dunia II dan baby boomer II yang menjadi lanjutan dari generasi sebelumnya.

Generasi baby boomer dapat dikenali dari kepribadiannya yang mudah menerima, adaptif, dan diperkirakan punya kemapanan ekonomi, kesehatan, dan gaya hidup ketika usia produktif.

2. Generasi X

Generasi X adalah orang-orang yang lahir pada tahun 1965 hingga 1980. Generasi ini terbentuk ketika masa gejolak dan transisi global.

Salah satu peristiwa yang memengaruhi generasi Z adalah perang dingin antara Blok Barat (AS dan sekutunya) dengan Blok Timur (Uni Soviet).

Ketika mereka lahir, generasi X mulai mengenal penggunaan tv kabel, internet, hingga PC.

Tetapi, menurut penelitian Jane Deverson, sebagian generasi ini punya perilaku yang negatif, contohnya memakai ganja hingga tidak hormat dengan orangtua.

Untungnya, generasi X dikenal memiliki karakteristik yang logis, menjadi pemecah masalah yang baik, dan banyak akal.

3. Generasi milenial atau Y

Generasi milenial atau Y adalah orang-orang yang lahir pada tahun 1981 hingga 1995.

Generasi milenial telah mengenal teknologi, seperti video games, komputer, termasuk smartphone.

Seiring berjalannya waktu, mereka yang terlahir sebagai generasi milenial kerap menggunakan teknologi, mulai dari SMS, email, dan pesan instan.

Generasi tersebut memiliki karakteristik yang percaya diri, digital native, dan ambisius.

4. Generasi alpha

Generasi alpha lahir setelah generasi Z. Orang-orang yang termasuk generasi alpha lahir pada tahun 2013 hingga kini.

Per September 2022, mereka yang lahir sebagai generasi alpha berusia di bawah 12 tahun dan akan menjadi remaja tidak lama lagi.

Perlu diketahui kalau sebutan generasi alpha diciptakan oleh agensi konsultan McCrindle dalam laporan tahun 2008.

Menurut laporan terbaru, pada tahun 2025, generasi ini akan berjumlah lebih dari dua miliar. Ini akan menjadi generasi terbesar dalam sejarah.

Generasi alpha juga sangat dipengaruhi oleh teknologi dan pencipta dari generasi Z yang lahir terlebih dahulu.

Meski lahir di tengah masifnya teknologi, generasi alpha disebut peneliti Ashley Fell terkena dampak ekonomi, sosial, pendidikan, bahkan psikologis akibat pandemi Covid-19.

Karakteristik generasi Z

Meski setiap orang memiliki sifat yang berbeda-beda, secara umum ada karakteristik yang bisa menggambarkan seperti apa generasi Z itu.

Menurut Annie E. Casey Foundation, generasi Z punya ketertarikan pada tujuh masalah sosial.

Di antaranya, perawatan kesehatan, pendidikan tinggi, ekonomi, keterlibatan masyarakat, kesehatan mental, kesetaraan ras, dan lingkungan.

Karena alasan itulah mereka menjadikan pendidikan sebagai prioritas dengan 57 persen di antaranya yang berusia 18 hingga 21 tahun sudah mengenyam bangku kuliah 2-4 tahun.

Generasi Z juga lebih mungkin menyelesaikan bangku pendidikan pada tingkat sekolah menengah.

Uniknya, mereka berjuang untuk perubahan sosial, melindungi lingkungan, dan kesetaraan ras dengan 70 persen dari generasi Z menganggap pemerintah perlu lebih aktif mengatasi masalah menurut Paw Research Center.

Generasi Z adaptif dengan teknologi

Karena lahir di tengah masifnya kemajuan teknologi, generasi Z bisa dijuluki sebagai generasi internet, generasi net, atau iGeneration.

Julukan itu pantas diberikan karena mereka sudah akrab dengan teknologi sejak usianya masih belia.

Karena faktor teknologi, generasi Z bisa menumpahkan seluruh kegiatan pada satu waktu.

Mulai dari bermain media sosial di smartphone, browsing di laptop atau PC, termasuk mendengarkan musik.

Tak heran apabila generasi Z dinilai dapat melakukan multitasking atau melakukan beberapa aktivitas dalam satu waktu.

Kondisi keuangan generasi Z

Menurut hasil survei Transamerica, kondisi keuangan generasi Z belum aman karena berbagai faktor.

Sekitar sepertiga generasi Z memiliki kecenderungan untuk mengurangi pengeluaran sehari-hari karena pandemi Covid-19.

Meskipun kondisi keuangan generasi Z belum sepenuhnya mapan, mereka punya rencana yang baik untuk pensiun.

Transamerica menyebutkan bahwa generasi Z sudah mulai menabung untuk masa pensiun pada usia 19 tahun.

Kesadaran mereka terhadap hari tua jauh lebih awal jika dibandingkan dengan generasi milenial, generasi Z, dan baby boomer.

(Banjarmasinpost.co.id/Kompas.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.