BANJARMASINPOST.CO.ID, AMUNTAI - Keberadaan pasar modern yang dulunya sempat ramai di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) saat ini sebagian bangunan digunakan untuk Mall Pelayanan Publik (MPP) dengan harapan mampu meningkatkan jumlah pengunjung.
Namun tampaknya langkah ini belum membawa dampak signifikan pada jumlah pengunjung. Siti Rahmah salah satu pedagang di pasar modern Amuntai mengatakan sejak akhir 2025 lalu setidaknya ada tiga pegang yang tutup.
“Dua ruko tutup dan satu bergabung dengan yang lain, pedagang aksesoris dan pakaian yang tutup karena saat ini sudah banyak orang yang membeli aksesoris melalui jual beli online,” ujarnya, Sabtu (9/5/2026).
Siti Rahmah yang bekerja sebagai penjual makanan dan minuman ringan menambahkan saat ini cukup ramai hanya pada saat hari tertentu seperti hari minggu atau hari libur serta hari kamis pada saat hari pasar.
Baca juga: Pantau Turunan Curam Jembatan Bromo, Komisi III DPRD Banjarmasin Inginkan Peninjauan Ulang Desain
“Saat lebaran juga cukup ramai namun berkurang ramainya jika dibandingkan lima tahun lalu apalagi saat ini lebih banyak ruko yang tutup,” ujarnya.
Sebelumnya beberapa ruko yang kosong direnovasi dan dimanfaatkan untuk Mall Pelayanan Publik (MPP), namun untuk di bagian sebelah kiri bangunan masih berupa ruko kosong.
Lantai dua dimanfaatkan untuk pedagang pakaian dan serba lima ribu serta permainan anak. Untuk tempat billiard saat ini sudah ditutup dan rencananya akan digunakan oleh bagian pemerintahan juga.
Lantai tiga digunakan untuk permainan anak anak, lahan parkir di area pasar modern dan pasar Amuntai juga tergolong luas untuk kendaraan roda dua dan roda empat.
Hatriah salah satu pengunjung dari Kecamatan Awayan Kabupaten Balangan bersama dengan rombongan datang ke Kabupaten HSU untuk ziarah dan menyempatkan waktu untuk mengunjungi pasar modern.
“Beberapa barang pecah belah memang lebih murah harganya, sayangnya eskalator yang sudah tidak lagi berfungsi menjadikan cukup sulit untuk berjalan khususnya untuk orang tua seperti kami,” ujarnya.
Eskalator menjadi tangga namun karena tidak ada pembatas disetiap anak tangga maka cukup menyulitkan pengunjung untuk melewati tangga tersebut. (Banjarmasinpost.co.id/Reni Kurniawati)