Patahkan Klaim Trump, Intelijen AS Bongkar Kekuatan Militer Iran Sebenarnya: Punya 70 Persen Rudal
Putra Dewangga Candra Seta May 09, 2026 09:32 PM

 

SURYA.co.id – Optimisme Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut perang dan tekanan terhadap Iran akan segera berakhir ternyata tidak sepenuhnya sejalan dengan penilaian intelijen negaranya sendiri.

Laporan The Washington Post pada Kamis (7/5/2026) mengungkap bahwa Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat atau CIA menilai Iran masih mampu bertahan menghadapi blokade Amerika Serikat selama tiga hingga empat bulan ke depan.

Dalam analisis rahasia yang dibagikan kepada para pembuat kebijakan AS, CIA disebut memiliki penilaian berbeda dengan pernyataan publik Trump terkait kekuatan militer Iran, khususnya kemampuan rudalnya.

Dikutip SURYA.co.id dari Tribunnews, Iran disebut masih mempertahankan sekitar 70 persen persediaan rudalnya serta 75 persen peluncur bergerak yang dimiliki.

Sementara itu, Trump sebelumnya menyatakan Iran hanya memiliki sekitar 18-19 persen rudal tersisa dan mengklaim sebagian besar kemampuan rudal negara tersebut telah dihancurkan.

Fasilitas Bawah Tanah Iran Disebut Kembali Aktif

PERTAHANAN UDARA - Kolase foto rudal Iran. Iran telah mengaktifkan pertahanan udaranya setelah Trump bilang telah menyiapkan serangan dahsyat.
PERTAHANAN UDARA - Kolase foto rudal Iran. Iran telah mengaktifkan pertahanan udaranya setelah Trump bilang telah menyiapkan serangan dahsyat. (Kolase Tribunnews)

Seorang pejabat mengatakan kepada The Washington Post bahwa terdapat bukti Iran mampu memulihkan dan membuka kembali hampir seluruh fasilitas penyimpanan bawah tanahnya.

Tak hanya itu, Iran juga disebut berhasil memperbaiki sejumlah rudal yang rusak, bahkan melanjutkan perakitan rudal baru yang sebelumnya hampir selesai saat perang dimulai.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan logistik dan industri pertahanan Iran masih berjalan di tengah tekanan militer dan ekonomi dari Amerika Serikat.

Baca juga: Sosok Bernie Sanders Senator AS yang Semprot Trump dan Netanyahu Imbas Perang Iran Berkepanjangan

Blokade Trump Dinilai Belum Melumpuhkan Iran

Setelah melancarkan serangan udara ke Iran selama lebih dari satu bulan, Trump diketahui mengalihkan tekanan ke sektor ekonomi dengan memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.

Langkah tersebut dilakukan dengan memutus jalur ekspor utama Iran, terutama minyak dan gas yang selama ini dikirim melalui jalur laut.

Trump berharap tekanan ekonomi tersebut dapat memukul pendapatan energi Iran dan memaksa Teheran menerima syarat-syarat dari Amerika Serikat.

Namun, penilaian CIA justru menunjukkan bahwa strategi tersebut kemungkinan belum memberikan dampak sebesar yang diharapkan Gedung Putih.

Bahkan, laporan itu menyebut pendekatan Trump justru membuat posisi Iran semakin keras.

Kepemimpinan Iran Disebut Makin Solid dan Radikal

Pejabat kedua mengatakan kepada The Washington Post bahwa kepemimpinan Iran kini menjadi lebih radikal, lebih bertekad, dan semakin yakin dapat bertahan lebih lama dibanding kemauan politik Amerika Serikat.

Iran juga dinilai masih mampu mempertahankan kontrol domestik untuk menekan potensi perlawanan di dalam negeri.

“Rezim serupa di berbagai negara mampu bertahan selama bertahun-tahun di bawah embargo dan perang udara berkepanjangan,” kata pejabat tersebut.

Penilaian ini memperlihatkan bahwa tekanan ekonomi dan militer tidak selalu langsung menghasilkan perubahan politik dalam waktu singkat.

Iran Cari Jalur Alternatif Ekspor Minyak

Selain itu, Trump juga dinilai mengabaikan langkah Iran dalam mengurangi dampak blokade laut.

Menurut laporan tersebut, Iran mulai mengalihkan sebagian distribusi minyak dan gas melalui jalur darat.

Pejabat terkait menyebut terdapat keyakinan bahwa Iran dapat mulai memindahkan sebagian minyaknya menggunakan jalur kereta api melalui kawasan Asia Tengah.

Meski demikian, volume ekspor melalui jalur darat diperkirakan masih belum mampu menyaingi kapasitas pengiriman laut yang selama ini menjadi tulang punggung perdagangan energi Iran.

Perbedaan antara klaim publik Trump dan laporan internal CIA memperlihatkan adanya perang narasi di tengah konflik yang terus berkembang.

Di satu sisi, Gedung Putih berusaha menunjukkan bahwa tekanan militer dan ekonomi berhasil melemahkan Iran.

Namun di sisi lain, laporan intelijen justru memberi gambaran bahwa Teheran masih memiliki kemampuan bertahan yang cukup besar.

Situasi ini juga menunjukkan bahwa perang modern tidak hanya ditentukan oleh kekuatan senjata, tetapi juga ketahanan ekonomi, logistik, dan stabilitas politik domestik.

Jika laporan CIA akurat, maka konflik dan tekanan terhadap Iran kemungkinan belum akan berakhir dalam waktu dekat, meski tekanan internasional terus meningkat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.