TRIBUNJATIM.COM - Berikut ini ramalan di Jawa Timur pada Minggu 10 Mei 2026.
Wilayah di Jatim mayoritas cerah.
Sejumlah wilayah juga diselimuti awan.
Namun ada tiga wilayah yang mengalami hujan intensitas ringan.
Di antaranya adalah Banyuwangi, Lumajang dan Sumenep.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap paparan panas matahari, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, serta menjaga kondisi tubuh agar tetap terhidrasi dengan baik.
Baca juga: Ramalan Cuaca Jatim Sabtu 9 Mei 2026, Pagi Berawan, Siang hingga Sore Cerah Terik
Baca juga: Penjelasan BMKG soal Fenomena Langka Langit Dihiasi Awan Warna-warni Seperti Pelangi
Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Agita Vivi, memprediksi kondisi cuaca panas di Indonesia masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan, seiring dengan berlangsungnya musim kemarau.
Ia juga mengungkapkan puncak suhu panas diperkirakan terjadi pada periode Agustus hingga September 2026.
“Potensi suhu maksimum ini masih berpeluang terjadi sepanjang musim kemarau yang mencapai puncaknya pada Agustus–September 2026,” kata Agita, dikutip dari Kompas.com.
Baca juga: Mulai Masuk Musim Kemarau, Kenapa Masih Turun Hujan? Ini Penjelasan BMKG
Agita menjelaskan, kondisi suhu panas ini dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Salah satunya adalah posisi semu Natahari yang pada April berada di sekitar lintang khatulistiwa bagian utara, sehingga intensitas penyinaran matahari di wilayah Indonesia menjadi lebih tinggi.
Selain itu, kondisi langit yang cenderung cerah tanpa banyak tutupan awan sejak pagi hingga siang hari membuat radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi.
Ditambah lagi, dominasi angin timuran dari Australia yang bersifat kering turut menghambat pembentukan awan, khususnya di wilayah selatan khatulistiwa.
Kombinasi faktor-faktor tersebut menyebabkan suhu udara terasa lebih panas, terutama pada siang hari, dan berpotensi terus berlangsung selama periode musim kemarau.
"BMKG akan terus memantau perkembangan suhu udara tahun ini hingga akhir periode, mengingat Indonesia saat ini baru memasuki musim peralihan yang berpotensi meningkatkan suhu udara," jelas Agita.