Kemenpar Dorong Mahasiswa Poltekpar Lombok Jadi Inovator Pariwisata
Idham Khalid May 10, 2026 02:20 AM

 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TENGAH - Kementerian Pariwisata RI, melalui Staf Ahli Bidang Birokrasi dan Regulasi Kementerian Pariwisata RI, Raden Kurleni Ukar menekankan pentingnya peran Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok sebagai dapur pencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul untuk mendukung status Lombok sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas. 

Kurleni Ukar mendorong agar para mahasiswa tidak hanya berpuas diri menjadi pekerja, tetapi bertransformasi menjadi penggerak ekonomi kreatif melalui inovasi dan kewirausahaan.

Ditekankannya, kreativitas mahasiswa sangat dibutuhkan untuk mengembangkan potensi wisata Lombok yang masih perlu ditingkatkan, terutama dari sisi aktivitas wisata dan peta perjalanan.

“Tentu diharapkan mahasiswa-mahasiswa tentu tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga menjadi inovator, menjadi entrepreneur yang bisa menciptakan nilai tambah bagi pariwisata khususnya di Lombok," ucap Kurleni Ukar menjawab TribunLombok.com, Sabtu (9/5/2026).

Tujuan utamanya lanjut dia, adalah untuk memikirkan strategi bagaimana meningkatkan pengeluaran spending wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara, selama berada di Lombok melalui kuliner dan oleh-oleh yang lebih menarik.

Selain aspek skill, Kurleni Ukar juga menyoroti pentingnya karakter dan kepedulian terhadap lingkungan. Kampus diharapkan menjadi role model dalam penerapan konsep pariwisata berkelanjutan, termasuk dalam hal pengelolaan sampah.

“Kampus ini harus bisa menjadi contoh nyata bagaimana pariwisata berkelanjutan itu diterapkan termasuk pengelolaan sampahnya. Jadi saya tadi titip supaya ini menjadi perhatian ke depannya,” tegasnya.

Baca juga: Berbuka Puasa di De Balen Soultan Hotel Poltekpar Lombok

Salah satu harapan besar Kurleni Ukar adalah agar para lulusan Poltekpar Lombok memberikan kontribusi terbaik mereka untuk membangun daerah asal sebelum merambah ke wilayah lain.

“Saya sangat mengharapkan lulusan-lulusan sini bekerjalah untuk Lombok dulu begitu ya, bukan untuk yang keluar. Ketika ini sudah maju mungkin bisa untuk yang membantu wisata di tempat lain,” tandasnya.

Dilain pihak, Direktur Poltekpar Lombok, Dr. Ali Muhtasom saat ini mulai memperkenalkan konsep Edukarsa sebagai strategi integrasi Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Ali menjelaskan bahwa melalui Edukarsa, aspek pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat kini diramu dalam satu kesatuan yang saling mendukung.

“Kami mencoba meramu dalam satu tarikan nafas namanya edukasi (Edukarsa). Ini tentunya untuk memberikan dampak nyata dan berkelanjutan," ujar Ali.

Dia juga menekankan bahwa saat ini proses pembelajaran di kelas tidak lagi berdiri sendiri, melainkan didukung penuh oleh fungsi penelitian dan pengabdian.

Implementasi Edukarsa ini diwujudkan melalui pembelajaran kontekstual, di mana mahasiswa dan dosen terjun langsung ke desa-desa wisata untuk menemukan permasalahan nyata.

Masalah tersebut kemudian dibawa ke dalam kelas untuk didiskusikan solusinya, lalu dikembalikan lagi ke masyarakat dalam bentuk program pengabdian.

“Aktivitas mahasiswa dan dosen sekarang sudah banyak di desa wisata yang memberikan dampak langsung karena kita ada kontekstual,” jelas Ali.

Salah satu bukti keberhasilan pola ini adalah pengembangan potensi lokal di Desa Puyung, di mana ampas tahu yang sebelumnya tidak bernilai kini diolah menjadi berbagai produk oleh-oleh seperti serundeng dan bolu.

Selain terjun ke masyarakat, Poltekpar Lombok juga memperkuat keterampilan mahasiswa melalui Teaching Industry Learning Center.

Fasilitas ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengasah soft skill dengan berhadapan langsung dengan tamu dan menangani keluhan secara profesional.

Upaya penguatan kompetensi ini membuahkan hasil positif dengan semakin banyaknya mahasiswa yang diterima melakukan Praktik Kerja Nyata (PKN) di luar negeri.

Ali juga memaparkan target keterserapan lulusan yang ambisius, di mana 65 persen lulusan ditargetkan langsung bekerja, 30?rwirausaha, dan sisanya melanjutkan pendidikan.

“Kunci itu tetap kami pakai sebagai bentuk tanggung jawab kami. Kalau mau kuliah dan cepat kerja, kuliahnya di Poltekpar Lombok saja,” tegasnya.

Memasuki usia ke-10, Poltekpar Lombok mengakui adanya tantangan di masa efisiensi finansial.

Namun, Ali menegaskan bahwa keterbatasan anggaran justru menjadi pemantik semangat untuk berinovasi dan memaksimalkan sumber daya yang ada.

“Justru itu yang membuat semangat kami untuk bangkit, punya inovasi, punya kreatif dari keterbatasan yang ada dengan memanfaatkan sumber daya yang lebih maksimal lagi,” pungkasnya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.