Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Bagi Galung (31) sosok Brigadir Arya Supena (32) bukan sekadar saudara sepupu, melainkan kawan tumbuh besar yang sangat ia pahami karakternya.
Ditemui seusai yasinan di rumah duka, Jalan Piagam Jakarta, Metro Barat, Sabtu (9/5/2026) malam, Galung berbagi cerita tentang sisi lain sang Bhayangkara yang gugur tersebut.
Galung mengungkapkan bahwa Arya adalah pribadi yang sangat rendah hati. Meski memiliki jabatan sebagai anggota Polri, Arya justru sering merasa sungkan jika harus menonjolkan profesinya di lingkungan rumah.
Hal ini menjadi kesan mendalam bagi Galung selama bertahun-tahun menghabiskan waktu bersama.
"Dia itu kalau pulang ke Metro, buru-buru ganti baju biasa. Dia malu kalau harus pamer-pamer atribut Polri di kampung sini, padahal orang-orang sudah tahu dia polisi. Dia inginnya terlihat biasa saja seperti warga lainnya," kenang Galung dengan nada lirih.
Baca juga: Brigadir Arya Gugur Tertembak, Sang Istri Tak Kuasa Pikirkan Nasib Anak
Selain rendah hati, Galung menyebut sepupunya itu adalah penggila olahraga.
Hampir semua jenis olahraga ditekuni almarhum, mulai dari bulu tangkis hingga futsal. Rutinitas itu tetap terjaga di tengah kesibukan Arya dalam bertugas sebagai anggota Polri.
"Kalau Sabtu pulang, hobinya ya olahraga. Kadang lari, kadang sepedahan bareng istrinya keliling Metro. Dia itu orangnya enak diajak bergaul, humoris juga kalau sudah kenal dekat, meski sama orang baru kelihatannya agak pendiam," tambah Galung.
Galung juga menceritakan bagaimana Arya selalu memberikan dukungan kepada keluarganya.
Belum lama ini, Arya memberikan semangat kepada Galung yang sedang merintis kanal YouTube.
Pesan-pesan motivasi lewat WhatsApp itu kini menjadi kenangan terakhir yang tak ternilai harganya.
"Kemarin dia sempat komen di status WhatsApp saya, ngasih selamat karena YouTube saya mulai berhasil. Kita saling nyemangatin kerja. Itu yang bikin saya sangat berkesan, dia tetap perhatian meski sibuk dinas," tuturnya.
Namun, di balik sifat humorisnya, Galung tahu benar bahwa Arya memiliki prinsip yang keras terhadap kejahatan.
Sifat tegas itu menurutnya sudah terlihat sejak mereka masih remaja dan sering menghabiskan waktu bersama di sekolah.
"Arya itu bukan jagoan, tapi kalau dia melihat sesuatu yang nggak benar, dia pasti lawan. Mentalnya memang sudah tertanam dari kecil. Dia tegas dan nggak cengeng. Mau lawannya seperti apa, kalau dia benar, dia pasti tegur," tegas Galung.
Kini, Arya meninggalkan dua orang anak yang masih sangat kecil, yang tertua masih PAUD dan yang kedua masih balita.
Galung merasa terpukul memikirkan masa depan keponakannya tersebut yang kini harus kehilangan sosok ayah yang heroik.
"Rasanya kayak mimpi. Saya masih berharap ini cuma kabar bohong. Tapi melihat pengabdiannya yang sampai titik darah penghabisan, saya tahu itu memang jiwa Arya yang sebenarnya," pungkas Galung.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)