TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK – Sebuah struktur baja raksasa bernama Jacket dari Proyek Tangguh Ubadari, CCUS, Compression (UCC) resmi diberangkatkan dari Pusat Fabrikasi Saipem Karimun Yard, Kepulauan Riau, menuju Kabupaten Fakfak, Papua Barat, pada Minggu (10/5/2026).
Apa itu Jacket? Bagi masyarakat, istilah ini mungkin masih asing.
Jacket adalah kerangka baja besar yang menjadi fondasi utama anjungan pengeboran minyak dan gas di laut.
Fungsinya sangat penting, yakni menopang seluruh fasilitas produksi di atasnya agar tetap kokoh dan stabil meski berada di tengah ombak dan arus laut.
BP Regional President Asia Pacific, Kathy Wu, menjelaskan bahwa Jacket Tangguh UCC ini dikerjakan selama 357.600 jam dengan berat mencapai 994 metrik ton.
“Struktur ini sudah dimuat dengan aman di atas tongkang dan siap menempuh perjalanan sekitar 5.800 kilometer menuju Fakfak,” ujarnya.
Lebih dari sekadar baja raksasa, Jacket ini adalah simbol komitmen Indonesia dalam membangun ketahanan energi.
Baca juga: Jacket Pertama Proyek Tangguh UCC Tempuh Jarak Laut 5.800 Km menuju Fakfak
Kathy menegaskan, Jacket Tangguh UCC dibuat di Indonesia oleh tenaga kerja Indonesia, untuk kepentingan bangsa Indonesia.
“Kami ingin menunjukkan bahwa proyek ini bukan hanya untuk energi, tetapi juga membuka peluang bagi rantai pasok nasional,” katanya.
Proyek Tangguh UCC sendiri mencakup tiga hal utama, yakni:
Dengan teknologi ini, Tangguh UCC menjadi proyek CCUS skala besar pertama di Indonesia.
Pada tahap awal, proyek ini berpotensi menyimpan sekitar 15 juta ton CO₂ sekaligus menghasilkan tambahan 3 triliun kaki kubik gas untuk mendukung kebutuhan energi jangka panjang Indonesia dan Asia.
Bagi masyarakat Fakfak dan Papua Barat, kehadiran Jacket ini bukan hanya soal energi, tetapi juga peluang kerja, pengembangan kapasitas lokal, dan kebanggaan bahwa infrastruktur kelas dunia dibangun di tanah Papua.