Korban Tewas ke 18 Kecelakaan Bus ALS di Muratara Ternyata Jasad Anak Kecil yang Dipeluk Ibunya
Tommy Simatupang May 10, 2026 10:54 PM

TRIBUN-MEDAN.com - Insiden tabrakan bus ALS dengan truk tangki BBM di Muratara mengakibatkan 18 orang tewas. 

Polisi telah melakukan identifikasi secara lengkap dan menemukan jasad ke 18 seorang anak kecil yang menempel di ketiak ibunya. 

Jasad ke 18 ini cukup lama teridentifikasi. Polisi sempat menyatakan korban tewas adalah 17 orang. 

Namun setelah dilakukan identifikasi ulang, ternyata ada satu potongan tubuh kecil yang menempel di jasad lain. 

Petugas menemukan dua jenazah saling menempel di dalam satu kantong jenazah karena kondisi tubuh korban yang terbakar hebat.

Temuan tersebut diketahui saat tim forensik memeriksa kantong jenazah dengan kode PM008.

Awalnya, petugas mengira kantong itu hanya berisi satu korban karena kondisi jasad yang sudah sulit dikenali dan saling melekat.

"Pada label penomoran PM008, itu kita menemukan ada dua sampel yang berbeda dalam satu kantong jenazah tadi. Lengket dia," ungkap Karumkit RS Bhayangkara Moh Hasan, Kombes Pol dr Budi Susanto kepada Tribunsumsel.com.

Baca juga: SUAMI Suka Main Sabung Ayam dan Ketahuan Bonceng Wanita Lain, Ibu Muda Ajak 3 Anaknya Minum Racun

Baca juga: TEWAS Tertembak Aparat saat Nonton Bola, Pihak SMAN 2 Dogiyai Bantah Siswa Nopison Tebay Anggota KKB

Setelah dilakukan pemeriksaan lebih mendalam secara ilmiah, tim DVI menemukan bahwa satu di antara jenazah yang menempel, diduga kuat merupakan seorang balita.

"Didapatkan memang dia tidak identik dengan jenazah yang satu lagi. Kemungkinan adalah jenazah balita atau kurang dari lima tahun," tambahnya.

Temuan memilukan itu membuat kantong jenazah PM008 kini dipecah menjadi dua nomor baru, yakni 08B dan 08C.

Meski begitu, pihak rumah sakit belum dapat memastikan identitas maupun jenis kelamin kedua korban tersebut.

dr Budi mengatakan proses identifikasi masih terus dilakukan, termasuk melalui pencocokan DNA dengan keluarga korban.

Karena itu, pihak DVI meminta keluarga membantu memberikan barang pribadi milik korban, seperti pakaian, sikat gigi, atau benda lain yang masih memiliki epitel kulit untuk mempercepat proses pencocokan data.

Sebelumnya, kecelakaan maut Bus ALS dan truk tangki BBM di Jalinsum Muratara menewaskan belasan orang setelah kedua kendaraan terbakar hebat usai tabrakan.

Kondisi Jenazah "Hancur Lebur"

Tingkat kerusakan tubuh korban akibat luka bakar menjadi tantangan terberat bagi tim ahli.

Menurut Kombes Pol. Budi, hampir seluruh jenazah yang diterima sudah tidak berbentuk lagi, sehingga identifikasi visual melalui wajah, sidik jari, maupun gigi sangat sulit dilakukan.

Kondisi panas yang ekstrem saat kebakaran terjadi menyebabkan pakaian hingga material bus seperti jok melekat erat pada tubuh para korban.

Bahkan, struktur tulang para korban rata-rata dilaporkan sudah dalam kondisi hancur lebur.

"Kalau secara visual, secara fisik, jaringannya itu lengket hancur, jadi organ reproduksi pun kita tidak bisa mengidentifikasi."

Tim mengambil sampel dari bagian tubuh atau jaringan yang dianggap mengandung "bibit" DNA terbaik untuk dikirim ke Pusdokkes Polri.

"Untuk tulang sudah hancur lebur, karena badan dia lengket termasuk mungkin joknya juga lengket di situ, jadi tidak semua sampel yang kita berikan, tapi kita pilih yang mengandung bibit unsur DNA-nya," ujarnya.

Proses identifikasi ini diperkirakan memakan waktu paling cepat 5 hari dan paling lama sekitar 12 hingga 14 hari, tergantung pada kondisi spesimen yang diterima oleh laboratorium.

Di sisi lain, Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Selatan (Sumsel) tengah melakukan pendalaman intensif terkait ketidaksesuaian data manifes penumpang bus Antar Lintas Sumatera (ALS) yang mengalami kecelakaan maut di Musi Rawas Utara (Muratara), Rabu (6/5/2026).

Hingga saat ini, jumlah pasti korban dalam insiden tragis tersebut masih simpang siur akibat adanya dugaan penumpang tidak resmi atau penumpang gelap yang tidak terdaftar dalam manifes keberangkatan.

Berdasarkan manifes resmi, bus tersebut tercatat hanya membawa lima orang penumpang.

Namun, saat kecelakaan terjadi, ditemukan total 18 orang di dalam bus yang terdiri dari 14 penumpang dan 4 kru bus.

Penyebab Kecelakaan, Hindari Lubang

Berdasarkan hasil olah TKP oleh Ditlantas Polda Sumsel dan Satlantas Polres Musirawas Utara, penyebab utama kecelakaan maut di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Kecamatan Karang Jaya ini adalah upaya bus menghindari lubang.

Kapolres Muratara, AKBP Rendy Surya Aditama, menjelaskan bahwa bus ALS dengan nomor polisi BK-7778-DL yang dikemudikan Alif hilang kendali saat mencoba menghindari lubang jalan.

"Bus berbelok ke kanan dari arah Lubuk Linggau menuju Jambi, kemudian menabrak mobil tangki Seleraya dari arah berlawanan. Akibat kejadian tersebut, pengemudi dan penumpang mobil Seleraya meninggal dunia terbakar di dalam mobil," ungkap AKBP Rendy.

Petugas juga menemukan sejumlah barang bawaan yang diduga memicu besarnya api, di antaranya:

Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut, termasuk kemungkinan pemanggilan pihak manajemen bus ALS untuk dimintai keterangan terkait standar operasional dan prosedur pengangkutan penumpang.

(*/tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.