Laporan wartawan wartakotalive.com, Yolanda Putri Dewanti
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta resmi memulai rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Kota Jakarta dengan menggelar Deklarasi Gerakan Pilah Sampah dan pencanangan HUT Jakarta di kawasan Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Minggu (10/5/2026).
Kegiatan tersebut sekaligus menandai dimulainya pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) di koridor Rasuna Said yang diproyeksikan menjadi ikon baru Jakarta setelah penataan kawasan rampung pada bulan depan.
Salah satu warga yang hadir, Siti Masfu’ah (61), mengaku mendukung penuh gerakan pemilahan sampah dari rumah tangga.
Menurut warga Manggarai, Jakarta Selatan itu, program tersebut penting untuk membantu mengurangi penumpukan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.
“Setuju banget. Karena kan untuk mengurangi sampah di Bantar Gebang. Terus setahu saya pemilahan itu ada sampah kering, sampah basah, yang bisa dipakai lagi,” kata Siti saat ditemui di lokasi.
Meski demikian, Siti mengaku belum sepenuhnya memahami teknis pemilahan sampah karena belum ada sosialisasi langsung di lingkungannya.
Ia mengatakan informasi yang diterima sejauh ini baru melalui grup Dasawisma.
“Sudah dapat info dari Dasawisma lewat handphone. Tapi untuk memilahnya itu saya belum tahu detailnya, belum ada sosialisasi langsung,” ujarnya.
Siti menyebut, warga di lingkungannya juga sudah diinformasikan mengenai jadwal pengumpulan sampah terpilah setiap hari Rabu di pos RW setempat. Namun, ia belum mengetahui sejauh mana partisipasi warga dalam program tersebut.
Walau belum mulai memilah sampah di rumah, Siti mengaku siap ikut berpartisipasi apabila program itu berjalan aktif dan melibatkan seluruh warga secara konsisten.
“Pengin ikut. Kalau memang di situ aktif untuk semua warga memilah-milah, insyaallah saya ikut. Kan untuk kebaikan,” ucapnya.
Selain mengikuti deklarasi pilah sampah, Siti juga menyambut positif hadirnya CFD baru di kawasan Rasuna Said. Menurut dia, lokasi tersebut lebih dekat dan mudah dijangkau dari rumahnya di kawasan Manggarai.
“Oh, di sini bagus banget, enak. Dekat banget dari rumah saya,” katanya.
Ia mengaku datang bersama anaknya menggunakan sepeda motor dan hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit perjalanan dari rumah.
“Kalau naik motor lebih cepat. Saya senang karena jadi lokasi alternatif selain Sudirman,” tuturnya.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung resmi mendeklarasikan Gerakan Pilah Sampah di kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Minggu (10/5/2026).
Program tersebut dijalankan serentak di lima wilayah kota administrasi dan Kepulauan Seribu sebagai langkah memperkuat pengelolaan sampah di Jakarta.
Deklarasi itu turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dan Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat.
Dalam sambutannya, Pramono menegaskan persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah daerah tanpa keterlibatan masyarakat.
“Saya meyakini bahwa membangun Jakarta tidak bisa sendirian. Persoalan sampah salah satunya. Maka hari ini sesuai dengan Instruksi Gubernur, kita akan mengadakan gerakan untuk pilah sampah,” kata Pramono di lokasi.
Menurut dia, gerakan memilah sampah menjadi bagian penting untuk mengubah pola pengelolaan sampah di Jakarta yang selama ini masih bergantung pada sistem pembuangan langsung ke TPST Bantargebang.
Ia mengatakan pemerintah pusat turut mendukung upaya tersebut agar penanganan sampah di Jakarta dapat dilakukan lebih serius dan terstruktur.
“Saya meyakini dalam arahan dan juga kepemimpinan Bapak Menteri Lingkungan Hidup, mudah-mudahan persoalan pilah sampah ini bersama dengan Pak Menko Pangan, kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan serius menjadi gerakan baru bagi Jakarta untuk memilah sampah ini,” ujar Pramono.
“Dan harapan saya adalah mudah-mudahan persoalan sampah di Jakarta yang dari waktu ke waktu tidak pernah terselesaikan akan terselesaikan,” lanjutnya.
Dalam kesempatan itu, Pramono juga sekaligus mencanangkan peringatan HUT ke-499 Jakarta.
“Maka dengan demikian, seizin Pak Menko, seizin Pak Menteri, hari ini saya ingin mendeklarasikan dan menyampaikan bahwa dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada hari ini Minggu tanggal 10 Mei tahun 2026 deklarasi gerakan pilah sampah sekaligus pencanangan hari ulang tahun ke-499 Kota Jakarta dimulai,” tutur Pramono.
Ia berharap pemilahan sampah dari rumah tangga dapat mengurangi beban sampah yang dibuang ke TPST Bantargebang.
Sampah nantinya dipisahkan antara organik dan anorganik sebelum masuk proses pengolahan lanjutan.
“Saya meyakini kalau ini bisa berjalan berhasil, apa yang menjadi arahan dari Menteri Lingkungan Hidup pada bulan Agustus, Jakarta hanya akan bisa menimbun residunya, tidak seperti sekarang. Kalau sekarang kan semuanya angkut, dumping di Bantargebang. Sekarang kita mulai dengan dipilah terlebih dahulu, organik dan anorganik dipisahkan,” ucapnya.
Pramono menambahkan fasilitas pengolahan seperti RDF Rorotan dan TPS 3R akan dimanfaatkan untuk menampung hasil pemilahan sampah warga.
“Kebetulan selain Bantargebang, kita juga ada RDF Rorotan dan juga TPS 3R, itulah yang akan menjadi penampung sampah,” kata dia.
Selain penguatan fasilitas, Pemprov Jakarta juga mulai membuka ruang bagi pasar-pasar untuk mengelola sampah secara mandiri.
“Mudah-mudahan dengan cara ini, yang kemarin sempat ada permasalahan sampah di Jakarta segera bisa kita atasi, kita tangani. Termasuk kami sekarang memberikan ruang izin untuk pasar-pasar yang ada di Jakarta, mereka mengelola sampahnya sendiri seperti yang kita lakukan di Kramat Jati,” ujar Pramono.
Sementara itu, Zulhas mengapresiasi langkah Pemprov Jakarta yang memulai gerakan pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga.
“Tapi problem utama kita itu adalah di rumah tangga. Saya senang sekali, saya apresiasi dan memberikan penghargaan yang tinggi, ini dipelopori oleh Gubernur Jakarta, yaitu “Memilah Sampah”. Itu problem pokok kita, problem utama kita Pak Gubernur, memilah sampah rumah tangga,” kata Zulhas.
Ia mengatakan pemerintah menargetkan seluruh sektor dapat mengelola sampahnya masing-masing secara mandiri paling lambat 2029.
“Karena nanti sampai 2029, kantor enggak boleh lagi (buang sembarangan), harus selesai di kantor. Pasar harus selesai di pasar, sampah restoran harus selesai di restoran itu, toko harus selesai di toko itu, mal harus selesai di mal itu. Tapi untuk penduduk dan masyarakat, kuncinya adalah memilah sampah,” ujarnya.
Zulhas juga menilai sampah berpotensi menjadi sumber energi listrik apabila diolah melalui teknologi insinerator.
“Mudah-mudahan sampah yang jadi musuh Jakarta, Pak Gubernur, akan kita ubah menjadi harapan. Sampah yang musuh kita, akan kita ubah menjadi energi listrik. Tadi saya bisik-bisik sama Pak Gubernur, nanti kalau insineratornya beliau ini sudah jalan, Pak Jumhur, di 2027-2028, nanti sampahnya malah jadi rebutan. Karena bahan bakarnya adalah sampah yang akan masuk ke insinerator dan diolah menjadi listrik,” kata dia.
“Jadi, dari musuh, dari sampah, nanti akan menjadi penerangan bagi Kota Jakarta,” lanjutnya.
Menurut Zulhas, pemisahan sampah organik, anorganik, dan bahan beracun menjadi kunci utama keberhasilan pengolahan sampah menjadi energi.
“Karena problem pokok kita, bagaimana memisahkan sampah organik, anorganik, dan yang beracun, tiga macam itu. Kalau itu selesai, maka nanti sampah akan kita butuhkan untuk listrik penerang Jakarta dan penerang daerah-daerah lain,” pungkasnya.(m27)