Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Pagi itu, Winarno hanya ingin berangkat mengajar seperti biasanya. Namun, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi pengalaman yang tak pernah ia lupakan, seumur hidupnya.
Hal itu, setelah sepatu yang dikenakannya hilang tertelan lumpur di jalan rusak Lampung Tengah.
Guru asal Kecamatan Anak Tuha, Lampung Tengah itu masih mengingat bagaimana motornya mendadak terjebak di kubangan lumpur saat melintas di jalan poros kabupaten yang setiap hari ia lewati menuju sekolah.
Ketika berusaha mengangkat motornya yang macet, kaki Winarno justru terperosok lebih dalam. Dalam hitungan detik, sepatu yang dipakainya lenyap tertinggal di lumpur tebal yang menutupi jalan.
Peristiwa itu menjadi gambaran nyata buruknya kondisi infrastruktur yang selama bertahun-tahun dikeluhkan warga di wilayah tersebut, terutama saat musim hujan tiba.
Baca juga: Seorang Guru Kehilangan Sepatu saat Melintasi Jalan Rusak Berlumpur di Lampung Tengah
“Waktu berhenti dan mengangkat motor, sepatu saya hilang karena lumpurnya cukup dalam,” ujar Winarno saat melintas menggunakan sepeda motor pada Minggu (10/5/2026).
Dia tinggal di Kampung Srikaton, Kecamatan Anak Tuha, yang saat ini masyarakatnya dihadapkan dengan kondisi infrastruktur jalan yang buruk.
Kehilangan sepatu saat melintasi jalan berkubang dan berlumpur menjadi kisah yang sulit dilupakan Winarno.
Jalan tersebut, menurut dia, sudah bertahun-tahun dikeluhkan warga karena penuh lubang besar dan genangan air.
Saat hujan turun, kondisi jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang sulit dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Kerusakan tidak hanya terjadi di beberapa titik, tetapi hampir sepanjang ruas jalan utama penghubung antarwilayah.
Winarno mengatakan kondisi jalan kabupaten berdampak pada jalan lingkungan desa.
Kendaraan bertonase besar kerap melintas melalui jalan kampung untuk menghindari kerusakan jalan utama. Sehingga akses desa yang sebelumnya dibangun menggunakan dana kampung kini ikut rusak.
“Karena jalan utama rusak, mobil-mobil besar lewat jalan lorong desa. Sekarang jalan kampung juga mulai rusak,” kata Winarno.
Ia memperkirakan sebagian besar jalan di wilayah tersebut mengalami kerusakan cukup parah, yang menghambat mobilitas masyarakat, termasuk aktivitas ekonomi dan pendidikan.
Dalam kesehariannya sebagai pengajar, Winarno beberapa kali mengalami kesulitan saat melintas di jalan itu.
Salah satu pengalaman paling diingatnya terjadi ketika motornya terjebak di lubang berlumpur.
“Saya pernah mau ke kantor, motor macet di lubang. Waktu berhenti dan mengangkat motor, sepatu saya hilang karena lumpurnya cukup dalam,” ujarnya.
Keluhan warga terkait infrastruktur jalan bukan persoalan baru.
Menurut Winarno, kondisi tersebut telah berlangsung bertahun-tahun tanpa perbaikan signifikan.
Pada musim hujan, anak-anak sekolah kerap terjatuh saat melintas di jalan licin yang dipenuhi lumpur.
Selama ini, perbaikan sementara biasanya dilakukan secara swadaya.
“Masyarakat kadang mengumpulkan dana untuk menimbun lubang dengan material seadanya agar jalan masih bisa dilalui. Tapi itu belum menjadi solusi jangka panjang,” ujarnya.
Winarno berharap pemerintah daerah segera memberikan perhatian agar aktivitas masyarakat, distribusi barang, serta akses pendidikan dan pelayanan publik tidak terus terganggu.
Cerita serupa juga disampaikan Arif, seorang pengendara mobil asal Gunung Sugih, yang rutin melewati jalan tersebut.
Ia mengatakan kondisi jalan kini semakin parah dibanding sebelumnya.
Selain berlubang, genangan air membuat pengendara sulit memperkirakan kedalaman lubang, sehingga berisiko menyebabkan kecelakaan maupun kerusakan kendaraan.
“Sudah lama rusak. Rasanya belum pernah benar-benar bagus jalannya. Harapannya tolong diperhatikan karena ini jalan utama. Maunya secepatnya diperbaiki,” kata Arif.
(Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq)