TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dunia kuliner Indonesia kehilangan sosok Ni Ketut Ngasti atau Odah Djenggo atau Men Djenggo, Sabtu 9 Mei 2026.
Men Djenggo, merupakan pelopor nasi jinggo yang dikenal hari ini khususnya di Denpasar, Bali.
Nasi dengan lauk ayam, telur, sambal, kacang saur, dan sejenisnya dengan harga murah meriah. Menurut penuturan putranya, Henry Alexie Bloem, Minggu 10 Mei 2026, Men Djenggo berpulang di usia 90 tahun karena sakit.
Saat masih menjadi ibu muda di tahun 1970-an, Men Jenggo ini meracik dan berjualan nasi bungkus dengan lauk sederhana yang bercita rasa lezat.
Baca juga: KISAH Pilu Kakak Beradik Yatim Piatu di Bukit Tuntung, Juni & Agus Bertahan Hidup dari Uluran Tangan
Sang ibu menjual nasi bungkus dengan tiga pilihan lauk, mulai dari lauk daging ayam, daging sapi, dan babi.
Sang ibu mulai berjualan mulai pukul 07.00 Wita di Pelabuhan Benoa.
"Saat itu beliau berjualan di sekitar Pelabuhan Benoa, Denpasar untuk kalangan pekerja, sopir tangki Pertamina dan para pemancing di sekitar pelabuhan," kata Henry yang juga seorang chef Indonesia legendaris ini via DM Instagram.
Ketika ibunya berjualan itu, Henry Alexie Bloem usianya masih kecil. Suami Men Djenggo, bernama Buddy Alexie Bloem, seorang tentara eks KNIL yang menjadi TNI sejak tahun 1945.
Sang ayah kelahiran 1924, keturunan Belanda dari ayah Belanda dan ibu Betawi.
Sang ayah sangat menggemari tontonan film cowboy atau film laga Amerika terutama yang berjudul Django yang ditayangkan pada tahun 1966 dan disutradarai oleh Sergio Corbucci dan dibintangi oleh Franco Nero.
"Karena kesukaannya pada karakter Django, ayah saya selalu meninabobokan saya saat kecil dengan lagu pengantar tidur, Djenggo jago tembak..Djenggo jago tembak…" ungkapnya.
Saking seringnya sang ayah melantunkan kata-kata tersebut, saudara-saudara dekat dan tetangga dekat rumah ikut memanggil Henry A Bloem kecil menjadi Djenggo.
Hingga saat inipun, jika Henry pulang ke rumah tua di Banjar Kaja, Kelurahan Sesetan, semua teman-teman masa kecil serta saudara masih memanggil Henry dengan nama panggilan kecilnya Djenggo.
Layaknya kebiasaan umum di Bali, maka Ni Ketut Ngasti pun dipanggil orang-orang dengan panggilan Meme Djenggo atau Men Djenggo yang artinya ibunya Djenggo.
Dan dalam percakapan sehari hari lebih mudah dilafalkan dengan Men Djenggo.
Sehingga nasi bungkus yang ibu muda jual di kalangan pekerja dan masyarakat pelabuhan di Benoa, Pesanggaran disebut Nasi Men Djenggo dan kini lebih dikenal dengan nasi jinggo.
"Cerita itulah yang melahirkan istilah nasi jinggo di Bali," paparnya.
Nasi Men Djenggo saat itu dijual dengan harga dibawah Rp 80 per bungkus, harga yang amat murah jika dibandingkan dengan saat ini.
Henry menyebutkan, Men Djenggo saat itu sudah membuat rata-rata 300 hingga 500 nasi bungkus per hari.
Bahkan sering hingga 1.000 bungkus dikarenakan adanya pesanan dari kapal pesiar yang berlabuh di Pelabuhan Benoa saat itu.
Lebih dari 10 tahun berjualan nasi bungkus hingga tahun 1982, sang ibu akhirnya berhenti berjualan nasi bungkus.
Hal ini dikarenakan harus ngiring menjadi pemangku, sehingga aktivitas membuat dan menjual nasi bungkus berhenti.
Dan kemudian sekitar tahun 1984-an munculah nama nasi djenggo di Denpasar, tepatnya di depan Pasar Badung. Kepergiannya, meninggalkan dua warisan penting untuk kuliner Indonesia.
Selain warisan kreasi nasi jinggo yang menjadi salah satu ragam kekayaan kuliner Bali, almarhumah juga meninggalkan Henry Alexie Bloem. (sup)
Diaben 12 Mei
Putra dari Ni Ketut Ngasti atau Odah Djenggo atau Men Djenggo, Henry Alexie Bloem kini telah menjelma menjadi tokoh kuliner Indonesia dengan menorehkan banyak prestasi dan catatan tentang kontribusinya dalam dunia kuliner Indonesia serta profesional Chef Indonesia.
Chef Bloem mencatat dua kali pernah memimpin Indonesian Chef Association (ICA) dan beberapa tahun ini bekerja chef di sebuah restoran yang selalu mendapat review michelin star di negara Belanda.
Kontribusinya dalam melestarikan dan menduniakan kuliner Indonesia tidak pernah berhenti sampai dengan saat ini. Men Djenggo, rencananya akan diaben pada 12 Mei 2026 ini. (sup)