MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - “Gimana ceritanya? Ini sama sekali tidak manusiawi!"
Kalimat itu terlontar dari mulut Wakil Kepala Lembaga Pendidikan dan Latihan (Kalemdiklat) Polri, Irjen Andi Rian R Djajadi saat meninjau toilet siswa di Sekolah Polisi Negara (SPN) Batua, Makassar, Sulsel, Jumat (8/5/2026).
Di hadapannya, sejumlah closet jongkok tampak rusak.
Kondisinya memprihatinkan dan dinilai tak layak untuk digunakan para siswa calon anggota polisi.
Kunjungan Andi Rian R Djajadi ke SPN Batua di Jalan Urip Sumoharjo, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, disambut tari paduppa, jajar kehormatan siswa, serta para pejabat SPN.
Namun, lawatan mantan Kapolda Sulsel itu bukan sekadar seremonial.
Jenderal bintang dua alumnus Akpol 1991 tersebut memeriksa langsung berbagai fasilitas pendidikan dan barak siswa secara detail.
Mulai dari toilet, tempat tidur, lemari, hingga ventilasi udara tak luput dari perhatiannya.
Saat memasuki kamar barak, ia kembali menyinggung fasilitas yang sudah termakan usia.
Beberapa lemari siswa terlihat lapuk.
“Jangan-jangan usia kasurnya juga sudah lebih tua dari kita,” ujarnya sambil tersenyum kepada Kepala SPN Batua, Kombes Pol Syamsul Ridwan.
Meski demikian, sebagian tempat tidur dan lemari lainnya telah diremajakan menggunakan rangka besi.
Baca juga: Kisah Habib Thalib, Rasa Suka Diterima Bintara SPN Batua Berubah Duka saat Ayah Meninggal Dunia
Perhatian Andi Rian R Djajadi juga tertuju pada sirkulasi udara di dalam barak.
Menurutnya, ruang tidur siswa harus dirancang lebih sehat dan nyaman.
“Aliran udara itu harus jalan. Konsep kamarnya itu cluster dormitory,” katanya.
Ia bahkan mendorong penggunaan energi baru terbarukan (EBT) berbasis tenaga surya untuk mendukung fasilitas di lingkungan pendidikan kepolisian.
“Kalau bisa mereka pakai EBT. Jadi energi baru terbarukan tenaga surya, jadi seluruh kipas angin, putaran angin dari atas sudah pakai konsep itu,” katanya menegaskan kepada para perwira yang mendampingi.
Dalam kata sambutannya, Andi Rian R Djajadi menilai konsep fasilitas di SPN Batua masih sangat bernuansa militeristik.
Padahal, menurutnya, masyarakat kini mendambakan sosok polisi yang humanis, profesional, dan menghargai keberagaman.
Karena itu, ia menekankan pentingnya menghadirkan lingkungan pendidikan yang lebih manusiawi bagi para calon polisi.
“Ke depan konsep barak ini kita akan rubah. Kita sedang merancang prototype, akan kita rubah menjadi cluster dormitory,” jelasnya mengatakan.
“Dan masyarakat tentu berharap bahwa lulusan dari SPN ini akan menjadi polisi yang sangat humanis, manusiawi, menghargai keberagaman dan kearifan lokal yang ada. Tentu mereka harus dididik manusiawi juga,” tuturnya.(*)