TRIBUNNEWS.COM - Setelah melalui sejumlah drama dan kontroversi, evakuasi penumpang kapal pesiar ekspedisi MV Hondius akhirnya dilakukan di Pelabuhan Granadilla, Tenerife, Kepulauan Canary pada Minggu waktu setempat (10/5/2026).
Insiden yang menimpa kapal penjelajah kutub ini telah menjadi pusat perhatian global setelah laporan mengenai kemunculan klaster Hantavirus di atas kapal viral di berbagai platform media sosial.
Dunia kini menyoroti bagaimana otoritas kesehatan internasional menangani patogen mematikan ini di ruang tertutup.
Hantavirus sendiri dikenal sebagai virus zoonosis berbahaya yang umumnya ditularkan melalui tikus.
Di sejumlah kasus yang parah, hantavirus dapat memicu sindrom pernapasan akut yang fatal serta kegagalan organ pada manusia, sebuah risiko yang memaksa pemerintah Spanyol memberlakukan status siaga satu pada operasi evakuasi ini.
Hantavirus sendiri merupakan sebuah virus berbahaya yang biasanya diasosiasikan dengan tikus dan dapat memicu komplikasi pernapasan serius pada manusia.
Melansir dari harian Spanyol, El Mundo, sebanyak 94 penumpang telah dievakuasi dari kapal ke daratan dengan pengamanan yang sangat ketat pada hari pertama operasi pada hari Minggu.
Proses penurunan penumpang sendiri dilakukan menggunakan metode Fondeo di mana kapal tidak berlabuh langsung ke Pelabuhan Granadilla.
Posisi MV Hondius hanya berdiam di dekat pelabuhan sementara perahu Zodiac kecil nantinya akan menjemput satu per satu penumpang untuk mencapai dermaga.
Setiap individu yang bertugas dalam operasi ini juga diwajibkan mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap guna meminimalkan risiko paparan.
Baca juga: Gelar Konferensi Pers di Depan Kapal Hondius, WHO: Hantavirus Bukan Covid!
Setibanya di darat, para penumpang langsung dijemput oleh armada bus milik Unit Militer Darurat (UME) untuk kemudian dibawa menuju Bandara Tenerife Sur guna menjalani karantina serta pemeriksaan kesehatan lanjutan sebelum diizinkan melanjutkan perjalanan.
Koordinasi operasi ini melibatkan sinergi penuh antara pemerintah pusat Spanyol dan pemerintah daerah Kepulauan Canary.
Pentingnya penanganan kasus ini terlihat dari kehadiran langsung Menteri Kesehatan Mónica García, Menteri Dalam Negeri Fernando Grande-Marlaska, serta Menteri Kepulauan Canary Ángel Víctor Torres di lokasi evakuasi.
Tak hanya otoritas Spanyol, pihak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga langsung mengawasi proses evakuasi tersebut dengan kehadiran sosok Direktur Jenderal WHO saat ini, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus yang ikut memantau.
Kehadiran para pejabat kesehatan tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh protokol dijalankan tanpa cela, mengingat sifat virus yang berpotensi menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang lebih luas.
Secara garis besar, mayoritas penumpang yang diturunkan berada dalam kondisi asimtomatik atau tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali.
Namun, situasi berkembang menjadi lebih waspada pada minggu malam setelah otoritas melaporkan bahwa satu penumpang asal Prancis yang telah menjalani proses repatriasi mulai menunjukkan gejala-gejala yang mengarah pada infeksi virus tersebut.
Hal ini memicu kewaspadaan tambahan bagi negara-negara asal penumpang lainnya dalam memantau warga mereka yang baru saja kembali.
Dari total 152 orang yang berada di kapal termasuk awak, proses evakuasi dilakukan secara bertahap berdasarkan kewarganegaraan dan jadwal penerbangan repatriasi.
Kelompok pertama yang diprioritaskan adalah 14 warga negara Spanyol yang langsung diterbangkan ke Madrid menggunakan pesawat militer untuk menjalani observasi mendalam di Rumah Sakit Militer Gómez Ulla.
Selain warga Spanyol, penumpang lain yang dievakuasi berasal dari Prancis, Kanada, Belanda, Inggris, Irlandia, Turki, dan Amerika Serikat.
Sementara itu, 23 warga negara Belanda yang tersisa dijadwalkan akan menyusul untuk dievakuasi pada Senin ini (11/5/2026).
Baca juga: Penularan Hantavirus Tak Seperti Covid-19, Sangat Kecil Tertulari saat di Pertama Kali Bertemu
Untuk sementara waktu, kapal MV Hondius tetap berada di bawah pengawasan ketat di Pelabuhan Granadilla bersama para awak kapal, seorang dokter dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan satu jenazah penumpang yang meninggal di atas kapal.
Kehadiran tim medis internasional dari WHO dan keterlibatan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) menekankan betapa seriusnya investigasi yang tengah dilakukan untuk mencari sumber penularan primer di dalam kapal ekspedisi tersebut.
Investigasi ini sangat krusial karena Hantavirus memiliki mekanisme penularan yang unik dan seringkali sulit dideteksi di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar.
Pihak berwenang Spanyol juga memastikan bahwa seluruh area kapal akan menjalani disinfeksi total, sementara semua penumpang yang telah dievakuasi tetap wajib menjalani tes PCR dan pemantauan kesehatan secara berkala.
Proses tersebut dilakukan hingga masa inkubasi virus dinyatakan berakhir oleh tim medis ahli.
(Tribunnews.com/Bobby)