TRIBUNMANADO.CO.ID,SANGIHE - Masih ingat Aprilio Manganang atau Aprilio Perkasa Manganang?
Aprilio Manganang adalah mantan anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) TNI dan atlet voli putri nasional, yang belakangan diketahui secara medis adalah laki-laki.
Aprilio Perkasa Manganang kini menjalani hidup baru dengan lebih tenang dan bahagia.
Setelah selama 30 tahun hidup sebagai perempuan, Aprilio akhirnya mengungkap kisah panjang yang selama ini menjadi batin baginya.
Ia merasa jauh lebih lega setelah mengetahui jati dirinya yang sebenarnya dan resmi menjalani hidup sebagai laki-laki.
Selama bertahun-tahun, ia hidup sebagai perempuan, bahkan harus berpura-pura mengalami menstruasi padahal hal itu tak pernah terjadi padanya.
Sejak kecil, Aprilio dianggap perempuan karena keterbatasan ekonomi keluarga dan minimnya pengetahuan soal kondisi kesehatannya.
Baru kemudian diketahui bahwa ia mengalami hipospadia, yakni kelainan bawaan pada laki-laki di mana letak saluran kencing tidak berada pada posisi normal.
Perjalanan hidupnya penuh tantangan.
Ia pernah bercita-cita menjadi pramugari dan dokter, namun jalan hidup justru membawanya menjadi atlet voli nasional, anggota Kowad, hingga akhirnya menjadi prajurit TNI AD.
Saat masih aktif sebagai atlet voli putri nasional, Aprilio memilih tidur terpisah dari rekan-rekannya karena merasa ada perbedaan dalam dirinya.
Ia juga mengalami tekanan batin karena harus menyimpan kenyataan yang sulit dijelaskan kepada orang lain.
Nama “Perkasa” yang kini melekat pada dirinya ternyata diberikan langsung oleh Jenderal Andika Perkasa saat proses perubahan identitas, bahkan tanpa sepengetahuannya hingga sidang penetapan status digelar.
Aprilio mengaku keputusan menjalani hidup sebagai laki-laki bukan hal mudah.
Ia harus melewati serangkaian operasi, tekanan mental, hingga proses hukum untuk mengubah identitas resminya.
Namun semua itu menjadi titik balik yang membuatnya merasa utuh.
“Setelah dokter menyatakan saya memang laki-laki, lalu menjalani operasi dan akhirnya diputuskan lewat sidang bahwa saya seorang pria, rasanya sangat melegakan. Selama 30 tahun dianggap perempuan tentu menjadi beban batin. Sekarang saya jauh lebih bahagia dan nyaman,” ujar Aprilio Perkasa Manganang kepada Tribunmanado.co.id usai podcast bersama jurnalis senior David Kusuma di Studio Tribun Manado, Jalan AA Maramis, Kelurahan Kairagi Dua, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Senin (27/4/2026) pagi.
Kini, selain bertugas sebagai Babinsa di Kodim 1301/Sangihe, Sulawesi Utara (Sulut) Aprilio juga aktif melatih voli dan membina generasi muda di kampung halamannya.
Ia telah menikah dan mengungkapkan bahwa dirinya juga memiliki rencana untuk memiliki anak bersama sang istri.
Berikut isi podcast Tribun Manado bersama Sertu Aprilio Perkasa Manganang yang membahas perjalanan hidupnya termasuk soal keinginannya soal anak.
David Kusuma: Selamat pagi Tribuners, bersama saya David Kusuma, Jurnalis Tribun Manado dalam acara Tribun Podcast pada pagi hari ini.
Aprilio Manganang: Pagi, pagi, pagi.
David Kusuma: Dengan seragam dinas ini.
Aprilio Manganang: Iya, jarang-jarang sih.
David Kusuma: Ya, apa kabar ini?
Aprilio Manganang: Puji Tuhan baik. Tribuners.
David Kusuma: Aprilio ini sekarang tugas di Kodim Sangihe ya? sekarang tugasnya apa dulu ini di sana?
Aprilio Manganang: Iya, Kodim 1301 Sangihe. Kalau sekarang jabatannya Babinsa.
David Kusuma: Juga masih main voli pasti?
Aprilio Manganang: Lebih ke pelatih, ngelatih sekarang.
David Kusuma: Tribuners, sebelum kita lebih ingin cerita terkait kegiatan-kegiatan yang saat ini dijalani, mungkin bisa dicerita dulu perjalanan masa kecil dari Aprilio ini. Mungkin banyak yang belum tahu kan?
Termasuk sekolahnya di mana? Berapa bersaudara?
Aprilio Manganang: Kalau masa kecil sih, memang dari kecil latar belakang orang tua memang tidak mampu.
Ya, hidup berpapasan, ya makan apa adanya. Saya anak kedua, dari dua bersaudara, paling kecil bungsu.
David Kusuma: Itu tahun berapa maksudnya di Sangihe itu?
Aprilio Manganang: Dari bayi dari lahir tahun 92 itu sudah di Sangihe. Terus sekolahnya dulu di Yayasan YPK 1 di Sangihye.
Jadi kan dulu kan teater masuk anak yang paling pintar sekali makanya berapa kali enggak naik kelas. Dulu itu SD, SD kita di SDN 1. SDN 1, Sangihe. Sangihe, pas itu enggak sempat naik kelas.
Saking pintar mungkin terus, saking sayang kayaknya. Baru pindah ke YPK 1. Lulus di situ SD. Sampai lulus SD.
Tapi dari situ sudah terjun di olahraga SD. Belutangkis. Belutangkis dulu SD.
Belutangkis dulu SD. SMP-nya juga di Sangihye. SMP 1, SMP 1 Tahuna.
Dari SMP itu sudah mulai terjun ke atletik. Sempat di pelari nasional 2005.
Sempat di Pelatnas, di Sentul. Eh, bukan, di Senayan. Waktu itu masih SMP.
David Kusuma: Nah terus, kenapa SMAnya, sudah di SMA 1 Manado?
Aprilio Manganang: Itu gara-gara waktu itu ada kegiatan Pognas kalau nggak salah itu. Itu langsung pindah ke Voli. Jadi mungkin di SMA 1 itu Lagi mencari anak-anak yang mau prestasi terus direkrut.
David Kusuma: Direkrut dari Sangihnya langsung?
Aprilio Manganang: Dari Sangihnya, pindah. Semester 1 kelas 2, pindah ke Semansa.
David Kusuma: Oh, maksudnya kelas 2 SMA baru Smansa di Manado.
Aprilio Manganang: Kelas 1, semester 2. Semester 2.
David Kusuma: Tapi maksudnya masuk sekolah SMA-nya di Sangihnya sempat SMA-nya?
Aprilio Manganang: Iya, kelas 1 sempat di Sangir, SMA 1 Tahuna. Karena berprestasi Voli, dipindah ke SMA 1 Manado.
David Kusuma: Lulusnya di SMA 1 Menado?
Aprilio Manganang: Iya, lulusnya di SMA 1 Menado.
David Kusuma: Terus kalau waktu di Menado tinggal di mana waktu itu?
Aprilio Manganang: Jadi kalau selama perjalanan hidup memang dari sekolah itu sampai lulus SMA semua beasiswa.
David Kusuma: Oh, karena prestasi atlet gitu ya? Dari pelari, bulu tangkis, Voli sama basket. Jadi besiswa terus itu?
Aprilio Manganang: Cuma satu sih olahraga yang nggak bisa kita renang.
Kita nggak bisa sampai sekarang renang. Masih butuh proses kayaknya. Jadi memang waktu itu semua besiswa karena latar belakang orang tua tidak mampu.
Jadi ada suatu kebanggaan sih. Ternyata olahraga itu memberikan jalan untuk kita sampai boleh lulus SMA.
David Kusuma: Terus waktu SMA itu sudah terjun di Voli profesional. Bagaimana sampai masuk atlet pelatnas? Sempat ikut seagames juga. Itu cerita bagaimana?
Aprilio Manganang: Oke, waktu kita lulus SMA 1 Menado, itu kan sempat mama papa itu telpon kalau mereka berdua itu sudah nggak bisa lanjut untuk biaya sekuliah. Jadi dari situ saya langsung... Jadi pas lulus SMA itu bingung kan, ini gimana hidup papa mama itu sudah nggak bisa biaya sekuliah kan. Akhirnya ketemu sama teman namanya Kak Odi, diajak ke Kalimantan Timur. Karena dia tahu saya itu volinya bagus, diajak ke Kalimantan Timur di Kutai Barat. Di Melok ke sana, jadi selama lima bulan di sana.
David Kusuma: Itu Voli waktu itu di sana?
Aprilio Manganang: Iya, kalau nggak salah ikut itu Pak Prof bawa nama Kalimantan Timur. Nah dari situ disorot sama Klub Bandung, Alko Bandung.
David Kusuma: Klub Voli ya?
Aprilio Manganang: Iya, baru 2010 itu ditanyain mau pindah nggak ke Bandung.
Sudah lah daripada saya mau pulang nggak tau menjadi apa, saya langsung putus. Jadi saya 2010-2011 sudah di Bandung. Ikut Livoli dulu.
Banyak sih likun-likunnya di situ. Karena pertama terjun di Jawa, terus dengan keadaan, postur.
Jadi 2011 itu Livoli Bandung. Nah dari situ sudah mulai berkarir. Masuk Prolingga, Alko Bandung, baru Valeria.
David Kusuma: Sempat berapa klub waktu profesional?
Aprilio Manganang: Kalau Prolingga itu ada 8 ya kalau nggak salah. Pertama itu di Alko Bandung, klub sendiri, Prolingga. Baru Valeria Monokowari, BNI.
Baru PLN, PLN 3 kali. Baru Pop Sifo, BJB.
David Kusuma: Pernah juara kan Prolingga waktu itu?
Aprilio Manganang: Pernah juara. Kalau di Valeria juara 2 kalau nggak salah. Baru yang Hetrik, PLN. Baru Pop Sifo, BJB.
David Kusuma: Tentu waktu di Prolingga itu sudah terpantau pelatnas. Itu tahun berapa dipanggil pertama kali masuk di pelatnas bola voli?
Aprilio Manganang: Kalau 2013. Sea Games Cambodia kalau nggak salah.
Tapi masih belum bagus kualitas, masih cadangan. Nanti 2015 kita head juara, itu baru diajak. Itu udah inti 2015, 2016, 2017.
Sempat medali juga kan waktu itu 2017 Sea Games Malaysia. Itu ya lumayan sejarah sih.
David Kusuma: Tapi masih status wanita waktu itu kan? Di akte masih wanita?
Boleh cerita bagaimana pengalaman waktu itu bermain sama wanita lain? Kan belum beralih. Aktenya belum beralih.
Aprilio Manganang: Kalau waktu itu sih masih menikmati.
Masih menikmati aja itu bermain bola voli. Belum tau itu arah tujuan hidup kayak gimana. Masih muda.
Cuma mulai ada ketidaknyamanan. Teman-teman udah membatasi. Itu juga jadi pertanyaan buat diri saya.
Kenapa sih teman-teman menjauh? Ada yang salah nggak? Terus aktivitas juga. Kalau latihan, dari sudah latihan sudah masing-masing. Lebih banyak menyendiri sih.
Menyendiri. Tidak bergaul. Maksudnya sesama teman-teman.
Lebih banyak menyendiri. Kenyamanan pasti nggak nyaman. Dari dalam diri ya.
David Kusuma: Tapi sempat 6 tahun di Platnes itu berarti. Dari 2013 sampai 2016. Hampir 5 tahun berarti?
Aprilio Manganang: Dia kalau Platnes itu PC paling lama itu 6 bulan. Nanti saat akan ada kegiatan. Kegiatan baru masuk.
Aktivitas selanjutnya udah banyak latihan di luar.
David Kusuma: Ini kita nyambung dengan tadi ini. Berarti dari kecil itu memang akta lahirnya wanita waktu itu.
Aprilio Manganang: Kalau dari kecil karena kan keterbelakangan hidupnya kan dulu orang tua jadi di kampung lagi. Jadi pas yang bantu mama itu oma sendiri. Jadi nggak sempat dibawa ke rumah sakit atau apa.
Tapi ternyata itu ada perubahan juga di alat kelamin. Tapi itu nanti SD, SMP kalau nggak salah. Tapi kalau kita sih masih berpikir ini hal biasa saja yang terjadi pada anak perempuan. Karena itu kelainan hiposepadias.
David Kusuma: Terus bagaimana menyadari bahwa jiwa ini ternyata pria. Itu sejak kapan itu?
Aprilio Manganang: Sejak SMA sebenarnya. Daya tarik itu udah ada kayak ke wanita dibandingkan ke laki-laki.
Cuma kan mikir waktu itu masih status perempuan. Ini dosa atau enggak sih? Itu memikir ini nggak bisa suka laki-laki. Tapi kesukaan perempuan itu kan jadi pertanyaan juga buat diri saya.
Cuma dijalani aja. Lebih banyak diam. Nggak mau banyak sharing ke teman.
Karena itu kan takutnya cara pandang orang berbeda. Lebih banyak diam sih.
David Kusuma: Waktu jadi pemain voli, bertanding bersama wanita, ada yang mempertanyakan, ini sama dengan pukulan sebesar, sama dengan laki-laki.
Aprilio Manganang: Pasti banyak mau pemain, mau penonton, semua banyak mempertanyakan. Kan selama terjun diri dunia voli, ikut pemeriksaan juga.
David Kusuma: Tapi lolos pemeriksaan terus ya?
Aprilio Manganang: Lolos pemeriksaan. Mungkin gennya masih banyak wanita kayaknya. Makanya lolos.
Yang terakhir itu 2015. Waktu Seagames. Seagames Singapura itu detail pemeriksaannya. Semua keputusan ada di pasien bahasa. Karena dokter hanya pemeriksa. Akhirnya jalani.
David Kusuma: Kalau tim lain ada yang protes begitu?
Aprilio Manganang: Ada. Dulu itu pernah sampai ada kejadian di lift voli kendal itu, ada satu tim yang nggak mau main. Kalau ada...
David Kusuma: Waktu itu nama masih Aprilia ya? Aprili ya.
Aprilio Manganang: Aprilia. Ya Aprilia Santini Manganang. Jadi mereka nggak mau main kalau Aprilio ada di situ. Cuma kan kadang itu bicara mental kan? Jadi pertanyaan juga kan buat saya itu, kenapa sih nggak mau main? Apa yang salah? Cuma kan ya... Kan takdir Tuhan nggak ada yang tahu kan? Iya, kita nggak tahu kan? Cuma syukurnya itu saya orangnya kuat, ya saya jalani aja.
Saya jalani. Sampai di detik sudah masuk umur berapa ya? 28, 29 itu itu udah mulai bimbang.
David Kusuma: Ini waktu jadi atlet voli kan sebelum jadi tentara kan? Iya.
Bagaimana sampai bisa masuk TNI? Mungkin berprestasi juga ya? Kan banyak yang berprestasi itu ditarik baik di tentara maupun kepolisian banyak seperti itu. Ceritanya bagaimana?
Aprilio Manganang: Kalau masuk TNI itu 2016. Itu sudah jadi atlet voli kan? Atlet voli.
Jadi kalau kita masuk di TNI itu karena apa? Yang berprestasi. Memang ada beberapa anak yang pelidikan termaksud saya.
David Kusuma: Yang hubungi siapa waktu itu? Niat sendiri mengajukan jadi anggota TNI atau ada yang?
Aprilio Manganang: Kalau ada sih bapak dari Paban.Paban dia. Dia yang ngajak. Tapi gak tahu.
Udah lupa namanya. Itu cuma awalnya sparing. Kan waktu itu udah di Alko Bandung.
Klub saya sparing sama Angkatan Darat. Kuat. Nah disitu kalah kan Angkatan Darat.
Jadi ditertarik. Pimpinan tertarik mereka ngajak. Masuk TNI itu tahun 2016.
Terus gak sempat pendidikan kan. Karena bentrok dengan bentrok dengan kegiatan si Games kalau gak salah waktu itu. Ada terjun juga di si Games. Jadi balai-balai udah ikut cuma pelantikan.
Jadi selama masih aktif tentara. Eh selama masih tentara baru tahun-tahun 2022 baru betul-betul kerja. Betul-betul bertugas maksudnya.
Iya betul-betul tugas. Selama jadi atlet gak pernah. Gak pernah ikut kegiatan.
Mungkin dispensasi karena atlet profesional. Nanti kalau masuk ke kantor itu kalau udah ada kegiatan antar kalau di Jakarta itu ada Piala Panglima Piala Kartini. Itu baru kita diajak gabung.
David Kusuma: Nah itu masih statusnya wanita waktu itu. Iya status wanita.
Nah terus bagaimana cerita lagi ini Bagaimana awal mula Aprilia menjadi Aprilio ini saat itu sudah di TNI. Ceritanya bagaimana waktu itu?
Aprilio Manganang: Waktu itu Itu 2000 berapa itu? Sebelum Covid ya kan? Berarti sebelum 2019 2020 udah mau dekat Covid kan itu eh 2021 kalau tidak salah disitu kan sempat dapat sorot.
Karena aturan Angkatan Darat itu kan wanita itu kan gak boleh berberlaku seperti seorang laki-laki.
Nah waktu itu aku yang disorot ada laporan bahwa ada tentara wanita yang berlaku seperti laki-laki.
Nah itu saya langsung dipanggil ke Jakarta Ketemu sama Bapak Andika dan Ibu saya Waktu itu masih Kasat.
Di situ disidang udah disidang jadi sampai siang pagi berangkat.
Sampai siang kan di Jakarta itu langsung ke kantor nah di kantor itu udah banyak dokter.
Jadi dari beliau itu tanggapannya mungkin Manganang ini itu kelebihan hormon cowok, harusnya mungkin disuntik lagi itu supaya lebih feminim.
Ternyata melakukan pemeriksaan Itu ada dokter-dokter juga.
Ada dokter beda, anggota semua itu senior pimpinan semua melakukan pemeriksaan ulangi ternyata kelainan hiposparias.
David Kusuma: Yang seharusnya laki-laki ya?
Aprilio Manganang: Iya seharusnya laki-laki. Waktu itu ditanyain lah mau gimana? Sebelumnya sudah ada di posisi gini mau namanya lanjut.
Makanya langsung dialihkan dari tentara wanita ke tentara laki-laki.
David Kusuma: Waktu itu atas dukungan support bapak Jenderal Andika Perkasa operasi itu dilakukan ya?
Aprilio Manganang: Iya Jadi kan waktu itu juga sempat akunya pengennya pensiun. Maksudnya berhenti dari Angkatan Darat. Cuma bapak Andika bilang sayang kalau kamu berhenti karena masih muda juga.
Masih muda Terus mau jadi apa? Akhirnya dibantuin untuk beralih ke status status wanita ke laki-laki.
David Kusuma: Jalanin Itu berapa lama operasinya?
Aprilio Manganang: Duh lama sekali operasi itu.
Dia bertahap operasi pertama itu bertahap 6 bulan. Lewat 6 bulan lanjut lagi operasi kedua. Lewat lagi 6 bulan lanjut lagi operasi ketiga.
Saya ke operasi ketiga itu gagal Karena banyak kebocoran Nanti berhasil itu di Makassar Operasi di Makassar Operasi kelima kalau nggak salah di Makassar.
David Kusuma: Berarti tidak semua di RSPAD? Ada berapa tahun menjalani proses itu? Sampai benar-benar Itu sempat jadi pria tulen?
Aprilio Manganang: Kalau bicara soal mental pasti terganggu karena dari kecil sudah merasa wanita dari kecil itu tidak gampang juga 30 tahun jadi wanita terus tiba-tiba jadi laki-laki itu tidak gampang itu.
Harus menyesuaikan terutama mental apalagi langsung jadi tentara laki-laki itu tidak gampang.
Karena pertama tidak ada basis militer.
Terus tidak ada doktrin militer jadi memang harus betul-betul menyesuaikan mau tidak mau.
David Kusuma: Setelah selesai semua prosedur itu baru ikut sidang merubah status dari wanita jadi Itu, sempat lalu Kita lipat itu yang tribun liput waktu sidangnya. Tapi kan di Tondano.
Aprilio Manganang: Dan itu memang tidak gampang untuk beralih status karena kan saya termasuk orang pernah jadi pemain nasional kan. Terakhir kan pernah main di maksudnya disorot itu ya pernah bawa tim Thailand.
Pernah gabung di tim Thailand Main di China. Bawa ke Thailand. Jadi tidak gampang jadi butuh-butuh saksi.
Butuh bukti bahwa memang saya itu seorang laki-laki.
David Kusuma: Dan itu nama di Perkasa ini dari Bapak Andika Perkasa? dan Aprilia Aprilio juga Pak Andika yang kasih nama atau sendirian memikirkan Aprilio?
Aprilio Manganang: Kalau seingat saya Perkasa aja dari bapak. Waktu itu dia gak kasih tau. Waktu itu gak kasih tau pas mau memutuskan status beralih nama juga baru dia kasih tau.
David Kusuma: Awal-awal sudah beralih status Jadi pria. Pasti Itu kan gak gampang kan 30 tahun dari wanita nggak gampang. Itu seperti apa awalnya itu?
Aprilio Manganang: Wah stress sih. Harusnya ke dokter jiwa karena psikologis kan. Saya langsung biasa bergaul dengan perempuan kan, Terus abis itu datang lagi Ke dunia laki-laki harus bergaul dengan laki-laki.
Ya kan kadang juga ada yang gak nyaman.
Ada yang nyaman Jadi memang banyak.
Sampai detik ini pun belajar masih belajar jadi pria tulen.
Karena mau gak mau kan untuk mengubah jadi seorang laki-laki Itu gak gampang, butuh proses. Karena mau gak mau sifat wanita itu pasti ke bawah.
David Kusuma: Tapi kalau sekarang sudah kelihatan pria tulen. Tapi sudah ada pacar kan? sudah berapa tahun?
Aprilio Manganang: Istri dan sudah jalan 5 tahun.
David Kusuma: Kalau waktu Aprilio ini jadi tentara kan sudah jadi tentara pertama tentara kowad wanita terus jadi pria. Tentu beda kan latihan fisiknya apa Itu bagaimana menjalani itu?
Aprilio Manganang: Wah beda apalagi pas setelah memutuskan jadi tentara laki-laki itu kan awalnya saya pikir saya akan dinas lagi di Manado, ternyata saya langsung pindah ke Sanger.
David Kusuma: Tugas awalnya dimana jadi tentara awalnya waktu masih Kowad ini?
Aprilio Manganang: Angkatan darat yang di Cimahi itu awalnya. Tahunya besok kamu sudah pindah di Kodam Merdeka. Tapi itu masih statusnya Kowad. Sekarang di Kodim jadi Babinsa.
David Kusuma: Pulang kampung jadi ceritanya?
Aprilio Manganang: Ya pulang kampung. Pokoknya itu pekerjaan yang tidak pernah aku lakukan, ya harus belajar. Banyak sekali itu pekerjaan yang dulu memang apa ya kayak yang dulu cuman latihan latihan Pegang barang berat tidak pernah. Paling membantu akhirnya sekarang kan gabung dengan tentara laki-laki harus tau kerja.
David Kusuma: Tapi ini ada Kan waktu mau berubah status itu ada sharing dengan dokter, mungkin kenapa bisa dapat itu ada bertanya?
Aprilio Manganang: Kalo dokter bilang memang Itu bawaan karena kelainan hipospadiasi itu memang Kelainan yang terjadi pada anak laki-laki. Jadi memang itu real memang kelainan. Dan cuman harus ada tindakan operasi.
Cuman masalahnya kan waktu itu karena ketidaktauan orang tua dialihkan ke orang tua mendidik secara wanita.
David Kusuma: Kalo sekarang bagaimana teman-teman dulu yang atlet-atlet dulu sekarang sudah jadi pria, apa reaksi mereka?
Aprilio Manganang: Kalo reaksi mereka lebih ada yang senang karena kan memang sudah jati diri. Sudah asli Jadi kayak ada yang kasih selamat. Dan memang itu yang Saya mau sih dari mereka. Maksudnya dari diri sendiri juga selama jadi atlet memang tujuannya itu pengen cari jati diri sih.
Bukan tentang apa yang saya dapat, tapi kebahagiaan yang saya dapat ini status.
David Kusuma: Terus ada teman-teman lain yang bilang dulu harusnya bermain di pria?
Aprilio Manganang: Ada lah pasti. Sampai bilang kayak wah enak banget ya berarti selama ini jadi penipu. Ya bodo amat sih Itu takdir .
Siapa yang mau tau, mereka kan gak jalanin.
David Kusuma: Terus kalau di Voli sekarang masih aktif juga atau? Lalu melatih?
Aprilio Manganang: Jadi kan selama jadi tentara sekarang juga jabatan Babinsa Jadi lebih ke pembangunan karakter Kan anak muda Jadi pas, syukur juga sih jadi tentara. Jadi bisa buka akses buat anak-anak apalagi sekarang buka Akademi kan di Sangir. Jadi selain kita orang cari atlet terus juga membentuk karakter anak-anak.
David Kusuma: Kalau di di sana, jadi pelatih voli begitu, ada gak sih niat untuk agar anak muda yang di Sangir bisa jadi atlet profesional seperti Aprilio?
Aprilio Manganang: Kalau saya pribadi saya pengennya begitu. Karena kalau lihat potensi anak-anak kepulauan itu memang banyak. Cuma selama ini kan mereka Untuk akses mungkin kurang terekspos juga mereka pengen jadi pemain volley tapi tidak punya akses.
Fasilitas juga kayak kurang memadai. Makanya tujuan saya juga, saya aja bisa kenapa Anak-anak asli saya gak bisa jadi atlet kan.
Biarpun prestasinya sebenarnya cuman sekedar pon, tapi sebenarnya mereka punya mimpi dan juga bisa memperbaiki masa depan.
David Kusuma: Sekarang sebagai seorang pria apalagi yang masih mungkin ingin suatu saat Ingin ada Aprilio-Aprilio yang di bidang atlet?
Aprilio Manganang: Kalau sekarang sih saya lebih punya mimpi, Saya pengen ada Menganang lagi yang bisa berkarya di nasional dari Kepulauan Sangir.
David Kusuma: Itu bagaimana kalau yang suka, mungkin anak-anak muda yang belum tahu, suka mau jadi atlet bisa masuk di MVB?
Aprilio Manganang: Kalau ingin gabung bisa langsung bisa gabung langsung latihan juga teratur. Ada program latihan, jadi mindset kita itu biarpun kita anak Kepulauan tapi cara pandang kita masih anak kota.
Jadi tidak ketinggalan Generasi yang ingin maju seperti Aprilio. Karena kan mau dibilang orang pulau mana mau berkembang kita mau mematakan itu. Orang pulau bisa berkembang.
David Kusuma: Kalau dari Ini dari Institusi mengizinkan ada klub-klub bola voli Yang didirikan Aprilio?
Aprilio Manganang: Ya terutama dari komandan Dandim kami itu mendukung. Mendukung dan generasi muda untuk generasi muda, dia mendukung sekali ada.
David Kusuma: Sekarang sudah program anak?
Aprilio Manganang: Doain aja. Istri juga selalu mendampingnya.
David Kusuma: Mungkin pesan-pesan kepada generasi muda, terutama kepada anak-anak di Kepulauan agar tetap yakin berusaha seperti Aprilio tadi meski dari keluarga kurang mampu memang cita-citanya jadi atlet dapat beasiswa sampai jadi tentara, dan bahkan menemukan jati diri yang sebenarnya. Mungkin kalau tidak jadi TNI mungkin tidak akan terwujud.
Aprilio Manganang: Iya betul jadi TNI aja. Dulu cita-citanya apa ya dulu tuh pernah Kalau dulu tuh masih perempuan itu pernah bilang pengennya jadi pramugari. Masih polos kan itu kan Ternyata tidak jadi pramugari. Ingin juga Jadi dokter tidak jadi . Tiba-tiba langsung jadi tentara. Memang dulu tidak tahu Tidak mau sekali itu jadi tentara takut sekali orang pakai seragam.
Tiba-tiba jadi tentara.
David Kusuma: Bahkan karena dari tentara itu menemukan jati diri sebenarnya Ternyata memang seorang pria.
Aprilio Manganang: Cuma kan orang tidak tahu ya rencana Tuhan itu kan di luar dari pikiran manusia kan.
David Kusuma: Ada pesan-pesan kepada generasi muda mungkin yang?
Aprilio Manganang: Ya kalau pesan-pesan sih kalau pribadi sih, saya untuk jangan pernah selalu bermimpi karena mimpi itu kalau kita betul-betul jalani pasti semua bisa tercapai. Kalau saya pribadi saya banyak kekurangan tapi kekurangan itu menjadi kelebihan buat saya.
David Kusuma: Oke Tribuners, sampai jumpa dan salam sehat selalu sampai jumpa dan salam sehat. Terima kasih. (Tribunmanado.co.id/Ind)