F-35 AS Kirim Sinyal SOS di Langit Hormuz, Iran Klaim Bukan 'Masalah Teknis', CENTCOM Masih Bungkam
Malvyandie Haryadi May 11, 2026 01:23 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jet tempur siluman F-35 Lightning II milik Amerika Serikat dilaporkan mengirimkan sinyal darurat saat melintas di atas Laut Oman, dekat Selat Hormuz, Minggu (10/5/2026). 

Insiden itu langsung memicu spekulasi bahwa pesawat generasi kelima tersebut kemungkinan terkena serangan Iran di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Teluk.

Berdasarkan data pelacak penerbangan internasional, jet tempur generasi kelima itu memancarkan kode transponder "7700", yang merupakan sinyal universal untuk keadaan darurat umum (general emergency). 

Sinyal tersebut terdeteksi saat pesawat berada di dekat wilayah Semenanjung Arab, sebuah area yang kini menjadi zona panas akibat penutupan Selat Hormuz oleh militer Iran terhadap lalu lintas kapal-kapal yang dianggap bermusuhan.

Pihak Teheran melalui media pemerintah dan saluran militer segera mengklaim bahwa gangguan pada sistem F-35 tersebut bukanlah kecelakaan teknis semata. 

"Unit pertahanan udara kami terus memantau setiap pergerakan aset asing yang mencoba melanggar batas kedaulatan atau melakukan manuver provokatif di zona identifikasi pertahanan udara kami," ujar seorang pejabat militer Iran dalam laporan yang dikutip dari WION.

Lebih lanjut, pihak Iran memberikan indikasi bahwa status darurat jet tempur tersebut berkaitan dengan sistem pertahanan elektronik atau kinetik yang mereka miliki. 

"Kedaulatan udara kami tidak bisa diganggu gugat, dan setiap upaya untuk menguji kesiapan Iran akan mendapatkan respons yang sepadan, baik terlihat maupun tidak terlihat di radar," tegas pejabat anonim tersebut, merujuk pada spekulasi penggunaan pengacau sinyal (jammer) atau sistem rudal jarak jauh.

Dalam pernyataan singkatnya, pihak militer hanya menyebutkan bahwa keselamatan awak pesawat adalah prioritas utama dan penyelidikan terhadap status armada di kawasan tersebut sedang berlangsung secara internal.

Titik didih

Selat Hormuz sendiri menjadi salah satu titik paling panas dalam konflik terbaru AS-Iran. 

Jalur sempit itu merupakan rute vital perdagangan energi dunia karena sekitar seperlima distribusi minyak global melewati kawasan tersebut.

Ketegangan meningkat setelah Iran dan Amerika Serikat saling melancarkan operasi militer dalam beberapa pekan terakhir.

Amerika Serikat sebelumnya menggelar “Operation Project Freedom”, operasi militer untuk mengawal kapal-kapal dagang melintasi Selat Hormuz di tengah ancaman Iran. 

Pentagon mengerahkan sejumlah aset udara, termasuk F-35, F-15, F-16, hingga kapal induk dan kapal perusak ke kawasan Teluk.

F-35, Kebanggaan Amerika

F-35 Lightning II merupakan jet tempur siluman tercanggih yang dimiliki AS saat ini.

Pesawat buatan Lockheed Martin itu dirancang untuk menembus pertahanan udara modern dengan teknologi stealth yang membuatnya sulit dideteksi radar.

Jet tersebut mampu melaju hingga kecepatan Mach 1,6 atau sekitar 1.975 kilometer per jam, dengan radius tempur lebih dari 1.000 kilometer. 

F-35 juga dilengkapi sensor fusion canggih yang memungkinkan pilot memperoleh gambaran medan perang secara real time dari berbagai sistem radar dan sensor elektronik.

Selain kemampuan siluman, F-35 dibekali persenjataan modern mulai dari rudal udara-ke-udara AIM-120 AMRAAM, bom pintar JDAM, hingga rudal anti-kapal.

Amerika Serikat selama ini menganggap F-35 sebagai tulang punggung dominasi udara generasi baru.

Sejarah mencatat bahwa F-35 bukanlah pesawat yang kebal dari insiden. Meski belum ada catatan resmi F-35 ditembak jatuh oleh tembakan musuh dalam pertempuran, beberapa unit telah hilang akibat kegagalan teknis, seperti jatuhnya F-35B Inggris dari kapal induk HMS Queen Elizabeth pada 2021, serta insiden jatuh di laut yang dialami oleh armada Jepang dan Amerika Serikat di masa lalu.

Pada perang terbaru di Iran bulan lalu, muncul laporan sebuah F-35 AS melakukan pendaratan darurat usai menjalankan misi tempur di wilayah Iran.

Kini kabar mengenai sinyal darurat ini menambah beban psikologis bagi sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk. 

Seperti yang dilaporkan oleh Mathrubhumi, hilangnya kendali atau gangguan pada aset udara AS di Selat Hormuz dapat mengubah peta kekuatan diplomasi, terutama saat ekspor energi global sedang terhenti dan ekonomi negara-negara seperti Bahrain berada dalam mode darurat.

Iran sendiri telah meningkatkan kemampuan pertahanan udaranya secara signifikan melalui pengembangan sistem Bavar-373 dan Khordad-15. 

Keberhasilan mereka menjatuhkan drone pengintai canggih AS, Global Hawk, pada tahun 2019 menjadi pengingat bagi Pentagon bahwa wilayah udara di sekitar Iran bukanlah zona tanpa risiko bagi pesawat jenis apa pun.

Bisa karena faktor teknis

Di sisi lain, pengamat penerbangan dari Caliber.az mencatat bahwa sinyal "7700" bisa saja disebabkan oleh masalah sepele seperti gangguan pasokan oksigen pilot atau kegagalan mesin tunggal Pratt & Whitney F135. 

"Jika ini masalah teknis, maka status siluman F-35 sebenarnya tidak tertembus oleh teknologi lawan, melainkan oleh kerumitan mekanisnya sendiri," tulisnya.

Konflik yang meluas di Timur Tengah pada tahun 2026 ini telah memaksa banyak pihak untuk berhati-hati dalam merilis informasi. 

Setiap klaim "penembakan" atau "pelumpuhan" pesawat tempur siluman akan dianggap sebagai kemenangan propaganda besar bagi Teheran dan kekalahan prestise bagi industri pertahanan Washington.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.