Mengenal Food Noise, Pikiran Obsesif Ingin Terus Makan Sang Pemicu Obesitas
Anita K Wardhani May 11, 2026 01:23 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Obesitas kini menjadi salah satu tantangan utama di sektor kesehatan. Sejak Maret 2025, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) sudah menyatakan obsesitas sebagai sebuah penyakit, sama seperti asma dan penyakit jantung. 

Begitu dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berbagai asosiasi kesehatan di seluruh dunia sudah menyatakan obesitas sebagai penyakit.

Baca juga: Menkes Bongkar Bahaya Obesitas, Bukan Soal Gemuk Tapi Bisa Pangkas Kualitas Hidup

"Agar tidak lagi obesitas, mindset kita harus dibenahi. Dulunya, saya sering lupa kalau sudah makan. Mindset itu ada di bagian otak kita," ungkap dr. Iflan Nauval, M.ScIH, Sp.GK, Subsp.KM, Sp.KKLP, AIFO-K, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI) di acara diskusi 'Food Noise Mereda, Berat Badan Terjaga: Bersama Mengubah Paradigma Obesitas” di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026.

Dokter Iflan mendefinisikan food noise sebagai pikiran obsesif tentang makanan yang mendorong seseorang ingin terus makan, bahkan saat tubuh tidak membutuhkan asupan.

Food noise bukan sekadar keinginan makan biasa, tetapi mencerminkan bagaimana otak merespons makanan, stres, kebiasaan, dan lingkungan. Fenomena ini kini semakin diakui dalam literatur ilmiah sebagai bagian dari mekanisme biologis obesitas. 

"Setelah makan biasanya kita merasakan kenyang dan ngantuk. Tapi kalau tiba-tiba setelah itu masih pengen makan lagi, misalnya makan pisang keju cokelat, lalu pengen makan burger juga. Itu namanya food noise," ujarnya.

Hasrat ingin makan terus-menerus seperti itu yang menjadi pemicu obesitas, alias kebeihan berat badan yang menjadi sumber segala sumber penyakit di kemudian hari jika tidak segera disadari dan diatasi serius.

"Yang seharusnya kita makan cukup dengan 2.000 kalori, food noise membuat porsi jadi 4.000 kalori, dan ini jadi beban buat tubuh. Food noise itu muncul dari hayalan, hayalan ingin makan sesuatu," jelasnya.

Dokter Iflan menambahkan, tumpukan kalori di tubuh yang tidak dibakar untuk berbagai aktivitas mendatangkan risiko yang berbahaya bagi kesehatan. "Food noise mengganggu produktivitas dan mengganggu tabungan juga, hidup jadi lebih boros," kata dia.

Ketika seseorang sudah mengalami obsesitas agar efektif penanganannya harus dilakukan komprehensif, secara tim dan melibatkan keluarga.

Obesitas sendiri merupakan penyakit kronis yang kompleks dan tidak semata-mata dipengaruhi oleh kemauan atau pola makan.

Mengutip World Obesity Atlas 2022, Indonesia menempati urutan ke-3 dari 10 negara di Asia Tenggara dengan estimasi prevalensi obesitas tertinggi. Di balik angka tersebut, food noise menjadi faktor yang sering tidak disadari. Meski terdengar seperti istilah baru, konsep ini telah lama dikenal dan kini semakin didukung oleh literatur ilmiah.

Berbeda dengan rasa lapar, yang merupakan sinyal alami tubuh, food noise adalah dorongan pikiran tentang makanan yang persisten dan intrusif, bahkan saat tubuh tidak membutuhkan asupan.

Kondisi ini tidak hanya memicu makan berlebihan (overeating), tetapi juga menimbulkan beban mental seperti rasa bersalah dan kecemasan, serta menyulitkan individu menjaga pola makan secara konsisten. 

“Banyak orang dengan obesitas sudah berusaha keras, tetapi tetap merasa kesulitan karena tantangannya bukan hanya soal disiplin, melainkan juga biologi tubuh yang kompleks. Memahami food noise penting agar kita tidak lagi menyederhanakan obesitas sebagai kegagalan pribadi,” beber dr. Iflan Nauval.

Paradigma penanganan obesitas sendiri telah bergeser dari sekadar ‘hitung kalori’ menjadi ‘perbaiki biologi’. Dalam pendekatan ini, intervensi gaya hidup dan terapi medis merupakan hal yang saling melengkapi (complementary) untuk memperbaiki mekanisme tubuh yang tidak bisa diselesaikan oleh diet saja.

"Fokus kita bukan lagi sekadar menurunkan angka di timbangan, melainkan perlindungan fungsi organ dan peningkatan kualitas hidup pasien," ujarnya.

Obesitas Kerap Disalahpahami

OBESITAS - Ilustrasi obestias. Obesitas kini menjadi salah satu penyebab utama turunnya produktivitas di tempat kerja. 
OBESITAS - Ilustrasi obestias. Obesitas kini menjadi salah satu penyebab utama turunnya produktivitas di tempat kerja.  (net)

Dia menambahkan, obesitas sering disalahpahami sebagai masalah perilaku atau gaya hidup semata, padahal melibatkan gangguan pada mekanisme neuroendokrin yang mengatur rasa lapar dan kenyang.

Akibatnya, penanganan kerap hanya berfokus pada perubahan gaya hidup, bahkan pada kasus yang sudah berat, sehingga membatasi akses terhadap terapi medis yang diperlukan.

Padahal, meski pola makan penting untuk pencegahan, pendekatan tersebut tidak cukup untuk mengatasi aspek biologis obesitas, sehingga diperlukan penanganan yang lebih komprehensif dan berbasis sains. 

Pemahaman ini mendorong pergeseran pendekatan dalam penanganan obesitas, dari sekadar pembatasan kalori menuju pendekatan berbasis biologi yang menargetkan mekanisme penyakit.  

Dalam pendekatan ini, intervensi gaya hidup dan terapi medis tidak lagi dipandang sebagai pilihan yang terpisah, melainkan sebagai komponen yang saling melengkapi dalam pengelolaan obesitas.

"Orang sering lupa sudah makan. Itu menyebabkan banyak orang mengalami obseitas ditambah kebiasaan kurang gerak."

"Faktor genetik kerap disalahkan padahal itu keliru karena peran unsur genetik hanya 15 persen dari kasus kegemukan. Mayoritas karena gaya hidup. Obeesitas sekarang sudah menjadi penyakit, dia menjadi neneknya penyakit. Mbahnya penyakit," ungkap dokter Iflan.

Kalau tidak diatasi dari hulu, akan memicu berbagai jenis penyakit. Itu kita harus pahami bersama dan harus kita koreksi. Saya sendiri pernah mengalami obesitas dengan berat badan 120 kg beberapa tahun lalu dan saat itu belum tahu ilmunya. Ternyata ada pola hidup yang harus diperbaiki, ada yang salah dengan lifestyle kita," sebutnya.

Inovasi medis seperti GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) berperan dalam membantu mengatur sinyal lapar dan kenyang melalui pusat pengaturan nafsu makan di otak. 

Dengan bekerja pada jalur biologis yang mengatur nafsu makan dan rasa kenyang, inovasi ini terbukti secara klinis dapat memperbaiki kontrol makan melalui penurunan rasa lapar, pengurangan keinginan makan, serta peningkatan rasa kenyang. Hal ini secara langsung membantu mengurangi asupan kalori dan meredakan dorongan makan berlebih, termasuk food noise.

Kehadiran inovasi ini memberikan harapan yang meringankan bagi individu yang berjuang menghadapi gangguan pikiran terkait makanan, sekaligus melengkapi perubahan gaya hidup sebagai bagian dari penanganan yang lebih komprehensif.

Secara klinis, terapi GLP-1 RA Novo Nordisk telah menunjukkan manfaat dalam mendukung penurunan berat badan yang signifikan, sehingga 1 dari 3 pasien dapat kehilangan lebih dari 20 persen berat badan.

Pendekatan ini mengedepankan konsep penurunan berat badan yang berkualitas (quality weight loss), yaitu penurunan massa lemak secara efektif sambil mempertahankan massa otot.

"Terapi ini juga berpotensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 20 persen,” ujar Riyanny Meisha Tarliman, Associate Director, Clinical, Medical, and Regulatory, Novo Nordisk Indonesia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.