Mendiktisaintek di ITS: Riset Kampus Tak Boleh Berhenti di Laboratorium
Cak Sur May 11, 2026 01:32 PM

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto meminta perguruan tinggi mempercepat pengembangan dan hilirisasi inovasi, agar hasil riset kampus bisa langsung dimanfaatkan industri maupun mendukung program prioritas nasional pemerintah.

Hal itu disampaikan Brian saat meninjau berbagai hasil riset dan inovasi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jawa Timur (Jatim) pada Sabtu (8/5/2026).

Menurutnya, karya-karya yang dihasilkan perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada tahap penelitian semata. Kampus harus mampu menghadirkan solusi nyata yang dapat digunakan masyarakat maupun dunia industri.

“Perguruan tinggi memiliki karya-karya hasil penelitian, hasil tugas akhir mahasiswa, penelitian dosennya, karya-karya inovasi dari para guru besar dan lain-lain itu diharapkan bisa mendukung program-program prioritas nasional yang telah dicanangkan Presiden,” kata Brian.

Riset Kampus Diminta Selaras Program Pemerintah

Brian menjelaskan, Presiden Prabowo Subianto meminta agar arah pengembangan riset di perguruan tinggi diselaraskan dengan target nasional pemerintah.

Dengan begitu, riset dan inovasi kampus tidak berjalan sendiri tanpa keterkaitan dengan kebutuhan negara maupun industri.

“Industri-industri kami ajak ke kampus, di sisi lain kami juga mendorong riset-riset di kampus dipercepat dan diselaraskan dengan program-program pemerintah baik di BUMN, kementerian maupun industri,” ujarnya.

Dalam kunjungannya ke ITS Surabaya, Brian melihat sejumlah inovasi yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih luas.

Beberapa di antaranya yakni kendaraan listrik, traktor pertanian, hingga alat bantu panen kelapa yang dianggap relevan dengan kebutuhan nasional saat ini.

“Nah itu diharapkan sekarang lebih di-inline-kan, sehingga area-area ini bisa segera digunakan. Hampir di semua negara industri maju memang ditopang oleh riset-riset yang kuat di perguruan tinggi,” katanya.

ITS Akui Hilirisasi Masih Jadi Tantangan

Sementara itu, Rektor ITS, Bambang Pramujati, mengatakan bahwa pihaknya terus berupaya mempercepat hilirisasi inovasi, agar hasil riset kampus bisa dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat dan industri.

“Kami dititipi agar inovasi-inovasi di ITS selaras dengan program-program yang dicanangkan pemerintah, sehingga apa yang kami hasilkan benar-benar dibutuhkan,” ujarnya.

Namun, Bambang mengakui proses hilirisasi inovasi di perguruan tinggi masih menghadapi berbagai kendala, terutama keterlibatan industri dan dukungan kebijakan pemerintah.

“Proses hilirisasi itu bukan sesuatu yang mudah. Banyak produk inovasi yang kami hasilkan, tetapi proses hilirisasinya belum semudah yang kami harapkan,” katanya.

Ia menyebut hingga kini belum sampai 25 persen produk inovasi ITS berhasil dihilirisasikan secara optimal.

Fokus pada Kemandirian Pangan dan Energi

Brian menegaskan, pemerintah akan terus mendorong pengembangan riset strategis, khususnya yang mendukung kemandirian pangan dan energi nasional.

Menurutnya, dua sektor tersebut membutuhkan dukungan teknologi dan inovasi yang kuat dari perguruan tinggi.

  • Kampus diminta mempercepat hilirisasi inovasi dan riset
  • ITS menampilkan inovasi kendaraan listrik hingga alat pertanian
  • Pemerintah ingin riset kampus selaras dengan program nasional
  • Hilirisasi dinilai masih terkendala dukungan industri dan kebijakan
  • ITS menargetkan komersialisasi inovasi sebagai sumber pendapatan baru

Bambang berharap, hilirisasi inovasi nantinya tidak hanya memberi manfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi sumber pendapatan baru bagi ITS sebagai perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH).

“Kami ingin ke depan ITS menjadi entrepreneurial university yang mampu mendapatkan revenue generation dari non-UKT dan non-APBN melalui komersialisasi produk inovasi,” tuturnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.