Musim Tanam, Stok Pupuk Bersubsidi di Pangandaran Dipastikan Aman
ferri amiril May 11, 2026 01:35 PM

 

Laporan Kontributor TribunPriangan.com Pangandaran, Padna


TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Musim tanam padi di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat dipastikan tidak terganggu kelangkaan pupuk bersubsidi. 

Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) memastikan stok pupuk untuk kebutuhan petani masih tersedia di sejumlah kios resmi.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) BPP Kecamatan Padaherang, Nadia Btari, menyatakan hasil pengawasan di lapangan distribusi pupuk bersubsidi masih aman selama musim tanam berlangsung.

"Setiap petani sudah memiliki kuota pupuk bersubsidi. Petani tinggal menebusnya dengan membawa KTP ke kios sesuai wilayah masing-masing," ujar Nadia kepada sejumlah wartawan di BPP Kecamatan Padaherang, Senin (11/5/2026) pagi.

Ia menjelaskan, jumlah pupuk yang diterima petani disesuaikan dengan luas lahan yang tercatat dalam data pertanian.

Baca juga: Investor Properti Mewah Masuk Pangandaran, Bupati Citra: Perkuat Pariwisata dan Dongkrak Ekonomi

"Kalau besaran pupuk yang diterima ditentukan berdasarkan dokumen luas lahan garapan petani," katanya.

Untuk harga, pupuk bersubsidi tetap mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET) yang sudah ditetapkan pemerintah. Pupuk urea bersubsidi dijual Rp 1.800 per kilogram atau Rp 90 ribu per sak ukuran 50 kilogram. 

Sedangkan pupuk NPK atau Ponska dijual Rp 1.840 per kilogram atau Rp 92 ribu per sak ukuran 50 kilogram.

Meski distribusi pupuk saat ini dinilai lebih lancar, sejumlah petani mengaku sebelumnya sempat mengalami kendala saat masa peralihan sistem kartu tani ke penggunaan KTP.

Seorang petani asal Dusun Anggaraksan, Desa Maruyungsari, Kecamatan Padaherang, Yusno, mengatakan pupuk bersubsidi kini lebih mudah diperoleh dibanding beberapa waktu lalu.

"Sekarang pupuk masih mudah didapat. Tapi sawah saya sering kebanjiran, jadi belum beli pupuk lagi," ucap Yusno.

Yusno menyebut, pada masa awal perubahan sistem pendataan, petani kerap tidak menerima pupuk sesuai kebutuhan lahan.

"Dulu pernah butuh 30 kilogram untuk sawah sekitar 200 bata, tapi yang diberikan paling hanya setengahnya. Sekarang katanya sudah disesuaikan dengan kebutuhan," ujarnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.