Mukminah Bangun Qiana Craft Berawal dari Menjahit Kain Sisa Menjadi Tas
Robertus Didik Budiawan Cahyono May 11, 2026 04:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Deretan tas cantik, vest tapis, hingga aksesori khas Lampung bergantung rapi di galeri Qiana Craft yang berlokasi di Gunung Sulah, Kota Bandar Lampung pada Senin (11/5/2026).

Di balik deretan souvenir tersebut, terdapat sosok perempuan tangguh bernama Mukminah selaku owner dari Qiana Craft.

Mukminah menceritakan bahwa usahanya berdiri sekitar tahun 2018–2019, sebelum pandemi Covid-19 melanda. Awalnya hanya berangkat dari pemanfaatan kain-kain sisa atau kain perca. 

Mukminah yang memang memiliki hobi menjahit mencoba mengolah sisa kain menjadi tas sederhana.

“Awalnya dari kain-kain sisa. Saya memang suka jahit dari dulu, jadi kain perca itu saya bikin jadi tas,” ujarnya Senin (11/5/2026).

Baca juga: Kisah Seorang IRT di Balik Keindahan Kain Tapis, Rintis Usaha dari Jual 2 Tas

Setelah membuat beberapa tas, dirinya memberanikan diri untuk mengikuti pameran yang diadakan oleh Pemkot Bandar Lampung.

Namun, titik balik usahanya justru datang saat pandemi Covid-19. Ketika masker menjadi kebutuhan utama masyarakat, Mukminah yang saat itu kebingungan bagaimana usahanya, melihat peluang besar yaitu dengan menjahit masker kain.

“Waktu pandemi masker susah dicari. Saya punya ide bikin masker kain sendiri. Ternyata pesanan ramai sekali,” katanya.

Tak berhenti sampai di situ, ia kemudian mendapat ide untuk mengombinasikan masker kain dengan kain tapis khas Lampung. 

Ide tersebut ternyata mendapat respons luar biasa dari masyarakat maupun instansi pemerintah.

“Orang dinas menyarankan memakai tapis. Setelah dikombinasikan, masker kain yang saya buat makin laris,” ujarnya.

Dalam sehari, Mukminah mampu memproduksi hingga satu hingga dua lusin masker secara mandiri. Semua dikerjakan sendiri tanpa bantuan karyawan.

Kemampuan menjahit dan membuat kerajinan yang dimiliki Mukminah sebagian besar dipelajari secara otodidak. 

Ia mengaku sering mencari referensi dari internet, terutama YouTube, untuk mempelajari model-model baru.

“Dulu saya belajar menjahit baju, kalau menjahit tas, peci dan lainnya ini saya otodidak,” ungkapnya.

“Ide desainnya pun dari saya sendiri. Kalau lihat ide bagus, saya coba cari tahu caranya seperti apa,” tambahnya.

Sementara untuk keterampilan tapis, Mukminah mengaku pernah mengikuti pelatihan dari Dinas Perindustrian bersama para pengrajin lainnya.

Meski mengaku tidak selincah pengrajin tapis profesional, ia memahami teknik dasar penyulaman benang dan kemudian memadukannya dengan keterampilan menjahit yang sudah lebih dulu dikuasainya.

Kini, produk Qiana Craft semakin beragam. Tidak hanya tas dan pouch, Mukminah juga memproduksi vest atau rompi tapis, sandal kombinasi rajut dan tapis, hingga aksesori seperti kalung siger dan hiasan berbahan kawat bulu.

Semua produk dibuat dengan sentuhan handmade dan motif khas Lampung yang elegan.

Untuk harga, produk Qiana Craft dibanderol mulai dari Rp.15 ribu hingga Rp,550 ribu, tergantung tingkat kesulitan dan bahan yang digunakan. 

Sementara produk vest tapis yang menjadi unggulan dijual di kisaran Rp.250 ribu hingga Rp.350 ribu. “Yang paling bestseller sekarang vest,” ungkapnya.

Dalam kondisi ramai bazar, penjualan vest bisa mencapai enam potong per bulan. Sementara omzet tertinggi yang pernah diraih mencapai sekitar Rp.6 juta dalam sebulan.

Menurutnya omzet tersebut belum terlalu banyak seperti pengrajin lainnya sebab dengan usianya yang sudah tidak muda lagi dan seluruh proses pengerjaan ia lakukan sendiri. “Alhamdulillah, buat saya itu sudah sangat disyukuri,” katanya.

Di tengah berkembangnya pemasaran digital, Mukminah mengaku masih kesulitan memanfaatkan media sosial dan marketplace karena keterbatasan kemampuan teknologi.

“Jujur saya gaptek,” katanya sambil tertawa kecil.

Karena itu, pemasaran produk lebih banyak dilakukan melalui bazar UMKM, relasi pelanggan lama, serta sistem titip jual di sejumlah toko oleh-oleh di Lampung.

Bahkan, salah satu toko oleh-oleh disebut menampung hingga 11 item produk miliknya sekaligus.

Selain berjualan, Mukminah juga aktif menjadi pengajar pelatihan kerajinan tapis di sentra UMKM Kemiling, Bandar Lampung. 

Bersama para pengrajin lain, ia kerap mengajarkan teknik menyulam dan kerajinan kepada siswa sekolah maupun mahasiswa.

Sebagai ibu rumah tangga, Mukminah tetap harus membagi waktu antara urusan rumah dan pekerjaannya sebagai pengrajin. 

Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, barulah ia duduk di depan mesin jahit hingga malam hari.

“Kalau sudah di depan mesin jahit, kadang makan saja lupa,” ujarnya.

Ia mengaku selalu menyelesaikan satu produk hingga tuntas sebelum berpindah ke pekerjaan lain. Sebab jika ditinggal di tengah jalan, ia takut lupa detail jahitannya.

Di tengah persaingan usaha yang semakin ketat, ia memilih terus bertahan dan berkarya.

“Tantangannya banyak, pesaing juga banyak. Tapi kita enggak boleh nyerah,” tutupnya.

(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.