2026, Serapan Gabah Kering di Bangka Selatan Meningkat
Ajie Gusti Prabowo May 11, 2026 05:42 PM

TOBOALI, BABEL NEWS - Serapan gabah kering panen (GKP) di Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan melonjak tajam pada musim tanam pertama tahun 2026. Empat mitra penggilingan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) di wilayah tersebut diperkirakan mampu menyerap lebih dari 3.000 ton gabah kering panen (GKP) hingga akhir masa panen. 

Mitra Penggilingan Bulog Marsudi Tani Desa Rias, Iman Qolbi, mengatakan sejak awal Februari 2026 terdapat empat mitra penggilingan yang melakukan penyerapan gabah petani di Desa Rias. Dari jumlah tersebut, total serapan sementara telah mencapai lebih dari 2.800 ton GKP. 

Angka itu diperkirakan masih terus bertambah seiring masih berlangsungnya masa panen di sejumlah kawasan persawahan. "Perkiraan sampai pasca-akhir panen musim tanam pertama di Kabupaten Bangka Selatan akan lebih dari 3.000 ton GKP yang terserap," kata Iman Qolbi, Senin (11/5).

Iman Qolbi mengungkapkan, capaian tersebut meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan musim tanam pertama pada tahun 2025. Pada musim sebelumnya, total serapan gabah dari empat mitra penggilingan hanya berkisar 1.500 ton dalam satu musim panen. Sementara pada tahun ini jumlah serapan sudah mendekati angka 3.000 ton meski masa panen belum sepenuhnya selesai dilakukan.

Menurutnya peningkatan produksi dan serapan gabah tidak terlepas dari mulai tumbuhnya kepercayaan petani terhadap pola penyerapan pemerintah melalui Perum Bulog. Harga beli GKP yang stabil di angka Rp6.500 per kilogram membuat petani merasa lebih tenang saat memasuki musim panen. Selain itu, proses pembayaran yang dinilai tepat waktu membuat petani tidak lagi terlalu lama menunggu hasil penjualan gabah mereka cair.

"Petani sudah merasakan dampak harga beli GKP yang cukup stabil di angka Rp6.500 per kilogram, apalagi pembayarannya tepat waktu," jelas Iman Qolbi.

Di tengah peningkatan produksi tersebut kata Iman Qolbi, ancaman penurunan hasil panen tetap membayangi apabila kemarau panjang terjadi pada musim berikutnya. Sejumlah wilayah persawahan di Bangka Selatan diperkirakan berpotensi mengalami kekurangan air sehingga tidak dapat mengikuti pola tanam secara normal. 

Namun hingga saat ini besaran potensi penurunan produksi masih belum dapat dipastikan karena para petani dan mitra penggilingan masih menunggu perkembangan cuaca serta hasil panen musim berikutnya.

"Perkiraan ke depan apabila terjadi kemarau panjang memang diprediksi akan terjadi penurunan panen padi karena ada beberapa tempat yang dipastikan tidak bisa mengikuti pola tanam karena kekurangan air," pungkas Iman Qolbi. (u1)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.