Antisipasi Cegah Hantavirus di Indonesia, Epidemiolog: Sebetulnya Virus Ini Tak Kuat-kuat Amat
Whiesa Daniswara May 11, 2026 06:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Epidemiolog dan Ahli Global Health Security Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, mengatakan bahwa wabah hantavirus yang belakangan ini menjadi perhatian publik, tidak begitu kuat.

Hantavirus ini sebelumnya terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina dan menyebabkan setidaknya tiga orang meninggal.

Negara-negara di dunia pun berupaya mencegah penyebaran hantavirus tersebut, termasuk Indonesia.

Atas hal ini, Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, mengatakan pihaknya siap mengantisipasi penyebaran hantavirus varian Andes itu.

Adapun, hantavirus ini disebabkan oleh infeksi virus yang ditularkan dari hewan pengerat, terutama tikus dan celurut.

Virus ini bisa menular melalui urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi dan dapat menyebabkan penyakit serius seperti Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) pada manusia, yakni penyakit pernapasan langka namun sangat serius, bahkan mematikan. Gejala awal penyakit hantavirus tersebut mirip dengan flu.

Dicky pun mengatakan bahwa sebenarnya virus ini telah lama terdeteksi ada di Indonesia.

"Tanpa menihilkan potensi atau keseriusan, ini bukan penyakit baru, bukan virus baru, ditemukan sejak 1976 yang artinya sebetulnya sudah bersirkulasi, bahkan di Indonesia pun sudah terdeteksi sejak awal 2000-an kurang lebih, bahkan kalau bisa kita lakukan riset lebih jauh bisa saja sejak tahun 1990-an," ungkapnya, Senin (11/5/2026), dikutip dari YouTube Nusantara TV.

Dia juga mengatakan bahwa tikus-tikus di Indonesia telah terdeteksi memiliki virus tersebut.

"Jadi ini pada hewan tikus, baik di benua Amerika, Eropa, dan Asia ini endemik. Jadi dia ada bawa virus ini tapi tidak sakit tikusnya," kata Dicky. 

"Nah, tikus ini terdeteksi ada di got, di rumah yang terdeteksi ya, tikus rumah, terutama memang tikus-tikus yang ada di pelabuhan atau di kapal-kapal yang harusnya sebetulnya tidak ada," jelasnya.

Baca juga: Kemenkes: Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius Belum Pernah Ada di Indonesia

Namun, Dicky mengatakan bahwa hantavirus ini sebenarnya tidak sekuat itu dan tinggal dibersihkan saja jika ada tikus lewat, maka virusnya akan dengan mudah mati.

"Sebetulnya juga virus ini juga tidak kuat-kuat amat ya. Kalau misalnya kita melihat di rumah ada tikus lari gitu di dapur kita, kemudian kita berikan disinfektan, deterjen, bahkan atau mungkin kalau lantai disapu dengan pembersih lantai, mati virusnya," paparnya.

"Nah, itu yang harus dilakukan. Atau kita cuci tangan dengan sabun, mati virusnya. Nah, inilah yang harus kita lakukan," imbuh Dicky.

Meski demikian, Dicky mengatakan bahwa akan lebih baik lagi jika tikus-tikus itu dibasmi.

"Jangan sampai ada pertumbuhan tikus yang banyak gitu di satu lokasi, khususnya antara lain dengan mencegah sampah, karena sampah yang terbuka itulah yang membuat tikus itu akhirnya bisa tertarik untuk datang dan tinggal di situ gitu," ucapnya.

Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius Belum Pernah Ada di Indonesia

Sementara itu, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Andi Saguni menyatakan, jenis virus seperti hantavirus yang menyerang penumpang di kapal pesiar MV Hondius belum pernah dilaporkan ada di Indonesia.

Andi menjelaskan, jenis virus yang ditemukan dalam kasus hantavirus di kapal pesiar adalah strain Andes Virus. Jenis virus ini banyak ditemukan di wilayah benua Amerika.

“Distribusi virus ini tersebar di Amerika dan hingga kini belum pernah dilaporkan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus,” kata Andi dalam temu media via daring, Senin.

Andi juga menjelaskan, binatang pembawa penyakitnya ditemukan di berbagai habitat di benua Amerika, seperti alam liar (tikus padi ekor panjang), kabin, dan gudang di pedesaan (mencit rusa).

Saat terinfeksi Andes virus, maka kasus mengarah pada HPS atau infeksi pernapasan akut yang parah dan sering kali berakibat fatal. 

Gejala HPS meliputi demam, nyeri badan, lemas, batuk, hingga sesak napas. Masa inkubasi penyakit berkisar antara satu hingga delapan minggu, sedangkan untuk Andes Virus bisa mencapai 42 hari.

Tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) penyakit ini dilaporkan mencapai sekitar 60 persen.

Andi menerangkan, penularan antar manusia jarang terjadi, dilaporkan terbatas hanya pada tipe HPS (Andes Virus) di Amerika Selatan serta pada kontak intens dan berkepanjangan.

"Risiko penularan antar manusia sangat rendah dan terbatas. Hingga saat ini, penularan antar manusia sangat jarang terjadi," ungkap Andi.

Sementara itu, tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain Seoul virus tersebar di kawasan Eropa dan Asia, termasuk Indonesia. 

Virus tipe HFRS umumnya dibawa oleh tikus got dan mencit ladang yang hidup di wilayah perkotaan maupun area pertanian. 

Gejalanya berupa demam, sakit kepala, nyeri badan, tubuh lemas, hingga ikterik atau kondisi tubuh menguning. Masa inkubasi penyakit sekitar satu hingga dua minggu dengan CFR berkisar 5 hingga 15 persen.

Kemenkes pun memastikan terus melakukan pemantauan dan pengawasan guna mencegah potensi penyebaran penyakit tersebut di Indonesia.

(Tribunnews.com/Rifqah/Rina)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.