BANGKAPOS.COM, BANGKA – Di tengah permasalahan keterbatasan modal, sulitnya mendapatkan bahan baku, hingga kerusakan alat kerja, pengrajin kapal tradisional di Desa Bangka Kota, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung masih tetap bertahan.
Musri yang kini berusia 49 tahun adalah salah satunya. Ia telah menjalani profesi sejak 1987 secara turun-temurun dari keluarganya.
Selama menjalani profesi membuat kapal tradisional untuk nelayan ini, ia mengaku belum pernah menerima bantuan dari pemerintah.
Kondisi ini membuat pengrajin harus bertahan dengan kemampuan sendiri demi menjaga usaha pembuatan kapal tradisional tetap hidup.
Musri mengatakan kesulitan utama yang dihadapi pengrajin kapal saat ini adalah keterbatasan bahan baku kayu dan minimnya alat produksi yang memadai.
Sejumlah peralatan kerja seperti mesin senso dan bor kerap mengalami kerusakan, sementara biaya pembelian alat baru cukup besar.
Di sisi lain, pengrajin tetap dituntut menyelesaikan pesanan kapal tepat waktu untuk memenuhi kebutuhan nelayan.
“Harapan kami sebagai rakyat ada bantuan dan keringanan bagi pengrajin kapal,” kata dia kepada Bangkapos.com, Senin (11/5/2026).
Menurut dia, selama menjalani usaha pembuatan kapal sejak 1987, belum ada bantuan yang diterima para pengrajin di Desa Bangka Kota.
Padahal pekerjaan membuat kapal membutuhkan modal besar mulai dari pembelian kayu hingga biaya peralatan kerja. Untuk memenuhi kebutuhan produksi, dirinya bahkan terpaksa meminjam modal usaha melalui Bank Mekar sebesar Rp25 juta.
Musri menjelaskan pinjaman modal tersebut hanya cukup digunakan membeli bahan baku kayu untuk pembuatan kapal. Sementara jika harus menambah pekerja atau membayar tenaga tambahan, modal yang dimiliki dinilai masih jauh dari cukup.
Meski harga jual kapal mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah, keuntungan yang diperoleh pengrajin tidak terlalu besar karena tingginya biaya produksi.
“Keuntungan paling hanya sekitar Rp100 ribu sampai Rp200 ribu per hari untuk kebutuhan sehari-hari,” papar Musri.
Dia mengaku dalam kondisi normal satu unit kapal ukuran 11 meter dapat diselesaikan selama sekitar satu setengah bulan tergantung tingkat kesulitannya.
Kapal yang dibuat umumnya berukuran 11 hingga 12 meter sesuai pesanan nelayan dari berbagai daerah pesisir. Pemesan kapal berasal dari Sungsang, Sumatera Selatan, Sungai Selan, Sungailiat, Permis hingga Sebagin.
Harga kapal tergantung ukuran, mulai dari Rp55 juta sampai ratusan juta. Keahlian membuat kapal yang dimiliki Musri diperoleh dari orang tuanya yang dahulu juga berprofesi sebagai pengrajin perahu tradisional.
Ia memilih melanjutkan usaha keluarga tersebut karena ingin mempertahankan keterampilan turun-temurun masyarakat pesisir Bangka Kota.
Namun di tengah keterbatasan yang dihadapi saat ini, jumlah pengrajin kapal tradisional terus berkurang karena minimnya regenerasi dan dukungan usaha.
“Saya belajar membuat kapal dari orang tua, jadi sekarang saya teruskan usaha ini,” ucapnya. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)