Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Forum Konservasi Leuser (FKL) bersama Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah VII Aceh mendorong masyarakat pesisir mengembangkan budidaya kepiting soka.
Diketahui program ini merupakan kolaborasi FKL dengan KPH VII untuk menekan perambahan hutan bakau di pesisir Aceh Tamiang.
“Kita tidak bisa serta merta melarang masyarakat tanpa solusi, makanya kami menyediakan alternatif mata pencaharian berupa program budidaya kepiting soka,” kata staf FKL, T Alfian saat melakukan monitoring di Bandamulia, Aceh Tamiang, Senin (11/5/2026).
Program ini berasal dari Pemerintahan Inggris (FCDO) melalui The Asia Foundation (TAF) yang diberikan kepada kelompok masyarakat.
Awalnya, program ini hanya penanaman mangrove di seputaran hutan bakau.
"Dalam perjalanannya ada gagasan untuk memberikan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat, dan ternyata kepiting soka ini sangat bagus pasarnya,” ungkap Alfian.
Baca juga: Kembangkan Budidaya Kepiting Soka, Kelompok Wanita di Aceh Tamiang Raih Omzet Rp 2 Juta per Hari
Sejak dirintis tahun 2022, kolaborasi FKL dan KPH VII telah membina 10 kelompok masyarakat di Aceh Tamiang.
Masing-masing kelompok mendapat bantuan berupa bibit, kotak dan item pendukung lainnya.
KTH Bungong Tanjung yang merupakan kelompok binaan pertama telah berhasil memproduksi kepiting soka minimal 10 kilogram per hari.
Dengan harga jual yang menjanjikan, kelompok ini rata-rata per hari mendapat omzet Rp 2 juta.
“Kadang-kadang lima kilo, kadang sampai 12 kilo. Makanya kalau dirata-ratakan bisa Rp 17 juta seminggu,” kata Ketua KTH Bungong Tanjung, Irma Suryani.
Irma mengaku program ini sangat membantu perekonomian kelompoknya.
Dia pun berharap FKL dan KPH VII mengembangkan bantuan agar kelompok mereka bisa menambah luas tambak yang saat ini masih 2 rante (800 meter persegi). (*)