Dokter Mata Ungkap Risiko Kebutaan akibat Diabetes yang Tidak Terkontrol
Anita K Wardhani May 12, 2026 12:38 PM

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik, bisa merusak mata. Salah satu komplikasinya adalah retinopati diabetik.

Kondisi ini sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal sehingga banyak pasien tidak menyadari sampai penglihatan mulai terganggu.

Baca juga: Penderita Diabetes Sebaiknya Cek Mata, Retinopati Diabetik Bisa Picu Kebutaan Tanpa Gejala Awal

Bahkan jika terlambat ditangani, bisa menyebabkan gangguan penglihatan permanen hingga kebutaan. Karena itu skrining mata rutin menjadi langkah penting agar kerusakan retina ini bisa dideteksi lebih awal.

Berikut penjelasan Dokter spesialis mata dr Faresa Hilda, Sp.M saat berbincang dengan Tribunnews.com dalam On Focus, baru-baru ini.

Apa Itu Retinopati Diabetik?


Retinopati diabetik adalah kerusakan pada retina atau saraf mata akibat tingginya kadar gula darah yang berlangsung lama.

Kondisi ini terjadi karena pembuluh darah kecil di retina mengalami kebocoran dan kerusakan akibat diabetes yang tidak terkontrol.

Jika berlangsung kronis, pembuluh darah retina akan semakin rapuh, muncul perdarahan kecil, endapan zat sisa,
hingga pembengkakan pada area pusat penglihatan (makula).

DAMPAK DIABETES DAN MATA - Dokter spesialis mata dr Faresa Hilda, Sp.M saat berbincang dengan Tribunnews.com dalam On Focus, baru-baru ini membahas diabetes yang tidak terkontrol dengan baik, bisa merusak mata. Salah satu komplikasinya adalah retinopati diabetik.
DAMPAK DIABETES DAN MATA - Dokter spesialis mata dr Faresa Hilda, Sp.M saat berbincang dengan Tribunnews.com dalam On Focus, baru-baru ini membahas diabetes yang tidak terkontrol dengan baik, bisa merusak mata. Salah satu komplikasinya adalah retinopati diabetik. (Tribunnews.com/Rina Ayu Panca Rini)

“Kalau gula darah terus tinggi dalam waktu lama, pembuluh darah di retina bisa rusak dan menyebabkan gangguan penglihatan,” jelas dr Faresa.

Apakah Semua Penderita Diabetes Pasti Mengalaminya?
Tidak semua penderita diabetes akan mengalami retinopati diabetik. Risiko terjadinya komplikasi pada retina sangat dipengaruhi oleh seberapa baik gula darah dikendalikan.

Pasien dengan kadar HbA1C yang stabil memiliki risiko lebih rendah, sedangkan gula darah tinggi yang terus-menerus dapat mempercepat kerusakan mata.

Selain itu, faktor lain seperti hipertensi, pola hidup tidak sehat, kurang olahraga, dan konsumsi gula berlebihan juga dapat memperburuk kondisi retina.

"Penderita diabetes dianjurkan menjalani pengobatan secara konsisten, rutin kontrol ke dokter, dan tidak menghentikan obat tanpa pengawasan medis," ungkap dr Faresa.

Gejala Retinopati Diabetik

Petugas medis Rumah Sakit Mata Cicendo memeriksa mata warga di Taman Cikapayang, Jalan Ir H Djuanda, Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu (13/10/2019). Pemeriksaan mata gratis itu merupakan rangkaian dari kegiatan memperingati Hari Penglihatan Sedunia atau World Sight Day 2019 dengan mengusung tema Vision First. Tribun Jabar/Gani Kurniawan
Petugas medis Rumah Sakit Mata Cicendo memeriksa mata warga di Taman Cikapayang, Jalan Ir H Djuanda, Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu (13/10/2019). Pemeriksaan mata gratis itu merupakan rangkaian dari kegiatan memperingati Hari Penglihatan Sedunia atau World Sight Day 2019 dengan mengusung tema Vision First. Tribun Jabar/Gani Kurniawan (Tribun Jabar/Gani Kurniawan)


Retinopati diabetik sering tidak menimbulkan gejala di awal, sehingga banyak penderita diabetes tidak menyadari adanya kerusakan mata sampai penglihatan mulai terganggu.

Gejala yang perlu diwaspadai antara lain penglihatan buram, muncul bintik hitam, sulit membaca, penglihatan bergelombang, bentuk objek terlihat berubah, hingga penglihatan tiba-tiba menurun.

Karena kerusakan retina bisa terjadi tanpa tanda jelas, penderita diabetes disarankan rutin melakukan pemeriksaan mata meski belum ada keluhan.

Skrining retina sebaiknya dilakukan minimal setahun sekali.

Jika sudah ada retinopati diabetik, jadwal kontrol akan lebih.

Mulai dari tiap 6 bulan hingga setiap bulan. Pemeriksaan dilakukan dengan alat khusus untuk memeriksa kondisi retina dan pembuluh darah mata.

"Kalau kondisinya ringan kontrol setiap 6 bulan, jika sedang: kontrol 2–3 bulan sekali hingga berat: kontrol setiap bulan," ungkap dokter yang berpraktek di klinik utama JHC Matraman ini.

Pemeriksaan dilakukan menggunakan alat khusus untuk memfoto dan memindai retina guna melihat perdarahan atau kebocoran pembuluh darah.

Pengobatan Retinopati Diabetik


Pengobatan bertujuan mencegah kerusakan retina menjadi lebih parah. Jenis terapi akan disesuaikan dengan stadium penyakit.

Pada pasien retinopati diabetik ringan, pasien perlu menjaga tekanan darah dan kolesterol tetap stabil agar kerusakan retina tidak semakin berat.

Pada retinopati diabetik derajat sedang, dokter dapat melakukan laser retina untuk mencegah kerusakan berkembang ke tahap lanjut. Terapi laser membantu mengurangi kebocoran pembuluh darah dan menekan risiko perdarahan.

Jika terjadi pembengkakan retina, dokter dapat memberikan suntikan obat khusus ke dalam bola mata untuk mengurangi peradangan dan cairan.

Operasi menjadi langkah terakhir jika sudah terjadi perdarahan luas di dalam bola mata atau terbentuk jaringan parut pada retina.

"Kalau sudah sangat terlambat, penglihatan terkadang tidak bisa kembali normal sepenuhnya," tuturnya.

Apakah Retinopati Diabetik Bisa Sembuh?


Retinopati diabetik umumnya tidak bisa sembuh total. Kerusakan retina yang sudah terjadi biasanya tidak dapat kembali "bersih" sempurna.

Namun kondisi ini masih bisa dikontrol agar tidak semakin parah. Karena itu, menjaga kadar gula darah tetap stabil sangat penting untuk mencegah kerusakan lanjutan pada mata.

"Yang paling penting adalah skrining ke dokter mata, atau medical check up itu penting, minimal sekali setahun, walaupun tidak ada keluhan. Apalagi ada keluarga, riwayat keturunan, diabetes, hipertensi itu harus jauh lebih berhati-hati," pesan dia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.