TRIBUNJOGJA.COM, PADANG - Kasus dua anak Panti Asuhan Nur Ilahi di Kota Padang yang diminta untuk pindah sekolah gara-gara tunggakan biaya seragam sebesar Rp 600 ribu viral di media sosial.
Kedua siswa bernama Dio Patuta (18) dan Afil Mulyadi (17) itu belum membayar uang seragam masing-masing Rp 300 ribu.
Kasus itu berdampak secara psikologis terhadap kedua siswa tersebut.
Dio dan Afil merasa menjadi tidak nyaman dan enggan kembali ke sekolah karena khawatir akan adanya perundungan setelah kasus itu viral di media sosial.
"Saya ingin tetap lanjut sekolah walau harus pindah. Saya juga ingin mencoba kuliah nanti," ungkap Dio dikutip dari Kompas.com.
Baca juga: Ada 6 Pengungsi Luar Negeri di DIY, Kanwil Imigrasi Bentuk Forum Khusus untuk Perketat Pengawasan
Dio Patuta (18) dan Afil Mulyadi (17) adalah remaja yang tinggal di Panti Asuhan Nur Ilahi.
Keduanya bersekolah di Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Al Furqon.
Saat pertama kali masuk sekolah, keduanya diwajibkan untuk membeli seragam sekolah senilai Rp 300 ribu.
Namun keduanya belum bisa membayar uang seragam baju muslim dan batik.
Pada awal Mei 2026 lalu, pihak penyedia seragam menagih ke pihak sekolah soal kekurangan uang pembayaran seragam tersebut.
Pihak sekolah ditagih kekurangan uang seragam sebesar Rp 600 ribu yang belum dibayarkan oleh Dio dan Afil.
Kepala Sekolah MAS Al Furqon, Desmaelfa Sinar menyebut, pihak sekolah yang ditagih oleh penyedia seragam kemudian menghubungi Ketua Panti Asuhan Nur Ilahi, Renol Putra, tempat kedua siswa tinggal.
Pihak sekolah terpaksa menghubungi Ketua Panti Asuhan Nur Ilahi karena terdesak secara finansial sehingga tidak bisa menalangi terlebih dahulu.
"Biaya itu hanya diminta sekali dalam tiga tahun. Dalam situasi itu, saya kekurangan biaya untuk melunasi utang pembelian seragam ke vendor," ujar Desma kepada Kompas.com.
Ketegangan memuncak pada Sabtu (2/5/2026) malam.
Merasa respons pihak panti tidak memberikan kepastian, Desma mengirimkan pesan WhatsApp yang meminta agar kedua siswa tersebut dipindahkan saja ke sekolah lain.
Pihak sekolah membantah telah mengeluarkan siswa secara resmi.
Menurut Desma, pesan tersebut hanyalah sebuah "pancingan" emosional agar pihak panti memahami beban yang dipikul sekolah swasta dalam mengelola operasional.
"Hati nurani kami tidak mau mengeluarkan, itu hanya memancing. Isu bahwa siswa dikeluarkan karena menunggak adalah misinformasi," tegas Desma.
Baca juga: Tiket dan Jadwal KA Prameks Hari Ini Selasa 12 Mei 2026 Harga Tiket 8 Ribu
Siswa Tak Nyaman Kembali ke Sekolah
Namun, pesan tersebut telanjur berdampak psikologis.
Dio dan Afil merasa tidak nyaman dan enggan kembali ke sekolah karena khawatir akan adanya perundungan.
Sejak insiden itu, Dio yang bercita-cita menjadi guru dan Afil hanya menghabiskan waktu membantu kegiatan di panti asuhan.
"Saya ingin tetap lanjut sekolah walau harus pindah. Saya juga ingin mencoba kuliah nanti," ungkap Dio lirih.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang, Yopi Krislova, mengatakan pihaknya telah melakukan penelusuran dan siap memfasilitasi perpindahan sekolah kedua siswa tersebut.
"Kami sudah berbincang dengan kedua siswa, mereka ingin dicarikan sekolah baru. Pemerintah Kota Padang tidak ingin ada anak yang tidak sekolah," ujar Yopi.
Langkah ini diambil sebagai implementasi program "Padang Juara" yang menargetkan angka putus sekolah di Kota Padang mencapai nol persen.
Yopi menegaskan bahwa kendala finansial tidak boleh menjadi penghalang masa depan generasi muda.
Sebelum Pemkot turun tangan, persoalan ini sempat menarik perhatian personel TNI AU yang kemudian melunasi seluruh tunggakan biaya seragam kedua siswa tersebut.
Meski utang telah lunas, proses rekonsiliasi antara pihak panti dan sekolah disebut menemui jalan buntu.
Muncul pula isu mengenai biaya pindah sebesar Rp 2,5 juta yang sempat dikeluhkan pihak panti, namun sekolah kembali berkilah bahwa angka tersebut adalah "pancingan" agar siswa mengurungkan niat untuk pindah.
Saat ini, fokus utama otoritas pendidikan di Padang adalah memastikan Dio dan Afil segera mendapatkan bangku sekolah baru mengingat jadwal ujian semester yang semakin dekat.
Pihak panti asuhan mengonfirmasi sudah ada donatur yang siap membantu biaya administrasi di sekolah baru nanti.