PT Phytochemindo Reksa Resmikan Pabrik Klapanunggal dan Luncurkan Buku Biografi Pendiri
Tsaniyah Faidah May 12, 2026 07:07 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Indonesia kembali menegaskan langkah strategisnya dalam memperkuat kemandirian ekstrak bahan baku alam nasional melalui peresmian Pabrik Klapanunggal milik PT Phytochemindo Reksa, yang berlokasi di Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

PT Phytochemindo Reksa meresmikan Pabrik Klapanunggal di Kabupaten Bogor sebagai langkah strategis dalam memperkuat kemandirian ekstrak bahan baku alam nasional.

Peresmian ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan industri ekstrak bahanbaku alam Indonesia yang berdaya saing global dan berbasis riset.

Peresmian dilakukan oleh Direktur Utama PT.Phytochemindo Reksa, didampingi oleh Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan POM RI, serta perwakilan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perindustrian.

Kehadiran pemerintah menegaskan dukungan terhadap penguatan industri farmasi, obat tradisional, suplemen kesehatan dan kosmetik serta pangan olahan nasional.

Pabrik Klapanunggal merupakan fasilitas produksi terbesar dalam sejarah perusahaan, berdiri di atas lahan seluas 23.235 m⊃2; yang mencakup gedung produksi, laboratorium riset, dan gudang terintegrasi.

Fasilitas ini dirancang sebagai fondasi operasional untuk 20 tahun ke depan, dengan standar produksi terbaik guna memastikan kualitas, keamanan, dan konsistensi produk.

Ini menjadi bukti nyata komitmen perusahaan dalam mendorong kemandirian ekstrak bahan baku alam nasional.

Seiring dengan berkembangnya industri kesehatan dan wellness dunia, kebutuhan akan ekstrak bahan baku alam yang aman, efektif, dan berbasis sains semakin meningkat.

Pabrik Klapanunggal dibangun dari fondasi riset yang telah dimulai sejak tahun 1978 dan kini telah mengantongi sertifikasi Cara Pembuatan Obat Bahan Alam yang Baik (CPOBAB) tertinggi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yang menjadi indikator penting dalam menjamin mutu produk ekstrak bahan baku alam berbasis sains. 

Kehadiran pabrik ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku farmasi, obat tradisional, suplemen kesehatan dan kosmetik serta pangan olahan sekaligus meningkatkan nilai tambah dari kekayaan biodiversitas nasional.

Produk unggulan PT Phytochemindo Reksa, seperti ekstrak kunyit dan ekstrak temulawak yang telah di ekspor ke mancanegara sejak tahun 1992, menjadi bukti nyata bahwa produk herbal Indonesia mampu menembus pasar internasional.

Hingga saat ini, produk perusahaan telah diekspor ke lebih dari 16 negara.

Patrick Kalona selaku Direktur Utama PT Phytochemindo Reksa menegaskan bahwa pembangunan pabrik ini merupakan bagian dari visi jangka panjang perusahaan.

“Peresmian Pabrik Klapanunggal bukan hanya tentang pembangunan fasilitas produksi, tetapi merupakan wujud komitmen kami dalam membangun kemandirian ekstrak bahan baku alam nasional berbasis riset. Kami percaya bahwa herbal Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi solusi kesehatan global, selama dikembangkan dengan pendekatan ilmiah yang kuat dan berkelanjutan,”ujarnya.

Ia juga menambahkan, “Kami ingin mengubah paradigma bahwa herbal bukan sekadar tradisi, tetapi merupakan bagian dari sains modern yang memiliki daya saing tinggi di pasar internasional.”

Peresmian fasilitas ini merupakan langkah penting dalam meningkatkan daya saing industri farmasi nasional.

Mohamad Kashuri S.Si, Apt., M.Farm selaku Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan POM RI menyampaikan,“Pemerintah terus mendorong penguatan industri farmasi berbasis riset dan inovasi. Peresmian Pabrik Klapanunggal ini mencerminkan kemajuan signifikan industri obat bahan alam di Indonesia. Kami melihat komitmen kuat dari PT Phytochemindo Reksa dalam menerapkan standar CPOBAB secara konsisten, yang menjadi kunci dalam menjamin kualitas, keamanan, dan khasiat produk. BPOM akan terus mendukung penguatan industri berbasis riset agar mampu bersaing di tingkat global,” jelasnya.

Sejalan dengan itu, perwakilan pemerintah juga menekankan pentingnya kolaborasi antara industri, regulator, dan akademisi dalam membangun ekosistem kesehatan yang kuat dan berkelanjutan.

Penguatan Industri Ekstrak Bahan Baku Alam Nasional

Peresmian Pabrik Klapanunggal hadir di tengah kebutuhan mendesak untuk memperkuat kemandirian ekstrak bahan baku alam nasional.

Hingga saat ini, industri farmasi, obat tradisional, suplemen kesehatan dan kosmetik serta pangan olahan di Indonesia masih menghadapi tantangan berupa tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku alam, yang berdampak pada ketahanan sektor kesehatan nasional.

Dalam konteks tersebut, pembangunan fasilitas produksi berbasis riset di dalam negeri menjadi langkah strategis.

Tidak hanya memperkuat sisi suplai, tetapi juga meningkatkan kemampuan Indonesia dalam menghasilkan ekstrak bahan baku alam berkualitas tinggi yang memenuhi standar internasional.

Indonesia memiliki keunggulan berupa kekayaan biodiversitas tanaman yang sangat besar.

Namun, tanpa dukungan riset, standardisasi, dan industrialisasi yang kuat, potensi tersebut belum sepenuhnya memberikan nilai tambah optimal.

Oleh karena itu, pengembangan industri ekstrak bahan alam berbasis sains menjadi fokus penting dalam transformasi sektor kesehatan.

Pemerintah melalui berbagai kebijakan terus mendorong hilirisasi industri farmasi, obat tradisional, suplemen kesehatan dan kosmetik serta pangan olahan termasuk penguatan ekosistem riset dan inovasi.

Peran BPOM menjadi krusial dalam memastikan setiap produk memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu sehingga mampu bersaing di pasar global.

Kehadiran fasilitas seperti Pabrik Klapanunggal juga mencerminkan pentingnya investasi jangka panjang dalam industri kesehatan.

Dengan integrasi antara produksi, riset, dan pengembangan, industri tidak hanya berperan sebagai manufaktur, tetapi juga sebagai pusat inovasi yang mampu menciptakan produk bernilai tinggi.

Kolaborasi sebagai Kunci Inovasi

Perjalanan ini tidak dibangun sendirian. Kolaborasi dengan institusi akademik menjadi kunci penting dalam setiap inovasi. Kolaborasi menjadi elemen penting dalam setiap pencapaian.

Selain memperkuat kapasitas produksi, Phytochemindo juga terus mengembangkan inovasi melalui kolaborasi dengan berbagai institusi akademik seperti Institut Teknologi Bandung dalam pengembangan riset produk Rhemaukur hingga terdaftar sebagai Obat Herbal Terstandar (OHT).

Sementara itu, bersama Universitas Gajah Mada dan Universitas Sanata Dharma mengembangkan ekstrak nano kunyit pada tahun 2022.

Setelah itu, kemitraan dengan Universitas Indonesia melahirkan inovasi ekstrak dan kapsul propolis Sulawesi yang diluncurkan pada tahun 2025.

Kolaborasi ini menunjukkan bahwa masa depan industri kesehatan tidak bisa dibangun secara parsial, melainkan melalui sinergi antara dunia industri dan akademisi.

Menuju Kemandirian yang Berkelanjutan

Saat ini, Phytochemindo telah memiliki lebih dari 300 produk dan menjangkau pasar ekspor ke lebih dari 16 negara.

Hal ini menunjukkan bahwa produk berbasis bahan alam Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang di pasar internasional.

Di tengah dinamika global, termasuk pembelajaran dari pandemi, isu kemandirian sektor kesehatan menjadi semakin relevan.

Indonesia tidak hanya dituntut untuk mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga memiliki peluang untuk menjadi pemain utama dalam industri herbal global.

Langkah ini bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang yang terus berlanjut, perjalanan yang dimulai dari visi, diperkuat oleh ilmu pengetahuan, dan diwujudkan melalui tindakan nyata.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, perusahaan juga memperkenalkan buku biografi pendiri sebagai bentuk apresiasi atas nilai dan fondasi yang telah dibangun, sekaligus menjadi inspirasi dalam melanjutkan pengembangan industri berbasis inovasi.

Peluncuran Buku Biografi Pendiri

Momentum peresmian ini juga dirangkaikan dengan peluncuran buku biografi pendiri perusahaan, Almarhum Drs. Wim Kalona, berjudul “Meracik Resep Kehidupan Tegas”, yang mengangkat perjalanan hidup sang pendiri serta dalam rangka memperingati 110 tahun kelahiran beliau (12 Mei 1916 – 28 September 2000).

Buku ini mengangkat perjalanan hidup, nilai-nilai, serta visi besar sang pendiri dalam membangun fondasi perusahaan yang berfokus pada integritas, ilmu pengetahuan, dan keteguhan prinsip.

Buku ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang nilai tentang keteguhan dan keberanian untuk melangkah di jalur yang belum banyak ditempuh.

Peluncuran buku ini menjadi refleksi atas perjalanan panjang perusahaan sekaligus inspirasi bagi generasi penerus dalam mengembangkan industri ekstrak bahan alam berbasis inovasi.

Pertunjukan sand art turut dihadirkan sebagai bagian dari rangkaian acara untuk menggambarkan perjalanan Phytochemindo, mulai dari fase riset dan pengembangan hingga tumbuh menjadi pemain global di industri ekstrak bahan alam.

Visualisasi ini menyajikan kisah transformasi perusahaan dari eksplorasi potensi alam Indonesia hingga menghasilkan produk berbasis sains yang diakui di pasar internasional.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.