SURYA.co.id, Sidoarjo - Junius Bram Buntaran (56), sosok di balik berdirinya Pedalindo (Perkumpulan Pedagang Jalanan Indonesia), menceritakan perjalanan panjang organisasinya dalam membina para pedagang kecil.
Berpusat di Sidoarjo, Pedalindo telah berkembang menjadi wadah bagi ribuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk tumbuh bersama.
Perjalanan Pedalindo dimulai pada 23 Juli 2015, meski secara de facto telah bergerak sejak 2013.
Sejak awal berdiri, Bram telah memantapkan Sidoarjo sebagai pusat pergerakan Pedalindo, yang kini telah merangkul sekitar 210.000 anggota yang tersebar di 15 provinsi di Indonesia.
"Ini anggota kami sudah ada di 15 provinsi di Indonesia," ujar Bram.
Bagi Bram, Sidoarjo bukan sekadar lokasi, melainkan tanah kelahirannya yang menjadi pijakan awal untuk membangun ekonomi kerakyatan.
Baca juga: KUR BRI Jadi Penopang UMKM Jawa Timur, Pedagang Jalanan Ikut Terbantu
Di Sidoarjo sendiri, kata Bram, ada sekitar 20.000 pedagang yang tergabung dalam komunitasnya.
Ia bertekad memperkuat sektor informal seperti perdagangan melalui pendekatan yang lebih terarah.
"Saya ingin membangun Sidoarjo untuk lebih baik melalui sisi perdagangan informal," ungkapnya.
Salah satu langkah nyata kolaborasi antar anggota Pedalindo melalui kegiatan rutin di Car Free Day (CFD) yang digelar di Alun-alun Sidoarjo tiap Minggu. Di lokasi Car Free Day itu ada 400-500 pedagang yang berjualan tiap pekannya.
Bram menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ajang berjualan, melainkan upaya menciptakan ekosistem crowd market bagi para pedagang binaannya.
"Supaya ada chemistry, kalau tiap hari di tempat itu-itu saja orang bosan. Jadi kalau Minggu, sekian persen dari binaan kami masuk di Car Free Day. Awalnya di Jalan Ponti, terus dipindah ke Alun-Alun," jelas Bram.
Melalui kegiatan ini, Pedalindo dapat memantau dan membina para pedagang agar lebih disiplin dan terorganisir dalam menjajakan produk mereka di tengah keramaian.
Di tengah perjuangannya, Bram menyoroti peran BRI sebagai mitra strategis. Menurutnya, BRI adalah banknya rakyat yang memiliki jangkauan luas.
"Diakui tidak diakui, BRI itu kan banknya rakyat, hampir di setiap kecamatan memang ada," tegas Bram.
Baca juga: Kisah Lina Manfaatkan Pandemi Jadi Bisnis Virous Bombolone & Donuts di Sidoarjo
Kehadiran BRI sangat dirasakan manfaatnya dalam memfasilitasi komunitas Pedalindo untuk berkembang.
Terkait permodalan, Bram memiliki pengalaman langsung dalam mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI.
Ia menekankan bahwa meskipun prosesnya memerlukan pemenuhan syarat tertentu, BRI telah menjadi salah satu penyokong yang membantu usaha anggota Pedalindo secara perorangan.
"Saya sendiri juga pernah mengakses (KUR), tapi tahun kemarin sudah saya lunasi," tuturnya.
Untuk diketahui saja, Bram memiliki usaha bumbu masakan yang ia beri nama Bumbu Bram. Usaha ini ia bangun sejak tahun 2016, berawal dari kegemarannya berkeliling daerah dan mencicipi berbagai kuliner autentik.
"Saya sendiri yang bikin. Saya suka keliling, kalau saya makan sesuatu, saya bisa meniru bumbunya apa," ungkap Junius.
Berkat kepekaan lidahnya, ia mampu menciptakan racikan bumbu masak khas Nusantara yang sangat beragam. Saat ini, ia mampu memproduksi sekitar 250 macam jenis bumbu masak yang mencakup cita rasa dari Sabang sampai Merauke.
Pemasaran bumbu miliknya dilakukan secara eksklusif melalui konsep grassroot atau pasar lokal. Ia sengaja tidak menitipkan produknya di toko ritel besar guna mempertahankan keunikan produk sebagai komoditas yang khas.
Produk andalannya mencakup bumbu-bumbu spesifik seperti bumbu songkem, bumbu habang khas Kalimantan Selatan, hingga ayam kalio khas Palembang dan berbagai jenis rica khas Manado yang autentik.
Rasa masakan dari usahan Bumbu Bram tersebut enak, seperti yang diungkap Caca salah seorang pembeli di tempat usahanya saat Car Free Day di alun-alun Sidoarjo.
Bram mengakui bahwa untuk mendapatkan dukungan KUR, memang ada regulasi ketat yang harus dipatuhi.
Bagi anggota yang sudah memiliki rekam jejak usaha yang baik dan memenuhi persyaratan clean and clear, BRI sangat terbuka untuk menyalurkan pembiayaan.
Ia juga berharap BRI bisa membantu pengembangan kapasitas anggota, atau pemodalan dalam akses yang lebih luas. Pihaknya menjalin komunikasi intensif dengan BRI agar keinginan itu terwujud.
Cita-cita besar Bram adalah melihat pedagang kaki lima di Indonesia naik kelas dan memiliki standar hidup yang layak.
"Kami pure masyarakat yang kepengin sejahtera," ungkapnya.
Ke depannya, Pedalindo berencana memperluas jangkauan pembinaan hingga ke daerah-daerah terpencil di Indonesia.
Pedalindo juga mulai menaruh perhatian pada pasar ekspor, di mana tahun lalu mereka telah mengirimkan 297 produk ke Belanda.
"Ini kami sudah kirim 297 produk ke kantor perwakilan kami yang ada di Eindhoven, Belanda," jelasnya.
Dengan gotong royong dan semangat pantang menyerah, niscaya kesejahteraan bagi para pedagang jalanan di Indonesia dapat segera tercapai.
Pedalindo akan terus menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan hak dan masa depan ekonomi pedagang jalanan di tanah air