Ponirin Jadi Pionir Modernisasi Produksi Tahu di Tuksono Kulon Progo, Hasilnya Bisa 2 Kali Lipat
Yoseph Hary W May 13, 2026 12:04 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Kalurahan Tuksono di Kapanewon Sentolo, menjadi salah satu sentra industri tahu di Kulon Progo. Sebagian besar warga menggantungkan hidupnya dari usaha tersebut, mulai dari pemilik hingga pegawainya.

Ponirin, salah satu pengusaha tahu mengatakan setidaknya ada lebih dari 200 produsen tahu di Tuksono. Seluruhnya berawal dari usaha turun-temurun keluarga. 

"Seperti saya, awalnya dari Mbah dulu, lalu merintis sendiri usahanya sejak 16 tahun lalu," kata pemilik Industri Tahu Ponirin ini ditemui pada Selasa (12/05/2026).

Awalnya manual, kini dengan alat modern

Seperti pengusaha umum kebanyakan, Ponirin memulai produksi tahunya dengan tenaga manual. Kemampuan produksinya bisa mencapai 2 kuintal tahu dalam sehari.

Sekitar 5 tahun lalu, ia mengambil langkah besar untuk melakukan modernisasi proses pembuatan tahu. Terobosannya berhasil, produksi tahunya mampu naik 2 kali lipat.

"Kalau dulu mentok cuma 2 kuintal sehari, sekarang bisa 4 sampai 5 kuintal sehari," ujar Ponirin.

Ia menggunakan alat mulai dari pengolahan biji kedelai, penyaringan, hingga pencetakan tahu. Penyaringan dilakukan dengan mesin yang bisa bekerja sendiri tanpa bantuan manusia.

Sedangkan pencetakan tahu memakai mesin penekan yang bisa mencetak hanya dalam waktu 10 menit. Ponirin pun hanya membutuhkan sekitar 12 tenaga kerja untuk produksi tahu.

Produksi 2x lipat dan lebih cepat

Modernisasi tak hanya membuat produksi naik 2 kali lipat, tapi juga bisa lebih cepat. Alat-alat tersebut secara khusus dipesan dan didatangkan dari Jakarta.

"Bisa dikatakan baru saya di Tuksono ini yang menggunakan alat modern untuk produksi tahu," kata Ponirin.

Pihaknya pun juga telah memikirkan proses pengolahan limbah. Selain ampas yang bisa menjadi pakan ternak, hasil buangan cair diolah kembali menjadi biogas yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber bahan bakar untuk dapur.

Ponirin menjual tahunya mulai dari Rp 12 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram (kg) sesuai jenis tahu. Namun warga juga bisa membeli tahu secara satuan, mulai dari Rp 400 sampai Rp 800 per biji, tergantung jenis dan ukuran.

Ia mampu memasarkan tahu hasil produksinya ke Kota Yogyakarta dan Bantul. Bahkan saat ini mampu merambah Jawa Tengah, dan tahu produksinya dalam sehari nyaris selalu laris terjual.

"Saat ini saya juga menyetor tahu untuk beberapa SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) untuk Makan Bergizi Gratis (MBG)," ungkap Ponirin.

Menghadapi kenaikan harga kedelai

Saat ini ia berhadapan dengan bahan baku berupa kedelai impor yang mahal, begitu juga dengan minyak goreng dan plastik untuk pengemasan. Namun ia memilih tidak menaikkan harga tahu demi menjaga pelanggan.

Ponirin pun berharap industri tahu yang dikelolanya bisa terus bertahan. Begitu juga dengan pengusaha tahu lainnya di Tuksono, agar tetap lestari menjadi ikon dari wilayah tersebut.

"Semoga industri tahu di Tuksono ini bisa semakin maju dan tahunya juga selalu digemari masyarakat," katanya.

Hartini, istri Ponirin juga ikut terlibat dalam produksi tahu untuk bagian menggoreng tahu. Bersama 2 pegawai lainnya, ia mampu menggoreng sebanyak 50 ember tahu, masing-masing berisi sekitar 400 buah tahu.

Ia pun menjadi saksi hidup suaminya yang merintis usaha tahu mulai dari 16 tahun lalu, hingga berhasil sukses dengan modernisasinya. Anak-anak mereka bahkan juga memilih ikut terlibat dalam memasarkan tahu hasil produksi orang tuanya.

"Semoga semakin banyak tahu dari kami yang terjual dan area pemasarannya juga bisa lebih luas," ujar Hartini yang memiliki 3 anak bersama Ponirin ini.(alx)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.