Profil Gustavo Alfaro di Piala Dunia 2026 - Bukan Pelatih Biasa, Selada Kebahagiaan Publik Paraguay
Arif Tio Buqi Abdulah May 13, 2026 12:27 PM

TRIBUNNEWS.COM - Profil Gustavo Alfaro, pelatih timnas Paraguay di Piala Dunia 2026 menarik untuk diulas. Ia akan membesut Timnas Paraguay yang tergabung di Grup D bersama Amerika Serikat, Australia, dan Turki.

Pemilik nama lengkap Gustavo Julio Alfaro ini, bukan sekadar pelatih, namun juga harapan pembawa kebahagiaan bagi publik timnas negara yang dia latih.

Perjalanan timnas Paraguay menuju panggung dunia tak lepas dari sentuhan dingin sang pelatih, Gustavo Alfaro.

Datang di saat situasi sulit, Alfaro sukses mengubah arah perjalanan tim hingga kembali diperhitungkan di kancah internasional.

Pelatih Timnas Ekuador asal Argentina, Gustavo Alfaro saat memimpin sesi latihan tim di Essaimer SC di Doha pada 17 November 2022 menjelang Piala Dunia 2022.
PIMPIN SESI LATIHAN - Pelatih Timnas Ekuador asal Argentina, Gustavo Alfaro saat memimpin sesi latihan tim di Essaimer SC di Doha pada 17 November 2022 menjelang Piala Dunia 2022.  (Foto Arsip, November 2022)(RAÚL ARBOLEDA / AFP)

Alfaro resmi mengambil alih kursi pelatih pada Agustus 2024 dalam kondisi yang jauh dari ideal.

Paraguay kala itu hanya mampu mengoleksi lima poin dari enam pertandingan awal kualifikasi zona CONMEBOL, sebuah start yang membuat peluang lolos ke Piala Dunia 2026 sempat diragukan.

Namun sejak awal, pelatih asal Argentina itu sudah menegaskan visi besarnya.

Dalam konferensi pers perdananya, ia menekankan bahwa Paraguay harus menjadi tim yang tangguh, sulit dikalahkan, dan memiliki semangat juang tanpa kompromi.

Debut Alfaro di pinggir lapangan langsung memperlihatkan perubahan karakter tim.

Menghadapi Uruguay di Estadio Centenario, Montevideo, Paraguay mampu mencuri hasil imbang 0-0. Hasil tersebut menjadi fondasi penting bagi kebangkitan mereka.

Sepanjang sisa kualifikasi, Alfaro memimpin Paraguay dalam 12 pertandingan dengan performa yang konsisten.

Satu-satunya kekalahan tipis terjadi saat menghadapi Brasil di Sao Paulo dengan skor 0-1. Di luar itu, Paraguay menunjukkan daya saing yang solid hingga akhirnya memastikan tiket ke putaran final.

Baca juga: Profil Ronald Koeman, Nakhoda Belanda yang Dibebani Status Raja Tanpa Mahkota di Piala Dunia

Secara pengalaman, Alfaro memang bukan nama baru. Sejak memulai karier kepelatihan pada 1992, ia telah menangani belasan klub serta sempat dipercaya menukangi Ekuador dan Kosta Rika.

Rekam jejak tersebut menjadi modal penting dalam membangun kembali mental dan identitas permainan Paraguay.

Dalam waktu kurang dari satu tahun, perubahan signifikan berhasil diwujudkan.

Dari tim yang terseok di awal kualifikasi, Paraguay kini kembali membawa harapan baru bagi para pendukungnya. Di bawah komando Alfaro, La Albirroja tak lagi sekadar peserta, melainkan tim yang siap memberi kejutan di Piala Dunia 2026.

Pelukan dan Harapan Kebahagiaan

Ada cerita emosional yang dimiliki Gustavo Alfaro selama membesut timnas Paraguay.

Dalam sebuah aktivitas belanja di salah satu supermarket kawasan Asuncion, Paraguay, pelatih berusia 63 tahun ini mendapatkan pengalaman penuh emosi.

Lettuce, yang berarti selada sebagai julukan Gustavo Alfaro, tiba-tiba memperoleh pelukan dari pendukung timnas Paraguay yang berprofesi sebagai penjaga supermarket tersebut.

Dalam perkataannya, Gustavo Alfaro diharapkan bisa menjadi kebahagiaan bagi publik Paraguay dengan membawa timnasnya melaju sejauh mungkin di Piala Dunia 2026.

"Saya kesulitan memenuhi kebutuhan hidup,” katanya, dikutip dari laman resmi FIFA.

“Satu-satunya momen kebahagiaan saya adalah saat tim nasional bermain," ujar sang penjaga supermarket.

Tercatat dalam 8 partisipasi Paraguay sepanjang sejarah Piala Dunia, pencapaian terbaiknya tersaji di edisi 2010. Kala itu Paraguay melangkah sampai babak perempat final, sebelum disingkirkan Spanyol melalui gol David Villa.

Bak menjadi sebuah janji, Gustavo Alfaro di lain waktu menekankan bagaimana para pemainnya untuk tak minder dan berani bermimpi setinggi-tingginya pada event FIFA empat tahunan ini.

"Seperti yang saya katakan kepada para pemain, ketika seseorang berani bermimpi, maka langit adalah batasnya," kata Alfaro, dikutip dari laman ESPN Argentina.

"Tidak ada batas bawah maupun batas atas. Sebuah tim tidak akan berhenti jatuh sampai mereka sadar ada hal yang tidak dilakukan dengan benar. Namun di sisi lain, sebuah tim juga tidak akan berhenti berkembang,” ia menambahkan.

Pelatih berusia 63 tahun itu kemudian menjelaskan bahwa Paraguay memiliki identitas yang dibangun dari pengorbanan dan perjuangan panjang.

Menurutnya, sejarah bangsa Paraguay turut membentuk mentalitas para pemain di lapangan.

"Hak untuk bermimpi dimiliki oleh semua orang. Namun bagi kami semuanya selalu sulit dan akan terus sulit, karena itulah Paraguay," ujarnya. 

"Dari karakternya, Paraguay selalu identik dengan pengorbanan, perjuangan, ketertinggalan, dan usaha untuk bangkit dalam situasi yang tidak menguntungkan. Itu sudah menjadi bagian dari sejarah mereka,” Alfaro menuturkan.

Mantan pelatih timnas Ekuador tersebut juga berbicara realistis mengenai tantangan yang akan dihadapi Paraguay di Piala Dunia 2026 mendatang.

Ia menolak memberikan janji berlebihan soal pencapaian timnya, tetapi memastikan satu hal: Paraguay akan tampil dengan semangat juang maksimal.

“Bagi kami, siapa pun lawannya akan sulit. Sepak bola tidak menjual jaminan kesuksesan. Kami tidak bisa memastikan akan lolos jauh atau mencapai target tertentu. Satu-satunya hal yang bisa kami jamin adalah sikap dan semangat kami di lapangan. Kami akan bertarung habis-habisan,” kata Alfaro.

(Tribunnews.com/Giri)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.