MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Pemberdayaan lansia dan penyandang disabilitas menjadi fokus Tim Penggerak PKK Kota Makassar dalam mendorong terciptanya masyarakat yang lebih inklusif dan produktif.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan bertema “Keluarga Peduli, Masyarakat Inklusif, Lansia dan Disabilitas Lebih Produktif".
Agenda digelar di Auditorium Kantor PKK Makassar, Jl MH Thamrin, Makassar, Sulsel, Rabu (13/5/2026).
Kegiatan itu dibuka Ketua Tim Penggerak PKK Kota Makassar, Melinda Aksa.
Dihadiri Kepala DPPKB Kota Makassar Andi Irwan Bangsawan, pengurus Pokja I Tim Penggerak PKK Makassar, kelompok lansia, serta jajaran PKK kecamatan se-Kota Makassar.
Dalam kata sambutannya, Melinda menekankan pentingnya sinergi lintas sektor untuk memastikan lansia tetap memiliki ruang belajar dan berkegiatan.
Menurutnya, Tim Penggerak PKK dan DPPKB memiliki tujuan yang sama dalam menjalankan program pemberdayaan lansia di Kota Makassar.
“Kita ingin para lansia di Kota Makassar tetap merasa diperhatikan, tetap aktif, dan memiliki ruang untuk berkembang,” ujarnya.
Ia mengatakan lansia harus tetap diberi kesempatan untuk berkontribusi di tengah masyarakat.
“Mereka bukan kelompok yang dilupakan, tetapi bagian penting dari masyarakat yang harus terus diberdayakan,” kata Melinda
Melinda juga mengapresiasi peran para camat yang aktif mendorong pembentukan Sekolah Lansia di wilayah masing-masing.
Ia mencontohkan Sekolah Lansia Sipakalebbi di Kecamatan Manggala yang dinilai berhasil menghadirkan konsep belajar sepanjang hayat.
Menurutnya, sekolah tersebut menerapkan sistem pembelajaran berjenjang layaknya pendidikan formal mulai tingkat S1 hingga S3.
Konsep itu dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup lansia melalui aktivitas belajar yang berkelanjutan.
“Antusiasme pesertanya luar biasa. Banyak pensiunan yang tetap ingin aktif dan produktif,” katanya.
Melinda menambahkan, materi pembelajaran di Sekolah Lansia turut melibatkan tenaga ahli dari berbagai universitas dan instansi terkait.
Materi yang diberikan mencakup kesehatan, psikologis, sosial, hingga pemberdayaan diri.
Ia berharap program tersebut dapat membuat para lansia hidup lebih sehat, mandiri, dan bahagia.
Kepala DPPKB Kota Makassar mengatakan, Sekolah Lansia menjadi wadah pembelajaran sepanjang hayat bagi lanjut usia.
Menurutnya, keberadaan program itu penting agar lansia tetap sehat dan produktif.
“Kita ingin lansia di Kota Makassar tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi menjadi subjek yang aktif,” ujarnya.
Irwan juga menekankan pentingnya membangun lingkungan yang inklusif bagi penyandang disabilitas.
Ia mengatakan penyandang disabilitas harus mendapat ruang dan kesempatan yang sama untuk berkarya serta beraktivitas sosial.
Kegiatan tersebut turut menghadirkan narasumber dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Makassar, Hasnawati, serta Psikolog Klinis Puspaga Kota Makassar, Mursyidah Yusuf.
Hasnawati membawakan materi mengenai kebijakan dan penerapan tujuh dimensi lansia tangguh.
Sementara Mursyidah Yusuf membahas pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan inklusif bagi lansia dan penyandang disabilitas.
Ia juga menjelaskan tantangan psikologis yang dihadapi lansia serta pentingnya peran keluarga dalam menjaga kualitas hidup mereka.
Melalui kegiatan tersebut, TP PKK Kota Makassar berharap kesadaran masyarakat terhadap perlindungan dan pemberdayaan lansia serta penyandang disabilitas semakin meningkat.
Program itu juga diharapkan memperkuat budaya kepedulian dan inklusivitas di Kota Makassar.(*)