Hasil Final Coppa Italia: Inter Milan Sabet Double Winner Usai Bungkam Lazio
Briandena Silvania Sestiani May 14, 2026 05:10 AM

TRIBUNKALTIM.CO - Inter Milan keluar sebagai juara Coppa Italia musim 2025/2026.

Dalam partai final Coppa Italia yang digelar Kamis (14/5/2026) dini haru, Inter Milan menaklukkan Lazio dengan skor meyakinkan 2-0.

Kemenangan itu bukan sekadar menambah koleksi trofi bagi klub asal Kota Milan tersebut.

Inter Milan juga sukses menyempurnakan musim mereka dengan raihan gelar ganda atau double winners setelah sebelumnya memastikan Scudetto Serie A Italia.

Gol bunuh diri Adam Marusic pada menit ke-14 dan penyelesaian akhir Lautaro Martinez pada menit ke-35 menjadi pembeda dalam laga puncak yang berlangsung di hadapan puluhan ribu penonton di Stadion Olimpico.

Baca juga: Kondisi Skuad Lazio vs Inter Milan di Final Coppa Italia, Jam Tayang dan Prediksi Skor

Keberhasilan ini terasa semakin spesial bagi pelatih Cristian Chivu. Mantan bek Inter asal Rumania tersebut berhasil mempersembahkan dua gelar penting dalam musim penuh pertamanya bersama tim senior Nerazzurri.

Di sisi lain, kekalahan ini menjadi pukulan berat bagi Lazio yang datang ke final dengan harapan besar menyelamatkan musim mereka.

Tim berjuluk Biancocelesti—julukan yang berarti putih langit sesuai warna kebesaran klub—membutuhkan kemenangan untuk menjaga peluang tampil di Liga Europa musim depan.

Final yang Sarat Tekanan

Laga final Coppa Italia kali ini berlangsung dalam tensi tinggi sejak awal pertandingan.

Menariknya, kedua tim baru saja bertemu di Serie A Italia beberapa hari sebelumnya, di mana Inter juga menang meyakinkan dengan skor 3-0.

Namun situasi final tentu berbeda. Trofi menjadi taruhan utama, membuat duel berlangsung lebih ketat dan emosional.

Meski Stadion Olimpico secara teknis dianggap venue netral, Lazio sedikit diuntungkan karena bermain di kandang sendiri. Para pendukung Aquile—julukan Lazio yang berarti “elang”—bahkan kembali memenuhi tribun setelah sebelumnya melakukan aksi boikot.

Inter datang dengan sedikit masalah komposisi pemain. Gelandang andalan Hakan Calhanoglu absen, tetapi Marcus Thuram berhasil pulih dari masalah otot dan langsung dimainkan sebagai starter.

Sementara Lazio tidak diperkuat kiper utama Ivan Provedel yang masih cedera.

Danilo Cataldi serta Nicolo Rovella juga belum sepenuhnya fit. Meski demikian, Lazio mendapat suntikan kekuatan setelah Mattia Zaccagni dan Nuno Tavares kembali tersedia.

Pelatih Maurizio Sarri sendiri tidak mendampingi langsung tim di pinggir lapangan akibat menjalani hukuman larangan mendampingi tim. Sebagai gantinya, asisten pelatih Marco Ianni memimpin Lazio dari bangku cadangan.

Inter Langsung Menekan

Inter tampil agresif sejak peluit awal dibunyikan. Lautaro Martinez sempat mengancam lewat sundulan memanfaatkan umpan Nicolo Barella, walau bola masih melebar.

Gol pembuka akhirnya datang pada menit ke-14 melalui situasi yang tidak biasa.

Berawal dari sepak pojok Federico Dimarco, Marcus Thuram mencoba menyundul bola ke arah gawang. Namun bola justru mengenai Adam Marusic dan masuk ke gawang sendiri.

Gol bunuh diri itu membuat Inter unggul 1-0 sekaligus meningkatkan tekanan kepada Lazio.

Selepas gol pertama, Inter semakin percaya diri. Federico Dimarco berkali-kali merepotkan pertahanan Lazio lewat umpan silang akurat dari sisi kiri lapangan.

Denzel Dumfries juga tampil aktif membantu serangan. Salah satu peluang terbaik Inter hadir ketika tendangan voli Dumfries berhasil diblok setelah menerima umpan Dimarco.

Lautaro Martinez Gandakan Keunggulan

Tekanan Inter Milan kembali membuahkan hasil pada menit ke-35.

Kesalahan Nuno Tavares di area pertahanan berhasil dimanfaatkan Dumfries. Bek sayap asal Belanda itu merebut bola dan mengirim umpan matang kepada Lautaro Martinez.

Striker asal Argentina tersebut tanpa kesulitan menaklukkan kiper Edoardo Motta dari jarak dekat.

Gol itu membuat Inter unggul 2-0 sekaligus menempatkan Lazio dalam posisi sulit.

Lazio sebenarnya sempat mencoba bangkit. Piotr Zielinski bahkan memaksa Edoardo Motta melakukan penyelamatan penting lewat tendangan keras dari luar kotak penalti.

Di sisi lain, Gustav Isaksen nyaris memperkecil ketertinggalan setelah tendangannya berubah arah akibat membentur Alessandro Bastoni.

Lazio Mencoba Bangkit di Babak Kedua

Memasuki babak kedua, Lazio tampil lebih berani.

Toma Basic sempat meminta penalti setelah terjatuh saat berduel dengan Alessandro Bastoni. Namun wasit memutuskan permainan tetap dilanjutkan.

Tak lama berselang, Tijjani Noslin melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti yang masih tipis di sisi gawang Inter.

Meski terus ditekan, pertahanan Inter tampil disiplin. Federico Dimarco hampir kembali menciptakan assist spektakuler ketika mengirim bola melintasi muka gawang, tetapi Luis Henrique gagal mengonversinya menjadi gol.

Lazio memperoleh peluang emas lewat Boulaye Dia. Akan tetapi, Manuel Akanji melakukan intersepsi akrobatik yang menyelamatkan Inter dari kebobolan.

Beberapa menit kemudian, Dia kembali mendapat kesempatan setelah lolos dari jebakan offside memanfaatkan umpan lambung Manuel Lazzari. Namun kiper Josep Martinez bergerak cepat meninggalkan garis gawang untuk melakukan penyelamatan penting.

Inter Nyaris Tambah Gol

Menjelang laga usai, Inter sebenarnya memiliki peluang besar memperbesar skor menjadi 3-0.

Marcus Thuram kembali menjadi kreator serangan ketika umpannya mengarah kepada Piotr Zielinski di depan gawang kosong.

Namun gelandang asal Polandia itu gagal memanfaatkan kesempatan karena tembakannya melenceng.

Pertandingan sempat memanas setelah terjadi ketegangan antara Pedro dan Federico Dimarco. Meski begitu, situasi berhasil dikendalikan wasit.

Di menit-menit akhir, Josep Martinez kembali menunjukkan kualitasnya dengan menggagalkan sundulan Boulaye Dia.

Hingga peluit panjang berbunyi, skor 2-0 untuk kemenangan Inter tetap bertahan.

Inter Raih Gelar ke-10

Keberhasilan mengalahkan Lazio membuat Inter Milan resmi mengangkat trofi Coppa Italia untuk ke-10 kalinya sepanjang sejarah klub.

Gelar ini menjadi yang pertama sejak edisi 2022/2023 sekaligus mempertegas dominasi Nerazzurri dalam sepak bola Italia musim ini.

Sebelumnya Inter juga pernah menjadi juara pada musim 1938/1939 saat masih bernama Ambrosiana-Inter, lalu 1977/1978, 1981/1982, 2004/2005, 2005/2006, 2009/2010, 2010/2011, 2021/2022, dan 2022/2023.

Dengan tambahan trofi Coppa Italia musim ini, Inter dipastikan akan menggelar parade kemenangan besar di Kota Milan.

Bagi Cristian Chivu, capaian tersebut menjadi pencapaian penting dalam karier kepelatihannya. Setelah sukses membawa Inter meraih Scudetto, kini ia menambahkan Coppa Italia sebagai bukti keberhasilan proyek barunya bersama Nerazzurri.

Lazio Gagal Selamatkan Musim

Sementara itu, Lazio harus menerima kenyataan pahit gagal mengangkat trofi.

Kekalahan di final Coppa Italia membuat musim Biancocelesti terasa semakin berat. Selain gagal juara, mereka juga kehilangan kesempatan mengamankan tiket otomatis ke Liga Europa.

Padahal Lazio sempat menunjukkan perkembangan positif sepanjang perjalanan menuju final.

Namun pengalaman dan efektivitas Inter menjadi pembeda utama di pertandingan puncak.

Maurizio Sarri dipastikan menghadapi tekanan besar setelah gagal memberikan trofi kepada pendukung Lazio musim ini.

Daftar Juara Coppa Italia dari Masa ke Masa
Coppa Italia merupakan turnamen sepak bola tertua dan paling bergengsi di Italia setelah Serie A. Kompetisi ini pertama kali digelar pada 1922 dan telah melahirkan banyak juara legendaris.

Juventus masih menjadi klub tersukses sepanjang sejarah dengan koleksi gelar terbanyak. Sementara Inter kini semakin mendekati deretan elite berkat trofi ke-10 mereka musim ini.

Daftar Juara Coppa Italia dari Masa ke Masa

1922: Vado (Runner-up: Udinese)

1935-1936: Torino (Runner-up: Alessandria)

1936-1937: Genoa (Runner-up: Roma)

1937-1938: Juventus (Runner-up: Torino)

1938-1939: Ambrosiana-Inter (Runner-up: Novara)

1939-1940: Fiorentina (Runner-up: Genoa)

1940-1941: Venezia (Runner-up: Roma)

1941-1942: Juventus (Runner-up: Milan)

1942-1943: Torino (Runner-up: Venezia)

1958: Lazio (Runner-up: Fiorentina)

1958-1959: Juventus (Runner-up: Inter)

1959-1960: Juventus (Runner-up: Fiorentina)

1960-1961: Fiorentina (Runner-up: Lazio)

1961-1962: Napoli (Runner-up: S.P.A.L.)

1962-1963: Atalanta (Runner-up: Torino)

1963-1964: Roma (Runner-up: Torino)

1964-1965: Juventus (Runner-up: Inter)

1965-1966: Fiorentina (Runner-up: Catanzaro)

1966-1967: Milan (Runner-up: Padova)

1967-1968: Torino (Runner-up: Milan)

1968-1969: Roma (Runner-up: Cagliari)

1969-1970: Bologna (Runner-up: Torino)

1970-1971: Torino (Runner-up: Milan)

1971-1972: Milan (Runner-up: Napoli)

1972-1973: Milan (Runner-up: Juventus)

1973-1974: Bologna (Runner-up: Palermo)

1974-1975: Fiorentina (Runner-up: Milan)

1975-1976: Napoli (Runner-up: Verona)

1976-1977: Milan (Runner-up: Inter)

1977-1978: Inter (Runner-up: Napoli)

1978-1979: Juventus (Runner-up: Palermo)

1979-1980: Roma (Runner-up: Torino)

1980-1981: Roma (Runner-up: Torino)

1981-1982: Inter (Runner-up: Torino)

1982-1983: Juventus (Runner-up: Verona)

1983-1984: Roma (Runner-up: Verona)

1984-1985: Sampdoria (Runner-up: Milan)

1985-1986: Roma (Runner-up: Sampdoria)

1986-1987: Napoli (Runner-up: Atalanta)

1987-1988: Sampdoria (Runner-up: Torino)

1988-1989: Sampdoria (Runner-up: Napoli)

1989-1990: Juventus (Runner-up: Milan)

1990-1991: Roma (Runner-up: Sampdoria)

1991-1992: Parma (Runner-up: Juventus)

1992-1993: Torino (Runner-up: Roma)

1993-1994: Sampdoria (Runner-up: Ancona)

1994-1995: Juventus (Runner-up: Parma)

1995-1996: Fiorentina (Runner-up: Atalanta)

1996-1997: Vicenza (Runner-up: Napoli)

1997-1998: Lazio (Runner-up: Milan)

1998-1999: Parma (Runner-up: Fiorentina)

1999-2000: Lazio (Runner-up: Inter)

2000-2001: Fiorentina (Runner-up: Parma)

2001-2002: Parma (Runner-up: Juventus)

2002-2003: Milan (Runner-up: Roma)

2003-2004: Lazio (Runner-up: Juventus)

2004-2005: Inter (Runner-up: Roma)

2005-2006: Inter (Runner-up: Roma)

2006-2007: Roma (Runner-up: Inter)

2007-2008: Roma (Runner-up: Inter)

2008-2009: Lazio (Runner-up: Sampdoria)

2009-2010: Inter (Runner-up: Roma)

2010-2011: Inter (Runner-up: Palermo)

2011-2012: Napoli (Runner-up: Juventus)

2012-2013: Lazio (Runner-up: Roma)

2013-2014: Napoli (Runner-up: Fiorentina)

2014-2015: Juventus (Runner-up: Lazio)

2015-2016: Juventus (Runner-up: Milan)

2016-2017: Juventus (Runner-up: Lazio)

2017-2018: Juventus (Runner-up: Milan)

2018-2019: Lazio (Runner-up: Atalanta)

2019-2020: Napoli (Runner-up: Juventus)

2020-2021: Juventus (Runner-up: Atalanta)

2021-2022: Inter (Runner-up: Juventus)

2022-2023: Inter (Runner-up: Fiorentina)

2023-2024: Juventus (Runner-up: Atalanta)

2024-2025: Bologna (Runner-up: AC Milan)

2025-2026: Inter Milan (Runner-up: Lazio)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.